Om Waisnawa puja awitram, kaliyuga yudha laksanam, kalki awatara hring pranayam, samastha pujam amritam

Salam samastha raya,

1.Ketidak-sadaran Kolektif Hero (Tuhan yang Menjelma)

Sesungguhnya ketika dipahami lebih mendalam, bahwa semesta ini memiliki bahasa tersendiri yang bisa menunjukkan sesuatu yang sama, dalam definisi yang berbeda. Simbolisme semesta itu dikatakan sebagai arketipe-arketipe yang hidup sepanjang masa dan hadir di berbagai tempat berbeda, dengan bahasa yang berbeda, namun bisa menunjukkan hal yang kurang lebih bermakna sama.

Arketipe sendiri menurut Mercia Elliade dan Carl Jung tersebar dalam berbagai kondisi wilayah, keyakinan, tradisi, serta yang berhubungan dengan kebersadaran atas Sang Divinitas tertinggi. Sebagai contoh tentang konsep kesuburan Yoni, dengan Ibu pertiwi, Amaterasu, Dewi Kwan Im, Dewi Uma, Pradana, dan lain-lainnya. Sebagaimana juga dengan alam bawah sadar manusia yang membahasakan konsepsi yang sama di berbagai belahan dunia.

Kemudian pada alam bawah sadar kolektif manusia yang sepertinya perlu pemantik untuk menyadariNya, adalah berisikan berbagai arketipe-arketipe yang tertanam dalam konsepsi yang relatif sama. Bahwa ada suatu keyakinan pada arketipe Hero IA sang maha kuasa akan hadir kembali ke dunia. Itu tersadarkan atau tidak, menjadi bagian penting sisi psikologis manusia yang secara terus-menerus larut pada keyakinan keagamaannya. Ketika terpahami dengan suatu ruang moralitas dan etika yang terealisasikan dalam keduniawian, hal itu menjadi tidak terbantahkan. Jadi ada suatu keyakinan kolektif, kemudian ada kekuatan ritual yang terjalani, serta ada implementasi moralitas dalam kehidupan untuk menjaga keberyakinanNya. Namun yang perlu disadari, Tuhan pun bisa jadi tetap hadir dalam ruang realita (baca:tidak mistis dan klenik), untuk merambah berbagai arketipe hero yang ada.

Teori tentang ketidak-sadaran yang kolektif dari Jung tentang arketipe hero, tidak serta merta juga memberikan pemaknaan bahwa Tuhan hadir sedemikian rupa menjadi suatu sosok dalam maujud seorang manusia. Namun ketika memahami bahwa Tuhan kemudian hadir dalam kebersadaran yang sampai pada citraNya di kemudian hari, tentunya IA akan menjadi sang diri yang mengetahui. Diri yang menubuatkan tentang hidup adalah untuk mencapai suatu kebersadaran yang penuh (baca:keterpenuhan ala carl gustav jung) (baca : aktualisasi diri -maslow) yang bersandar pada ranah filsafat (hakikat), etika (susila), dan ritual dari berbagai keyakinan yang ada.

Pada ranah Kehinduan pada dasarnya ada suatu ruang untuk mencapai suatu keterlepasan, yaitu menuju kebersadaran yang lebih tinggi, kebersadaran tentang Hyang Tinggi penguasa semesta. Salah satu yang praktis adalah dengan melaksanakan Sad Yoga Darsana, sampai pada tahap samadhi. Di sisi lain pada perspektif Psikologi Hindu, ada suatu kebersadaran yang tersampaikan ketika mendapatkan sedikit makna dari sang ananda maya kosha. Untuk itulah paling tidak bisa tersampaikan konektifitas pada Wijnana maya kosha (kebersadaran atas kebijaksanaanNya).

Kemudian secara tersirat pada ranah lainnya, di Islam tentang bagaimana seseorang mampu mencapai Nafs Khamilah, atau juga penjadi pelayan Kristus di sisi nasrani, menciptakan dunia kasih pada kehidupan. Dan juga keyakinan lainnya. Hal ini sepertinya sesuai sebagaimana frase “ketika tidak bersaudara pada keyakinan, maka bersaudara kita pada kemanusiaan”. Bahwa seluruh manusia hendaknya bisa mengimplementasikan sisi kemanusiaannya, kesusilaannya pada ruang kehidupan.

