Oleh : Ni Wayan Ratnasih,S.Pd,M.Pd


Umat Hindu di Bali tidak terlepas dari berbagai ritual dengan aneka sarana upakara seperti banten (sejenis sesajen). Upakara atau bebanten ada berbagai macam bentuk dan jenisnya, seperti: canang, kewangen, daksina, pejati, suci, bebangkit, caru, pulegembal, catur, serta, aneka jenis sesayut. Satu sarana upakara yang penting dalam kegiatan masyarakat agama Hindu adalah Banten Pejati. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui bentuk, makna, dan fungsi banten pejati ditinjau dari Teologi Hindu. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka. Bentuk Banten Pejati pada dasarnya sama yang terdiri atas: sebuah daksina, peras, penyeneng, canang raka, dan canang sari. namun, elemen-elemen lain dapat ditambahkan sesuai dengan desa kala patra. Makna dan fungsi Banten Pejati adalah sebagai simbol menjalankan ritual dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, sehingga persembahan menjadi lebih bermakna. Banten Pejati bukan hanya sekadar sesajen, tetapi juga merupakan sarana spiritual yang mencerminkan ketulusan hati, keseimbangan kehidupan, serta bentuk penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Secara Teologi Hindu wujud Banten Pejati adalah satu contoh pemahaman Tuhan, yakni mengenal Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam bentuk sifat-sifat dan hakekat Beliau yang disimbolisasikan dalam sarana Banten Pejati.
Upakara di Bali memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali. Upakara dan upacara menjadi bagian kehidupan yang tidak terpisahkan dalam kegiatan sehari-hari karena upakara sebagai bentuk komunikasi spiritual, ungkapan rasa syukur, serta menjaga keseimbangan alam dan kehidupan. Upakara dapat sebagai sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Upakara atau banten adalah wujud bhakti dan rasa terima kasih umat Hindu kepada Tuhan. Dalam ajaran Hindu Bali, persembahan dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi Tuhan, leluhur, dan bhuta kala yang ada di alam semesta.
Membuat upakara juga bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam dan kehidupan (Tri Hita Karana). Upakara merupakan implementasi dari konsep Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), serta manusia dengan lingkungan (Palemahan). Melalui upakara, keseimbangan energi spiritual dalam kehidupan dapat tetap terjaga. Sarana upakara juga digunakan sebagai sarana penyucian diri (melukat) dan kehidupan spiritual. Dalam ajaran Hindu Bali, terdapat berbagai upakara yang berfungsi untuk penyucian diri, seperti melukat (pembersihan diri dari pengaruh negatif), mapepada (ritual penyucian hewan sebelum dikorbankan), serta metatah (potong gigi) yang melambangkan pengendalian sifat buruk dalam diri manusia.
Satu sarana upakara yang penting dalam kegiatan masyarakat agama Hindu adalah Banten Pejati. Banten Pejati merupakan satu jenis sesajen dalam tradisi agama Hindu di Bali yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan spiritual masyarakat. Sebagai bagian dari upacara keagamaan, Banten Pejati tidak hanya berfungsi sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga sebagai simbol ketulusan dan kesucian hati dalam setiap ritual yang dilakukan. Banten Pejati memiliki struktur dan komponen yang khas, yang masing-masing mengandung filosofi tersendiri. Unsur-unsur dalam Banten Pejati mencerminkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan dalam konsep Tri Hita Karana. Filosofi ini mengajarkan manusia untuk senantiasa menjaga keharmonisan dengan sesama, lingkungan, dan Sang Pencipta. Upakara seperti Banten Pejati misalnya; kelihatanya sangat sering dipergunakan baik sebagai awal, puncak, maupun akhir dari pelaksanaan suatu upacara. Banten Pejati merupakan sekelompok banten, yang masing-masing mempunyai makna dan maksud tertentu, apalagi setelah digabung atau dikelompokkan menjadi satu. Banten dipergunakan sebagai sarana untuk menyampaikan rasa sujud bhakti dan juga untuk memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa /manifestasi-Nya.
Terbitan Kalvatar Tastra Aksara


Tinggalkan komentar