Seperti juga suatu kisah atau suatu ruang kerinduan di mana dunia tempat kita hidup (bhur loka) menjadi tempat surga dunia yang terciptakan kebahagiaan seperti ananda maya kosha, cerminan surga. Itu bisa sebagai ruang utopia saja, namun suatu arketipe kolektif di dalam alam bawah sadar manusia, sekiranya bisa digali dengan berbagai konsep keyakinan yang ada. Dan secara garis besar bisa terkonsepsikan dalam ruang kesadaran kolektif yang “berbenang merah” satu sama lainnya.

2. Tuhan yang Menjelma dalam Berbagai Keyakinan

Pada dasarnya dalam berbagai konsep agama yang dengan kitab-kitab sucinya, sepertinya (dan ajaibnya) memberikan berbagai petunjuk-petunjuk tentang suatu risalah kehadiranNya kembali. Dalam hal ini dapat tersiratkan misalnya pada konsep Samawi, Islam menyebutkan hadirnya Imam Al Mahdi ; yang pada hari dituliskan tulisan ini, bisa jadi sedang mulai tersadarkan.

Konsep alam bawah sadar manusia yang hadir juga lewat simbolisme mimpi, memberikan makna arketipe yang benar memiliki arti yang sesuai. Seperti makna air 🌊 (cups) dalam mimpi, atau air bah, tsunami yang menandakan gejolak emosi. Atau api 🔥(wands) yang melambangkan semangat juga ambisi, seperti mimpi terbakar dan tersulut api. Bisa juga bermipi dengan pedang ⚔️ yang menandakan pikiran dengan berbagai kondisinya, atau benda-benda tajam tertentu. Serta pentacles 🌟 yang menandakan kerja keras juga pengharapan hasil diri. Arketipe itu merupakan simbol bahasa semesta juga.

Seperti dalam konsep keyakinan, di mana sesuai dengan kondisi pembahasaan batin di setiap sudut dunia, maka secara garis besar sangat layaklah suatu keyakinan yang berbeda, memiliki merujuk pada satu konsepsi yang beresensi sama rasa. Seperti pada konsep sedulur papat, kanda pat, yang dalam bahasa keyakinan tertentu, dapat mengiringi esensi atas Sang Divinitas itu sendiri.

Anggapati, Mrajapati, Banaspati, Banaspati Raja, kemudian menuju Citta, Buddhi, Manas, Ahamkara, memiliki suatu sinergisitas terhadap pemaknaan Kejawen yang Santri. Disebut itu Nafs Amarrah, Nafs Lawanmah, Nafs As sufiyah, Nafs Mutmainah. Dan ketika dalam bahasa Local Genious Hindu Bali merujuk pada Ratu Ngurah Tangkeb Langit, Ratu Wayan Tebeng, Ratu Made Jelawung, Ratu Nyoman Sakti Pangandangan, dan kelak menuju Kanda Pat Dewa Iswara, Brahma, Mahadewa, Hyang Wisnu, Bhatara Shiwa di tengah. Kemudian dalam ajaran Samawi diketemukan tentang Malaikat yang membawa ArsyNya disebut Michael,Raphael, Uriel, Gabriel sebagai pembahasaan yang berbeda. Hal ini merupakan konsepsi saja tentang EsensiNya dalam ruang bahasa yang berbeda.

Dan secara mendalam lagi bisa diketemukan juga tentang pemaknaan Sapta Cakra Utama dengan apa yang disebut Ten Sephiroth dari ruang Mistic Kabbalah Jews. Secara garis besar keduanya itu adalah tentang bagaimana Sang Divinitas membagi bahasa energi tubuh ke dalam suatu kebijaksanaan tersendiri, yang secara garis besarnya itu memiliki suatu bahasa yang relatif sama. Ini adalah suatu bagian pembelajaran atas tubuh itu sendiri, baik bagi ruang psikologis, atau fisik yang kelak dapat bermanfaat menuju suatu sinergitas atas Energi Semesta dan Energi Jiwa di dalam diri.

Buddha Maitreya yang ditunggu dengan senyumNya adalah bisa jadi tentang bagaimana manusia hadir dengan berbagai kemanusiaannya, sehingga tiada terbersitkan hal-hal yang menciptakan karma buruk. Senyum tentang semesta raya yang berjalan sesuai the religion of kindness.

Pada islam dan kristen juga yahudi ada suatu ikatan batin serta perjalanan keyakinan di kehidupan. Sedikit berbeda dalam cara memahami Sang Pencipta, dengan berbagai tata cara atau hari raya, namun ditarik pada kebijaksaan, kebaikan, berkemanusiaan sepertinya menjadi benang merahnya untuk menciptakan kedamaian di dunia ini. Serta dalam keislaman disebutkan bahwa Nabi Isa (Kristus) akan hadir kembali pada akhir jaman di suatu tempat suci di Damaskus untuk menghancurkan kaum iblis (orang-orang jahat).

Ini juga seiring dengan dalam ramalannya, bahwa imam al mahdi hadir juga di waktu itu untuk bersama-sama menghancurkan kaum-kaum jahat. Imam al mahdi adalah suatu kecirianNya dalam konsep Islam, di mana terdapat khasanah Rasul yang menjadi pemimpin untuk menyelamatkan umat manusia tersebut.

Pada Kehinduan disebutkan bahwa kehadiran yang ditunggu dari Kalki Awatara sebagai awatara Wisnu dengan menggunakan wahana kuda putih dan membawa pedang serta menghancurkan orang-orang durjana.Di mana kesemuanya itu memiliki simbolisme tersendiri yang memberikan pemaknaan yang lebih mendalam. Itu bisa disimak pada link di bawah :

Kalki Awatara Sebuah Konsep Ke-Dharma-an

Ada suatu keterhubungan di mana setiap keyakinan memiliki suatu konsep bahwa IA akan hadir kembali untuk menjawab kerinduan bagi umatNya. Tentu saja mengenai kapan, di mana dan bagaimana, itu tentunya sebagai suatu misteri semesta raya. Namun tentu saja konsep ini akan selalu hidup sebagaimana agama disebutkan memiliki seribu nyawa (atau lebih) untuk tetap terkoneksi pada Sang Pencipta.

Pada citra di Indonesia (nusantara) sebagai kearifan lokal yang mengakar, ada suatu konsep bernama Sabdo Palon Noyo Genggong, atau kehadiran Ratu Adil, dan Satrio Pinandito. Ini pun dapat dikatakan sebagai suatu penjagaan alam bawah sadar kolektif tentang bahwa dunia akan menuju keberpositifan ke depannya. Tentunya ini sebagai ruang kritis terhadap hal-hal buruk atau kedurjanaan yang mungkin bisa ditekan di masa mendatang.

3. Konsep Tuhan yang Menjelma.

Bagaimana Tuhan menjelma dan suatu prosesNya, tentunya itu menjadi hal yang perlu ditelaah dari dalam. Bisa jadi Tuhan menjelma menjadi satu-satuNya ; yang sepertinya akan mendapatkan tantangan dari kepercayan dan keyakinan atas jaman itu sendiri; atau para umatnya yang menuju pada proses melebur pada kepribadian Tuhan tersebut. Pada akhirnya ini pun menjadi penjelmaan sang arketipe hero itu sendiri, yang notabene “menjadi” Tuhan. Namun ini sendiri akan mendapatkan suatu sikap kritis atas ketidakberdayaan sang manusia itu sendiri.

Hindu mengajarkan tentang moksah suatu pembebasan dan menyatu dengan Tuhan dalam empat konsep. Salokya, Samipya Sarupya, dan Sayujya artinya adalah satu wilayah denganNya, dekat denganNya, serupa denganNya, menjadi IA sepenuhnya. Ketika disimak juga pada konsep dharma, bahwa lingkungan kebajikan hadir pada manusia dalam bentuk pengaplikasian sang dharma. Dan ketika itu terciptakan setiap saat, akan menuju pada kebersadaran ananda maya kosha. Bisa jadi bahwa hidup dalam lingkup penuh dharma, duduk bersama orang-orang dengan kebajikan, menjadi serupa seperti yang bijak, dan menjadi Sang Dharmika. Namun perlu digarisbawahi adalah ketika jumawa pada keberhasilan kebaikan pun ia jatuh kembali pada jurang sapta timira.

Pada konsep keyakinan lain, di Islam misalkan dan masuk pada ruang kejawen, ada istilah tentang Mahrifat atau anna al haq tentunya ini sangat licin dan begitu banyak persyaratan, sekaligus memahami tentang haqiqatNya, dan juga menuansakan rahmatan lil alamin menjadi rahmat semesta kepada siapa pun tanpa terkecuali. Dikatakan bahwa imam al mahdi pun menjadi manusia yang mampu mencapai nafs khamilah, membumikan shiratol mustaqim, menuju abdi Asma Ul Husna dalam lingkup DzatNya dengan berbagai syariat, tarekatNya juga.

Tentu untuk kitab-kitab suci lain seperti bible atau quran berisikan berbagai kisah dan anjuran-anjuran serta larangan-larangan spesifik yang menjadi kepribadian umatnya, tetap menjadi arahan perjalanan suci menuju kebersadaranNya. Untuk mencapai pengampunan sang juru selamat, tentunya ada berbagai arahan dan syarat-syarat terkait, yang ketika dilihat dari keyakinan dirinya dan yang  berbeda (baca : semesta) tersimpulkan bahwa karakter itu adalah pencipta kebaikan, kebijaksanaan, kebajikan, kebenaranNya menjadi nyata di dunia ini. Dan pada ruang kemanusiaan itu menjadi manusia semakin dekat pada karakterNya yang diimpikan.

Terlepas dari kerinduan yang mengalir pada kisah kehadiranNya, tentunya perlu dijabarkan bahwa IA telah hadir pada arketipe hero sang diri. Arketipe Tuhan yang menjadi Pribadi sang Diri, yang bersedia “terbuka” menjadi dirinya yang mengikuti “perjalanan” sucinya pada lingkup berbagai keyakinan. Dan bisa jadi ketika IA hadir dengan nyata, tentunya kita telah siap pada karakterNya bahwa IA adalah diri kita jua yang siap diungkapkan.

Ada suatu frase yang dapat diungkap,

Ritual (sujud) yang terbaik adalah yang menyerap sesiapa yang ia ritual(sujud)kan, dan ada beribu banyak lebih jalan menuju puncak gunung tertinggi (kesadaranNya) yang mana pun sama menuju tempatNya, dan yang terpenting adalah yang terus tekun berjalan, dan yang paling sia-sia adalah berkeliling mengelilingi gunung dan menyatakan jalan (yang berjalan) sebagai kesalahan”.. Weda

Swaha shanti rahayu

Gus Lingga
Kalvatar Tastra Aksara

Wa 081999013570

Tarot dalam Ten Sephiroth serta Sapta Cakra..


Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengelola Web Kalvatar Tastra Aksara

Ida Bagus Lingga Wardana, S.E, M.Sos., CH.,CHt., CFHPSy

Lulusan Pasca Sarjana S2 ilmu Agama dan Kebudayaan Unhi, saat ini sedang mengemban pendidikan S3 untuk Ilmu Agama dan Kebudayaan di Unhi

Merupakan Founder dari Penerbit Kalvatar Tastra Aksara, Penerbit buku-buku religi dan spiritualitas.

Serta membuka Konsultasi Psikologi Tarot Reading Kanda Pat Suksma Kalvatar Bali. Dengan Nomor Ijin Praktek,

STPT 570/STPT/0022/IX/DPM-PMTSP 2023

Alamat Jalan Tukad Balian 70x Sidakarya (Sebelah Kedai Magisa)

Kalvatar Tastra Aksara

Jl. Tukad Yeh Aya ruko No.70x blok A2, Panjer, Kec. Denpasar Bar., Kota Denpasar, Bali 80224

https://maps.app.goo.gl/GBnJXoDBh7UMLBRs6

Related posts

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>

Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca