RSS

Arsip Bulanan: Januari 2012

Mengendalikan Sad Ripu dengan Sarasamuscaya

Mengendalikan Sad Ripu dengan Sarasamuscaya

Pada kalangan Hindu dari dulu sampai saat ini, maka pada kehidupannya kita dihadapkan pada musuh besar yang tak akan lekang oleh jaman. Musuh besar yang selalu mengintip dan menerjang di saat kita lengah akan menjalani kehidupan ini. Musuh yang selalu ada dalam setiap jejak kita melangkah dalam kehidupan ini.

Musuh itu adalah Sad Ripu, yaitu enam musuh yang dapat menelanjangi kita untuk jatuh ke lembah kekotoran dan neraka. Terbagi menjadi enam bagian yaitu antara lain Kama, Lobha, Krodha, Mada, Moha, Matsarya. Keenam penggoda yang senantiasa jadi bagian sisi hitam kegelapan manusia dari dulu hingga sekarang.

Mengendalikan sifat-sifat dari Sad Ripu adalah hal mutlak yang patut kita lakukan. Banyaklah kita diberikan pencerahan baik dari orang tua, guru, penglingsir, lingkungan yang baik, serta pula dari guru kerohanian agar terhindar dari sad ripu ini. Dan secara simbolis bahwa ada upacara metatah atau potong gigi yang dapat pula sebagai upacara yang berkaitan dengan pengurangan sad ripu tersebut.

Namun di samping itu pula, jangan pernah lupakan weda sebagai kitab suci yang sungguh-sungguh nyata mengandung bahasan-bahasan suci yang banyak pula berisikan suruhan atau himbauan dalam hal pengendalian sad ripu di atas. Salah satunya adalah kitab Sarasamuscaya.

Sarasamuscaya adalah Sari pati dari Asta Dasa Parwa yang disarikan oleh Bhagawan Wararuci. Asta Dasa Parwa tersebut adalah delapan belas Parwa yang membangun kitab Mahabaratha karya Bhagawan Byasa. Sarasamuscaya adalah weda smreti, dan berisikan tuntunan-tuntunan bagi umat Hindu agar berperilaku dan bersikap baik berdasarkan dharma serta menghindari adharma sebagai musuh mereka.

Pengendalian Sad Ripu sebagai musuh utama umat, maka alangkah baiknya jika kita bisa menelaah bagaimana sad ripu bisa dikendalikan dengan membaca, menelaah serta mempraktekkan apa-apa yang terdapat pada Sarasamuscaya di dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu sekalian.

Di sini akan dibicarakan bagaimana sloka-sloka Sarasmuscaya sangat pas digunakan sebagai pedoman dalam menghindari enam musuh umat tersebut.

  1. A.    Kama

Kama disebut juga hawa nafsu. Hawa nafsu yang dapat menjerumuskan manusia ke arah yang buruk jika dilakukan secara berlebihan. Sekehendaknyalah bila umat bisa mengekang hawa nafsu mereka menuju kebaikan dari dharma itu sendiri. Seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 46

Mritye janmanor’thaya jayante maranaya ca, na dharmatam na karmatham trnaniva prthagjanah.

 

Apan purih nikang prthagjana, tan dharma, tan kama, kasiddha denya, nghing matya donyan ahurip, doning patiya, nghing hanma muwah, ika tang prthagjana mangkana kramanya, tan hana patinya ide nika, taha pih, tan hana pahinya lawan dukut, ring kapwa pati doning janmanya, janma doning patinya.

 

Sebab peri keadaan orang kebanyakan (orang yang belum mencapai tingkat filsafat) ia tidak mengerti akan hakikat dharma, dan juga tidak tahu bagaimana cara mengendalikan nafsu; yang dapat dicapainya hanyalah untuk mati tujuan mereka hidup, maksud matinya adalah hanya untuk lahir lagi; orang kebanyakan demikian keadaannyaitu, bukan mati yang dipikirkannya, cobalah pikirkan, kehidupan serupa itu tiada bedanya dengan rumput yang mati untuk tumbuh kembali, dan tumbuhnya hanya untuk menunggu matinya.

 

Jadi orang-orang yang belum bisa mengendalikan nafsunya, hidupnya menjadi tidak berguna, hanyalah untuk menunggu mati saja. Seperti rumput yang tumbuh hanya hidup untuk menuju kematiannya sendiri. Agar paling tidak menjadi manusia yang memiliki kegunaan, salah satu cara adalah dengan mengendalikan nafsu tersebut. Bukan sebagai manusia yang hanya menunggu mati saja.

 

Menahan nafsu itu pula disebutkan sebagai pengekangan pikiran. Karena nafsu berasal dari pikiran itu sendiri. Seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 80

Mano hi mulam sarvesamindrayanam pravartate, subhasubhasvavashtasu karyam tat suvyavasthitam.

Apan ikang manah ngaranya, ya ika witning indriya, maprawrtti ta ya ring subhasubhakarma, matangnyan ikang manah juga prihen kahrtanya sakareng.

 

Sebab yang disebut pikiran itu, adalah sumbernya nafsu, ialah yang menggerakkan perbuatan yang baik atau pun buruk; oleh karena itu, pikirkanlah yang segera patut diusahakan pengekangannya/ pengendaliannya.

 

Jadi pikiran itu digerakkan oleh nafsu, maka jika dalam berpikiran disediakanlah ruang untuk bagaimana mengekangnya. Itulah hakikat pengekangan nafsu tersebut yang menggerakkan pikiran itu sendiri.

Lain hal dengan kesabaran, bahwa kesabaran adalah bagaimana orang bisa mengendalikan hawa nafsunya. Yang menjadi kekayaan utama menuju kemuliaan. Seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 93

Natah srimattara kincidanyat pathyatara tatha prabhavisnorytha tata ksama sarvatra sarpvada.

Sangksepanya, ksama ikang paramarthaning pinakadrbya, pinaka mas manic nika sang wenang lumage saktining indriya, noralumewihana halepnya; anghing ya wekasning pathya, pathya ngaraning pathadnapetah, tan panasar sangke marga yukti, manggeh sadhana asing parana, tan apilih ring kala.

 

Kesimpulannya kesabaran hati itulah yang merupakan kekayaan yang utama; itu adalah sebagai emas dan permata orang yang mampu memerangi kekuatan hawa nafsunya, yang tidak ada melebihi kemuliannya. Akan tetapi ia juga pada puncaknya pathya; pathya disebut patadanapeta, yang tidak sasar, sesat dari jalan yang benar, melainkan tetap selalu merupakan pedoman untuk mencapai setiao apa yang akan ditempuh sepanjang waktu.

 

Jadi mereka adalah orang yang tidak akan tersesat pada suatu jalan kebenaran, bagi mereka-mereka yang mampu mengendalikan nafsunya. Mereka adalah manusia mulia yang memiliki harta berharga yaitu kesabaran hati.

 

  1. B.    Lobha

Lobha artinya kerakusan. Artinya suatu sifat yang selalu menginginkan lebih melebihi kapasitas yang dimilikinya. Untuk mendapatkan kenikmatan dunia dengan merasa selalu kekurangan, walaupun ia sudah mendapatnya secara cukup. Seperti misal lobha dalam mendapatkan harta seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 267.

Jatasya hi kule mukhye paravittesu grhdyatah lobhasca prajnamahanti prajna hanta hasa sriyam.

Yadyapin kulaja ikang wwang, yan engine ring pradryabaharana, hilang kaprajnan ika dening kalobhanya, hilangning kaprajnanya, ya ta humilangken srinya, halep nya salwirning wibhawanya

 

Biar pun orang berketurunan mulia, jika berkeinginan merampas kepunyaan orang lain; maka hilanglah kearifannya karena kelobhaanya; apabila telah hilang kearifannya itu itulah yang menghilangkan kemuliaannya dan seluruh kemegahannya.

 

Ini disebutkan orang yang terlalu rakus dan loba akan kepemilikan orang lain, maka ia akan kehilangan kemuliannya dimulai dari kehilangan kearifannya, karena ia sudah berlaku buruk. Jadi rugi akan segala yang telah ia punya akibat kelobaannya itu.

Apalagi jika rakus sampai menyerobot kekayaan orang lain. Kemiskinan dan hasil buruk di kehidupan yang akan datang akan jadi balasannya. Seperti tercantum dalam:

Sarasamuscaya 360

Musnam daridratyabhihanyate ghnan pujyunamasampujya bhavatyapujyah, yat karmavijam vapate manusyah tasyanurupani phalani bhumkte.

Ikang akelit ring paradrwya nguni ring purwajanma, daridra janma nika ring dlaha, ikang amati nguni pinatyan ika dlaha, sangksepanya, salwining karma wija inipuk nguni, ya ika kabhukti phalanya dlaha.

 

Yang menyerobot kepunyaan orang lain waktu hidupnya dulu, dilahirkan menjadi orang miskin di kemudian hari ; yang membunuh pada waktu hidupnya dulu akan dibunuh dalam hidupnya kemudian; singkatnya, semua benih perbuatan yang ditabur dan dibiakkan dulu, buahnya itulah yang dinikmati kemudian.

 

Hal tersebut adalah hukum kamarphala. Maka dihindarilah sebaiknya loba atau rakus akan hak milik orang lain yang mengakibatkan buah hasil perbuatan menjadi buruk di kemudian hari.

Loba dalam sarasamuscaya disebutkan juga sebagai penyebab dari kebodohan. Kebodohan yang juga akan membawa manusia ke jurang kesengsaraan tanpa batas dan tiada bisa mengartikan dan membedakan antara baik dan buruk itu sendiri. Slokanya adalah :

Sarasamuscaya 400

Ajnaphrabhavarin hidam yadduhkhamupalabhyate lobhadeva tadajnanamajnanallobha eva ca

Apan ikang sukhadukha kabhukti, punggung sankanika, ikang punggung, kalobhan sangkanika, ikang kalobhan, punggung sangkanika, matangyan punggung sangkaning sangsara

 

Sebab suka duka yang dialami, pangkalnya adalah kebodohan; kebodohan yang ditimbulkan oleh loba, sedang loka (keinginan hati) itu kebodohan asalnya; oleh karena itu kebodohanlah asal mula kesengsaraan itu.

 

Jadi kesengsaraan adalah berasal dari kebodohan yang pangkalnya ditimbulkan dari sifat loba itu sendiri. Sehingga kesengsaraan akan muncul dengan sendirinya bagi manusia yang tanpa bisa mengurangi sifat loba itu sendiri.

 

 

  1. C.    Krodha

Krodha berarti sifat kemarahan. Jika berlebihan akan membawa manusia ke jurang kehancuran. Pengendalian sifat-sifat marah tentu saja akan lebih menyejukkan hati manusia dalam menjalani berbagai jalan kehidupan. Musuh akan bisa dikurangi dengan tidak melanjutkan amarah secara membabi buta, seperti terlihat pada sloka berikut :

 

Sarasamuscaya 96

Na catravah ksayam yanti yavajjivamapi ghnatah, krodham niyantum yo veda tasya dvesta na vidyate

Katuhwan, apan yadyapi wenanga ikang wwang ri musuhnya, ta kawadhan patyana satrunya, asing kakrodhanya, sadawani huripnya tah yang tutakena gelengnya tuwi, yaya juga tan hentya ni musuh nika, kuneng prasiddha ning tan pamusuh, sang wenang humrt krodhnira juga.

 

Sebenarnya, meskipun orang itu selalu jaya terhadap seterunya, serta tak terbilang jumlah musuh yang dibunuhnya, asal yang dibencinya musnah, maka selama hidupnya pun, jika ia hanya menuruti kemarahan hatinya belaka, tentu saja tidak akan habis-habisnya musuhnya itu. Akan tetapi yang benar-benar tidak mempunyai musuh, adalah orang yang berhasil mengekang kemarahan hatinya.

 

Begitulah bagaimana jika manusia tidak mampu mengekang amarahnya, maka musuh-musuhnya tidak akan pernah habis. Tidak akan pernah ada kedamaian dalam dirinya. Maka kedamaian akan hadir pada mereka yang mampu mengekang nafsu amarahnya.

Seperti pula hal tersebut tercantum dalam sloka berikut :

 

Sarasamuscaya 98

Atmopamastu bhutesu yo bhavediha purusah. Tyaktadando jitakrodhah sa pretya sukhamdhate.

Apayapan ikang wwang upasama, tan pahi lawanawaknya ta pwa ikang sarwabhawa lingya, arah harimbawa, tatan pangdanda, tan katanam krodha, ya ika wyaktining sarwasukha, apan mangken temung sukha, ring paraloka sukha tah tinemunya.

Karena orang yang berhati sabar, berpendapat sekalian mahluk hidup itu tiada beda dengan dirinya sendiri; “ah, janganlah mementingkan diri sendiri, jangan memukul jangan marah ‘ orang yang dapat melaksanakan itu, itulah merupakan sumber atau asal mula kesenangan dan kepuasan hati, sebab sekarang ia mendapatkan kebahagiaan pun di dunia lain diperolehnya pula.

 

Seperti itulah manusia jika dengan sabar mampu menahan amarahnya. Ia bahagia baik di mana pun juga, apakah itu di dunia ini atau pun nanti di dunia yang lain. Yaitu pada saat setelah ia mati nantinya.

Manusia itu dikatakan utama, jika ia mampu melaksanakan pengekangan terhadap amarahnya. Manusia utama yang melebihi manusia lainnya walaupun ia tidak lebih kaya dari manusia itu. Seperti juga terlihat pada :

 

Sarasamuscaya 101

Akrodhanah krodhanebhyo visistastatha titiksuratitiksorvistatah, amanusebhyo manusasca pradhana vidvamstathaivavidusah pradhanah

Sangksepanya, lwih ikang wwang mangawasakena krodha; sangke kinawasakening krodha, monpakalwih juga anugrahana wiryadi tuwi, mangkana ikang kelan, lwih ika sangkeng tan kelan, yadyapin mangkana kalwihnya, mangkana manusajanma, lwih jugeka sangkeng tan manusa, mon lwih ring bhogopabhogadi, mangkana sang pandita, lwih sira sangkeng tapandita, yadyapin samrddhya ring dhanadhanyadi

 

Kesimpulannya, sangat lebih utama orang yang berhasil menguasai kemarahan daripada orang yang dikuasai kemarahan, meskipun orang kedua itu lebih kaya, lebih berkuasa dan lain-lain orang yang tahan sabar adalah ia jauh lebih baik dari pada yang tidak tahan sabar, walaupun bagaimana besar kekuasaannya, demikian pula penjelmaan menjadi manusia adalah juga lebih utama dari pada penjelmaan sebagai mahluk lain dari manusia, kendati berkelebihan pada bidang pelbagai kenikmatan dan lain-lainnya; demikian pula sang pandita, lebih utama dari orang yang bukan pandita, biarpun berlimpah-limpah harta kekayaannya, dan lain-lainnya.

 

Jadi diibaratkan bahwa mereka yang mampu menahan amarahnya adalah seperti manusia jika dibandingkan mereka yang tidak, yang diibaratkan seperti bukan manusia. Dan yang mengekang amarahnya diibarakan seperti pandita jika dibandingkan bagi mereka yang bukan, walaupun harta berlimpah. Karena pandita adalah mulia sebenarnya.

 

  1. D.    Moha

Moha berarti pula bingung. Bingung yang tiada mampu membedakan mana arti benar dan salah. Seperti orang bodoh yang tidak tahu mana jalan yang mengandung kebenaran. Tujuan utama agama akan menghantar pada yang baik yaitu surga. Orang bingung akan mengira kebenaran itu sebagai kebenaran yang lain. Seperti pada sloka berikut:

 

Sarasamuscaya 35

Ekam yadi bhavecchastram sreyo nissamcayam bhavet’ bahutvadiha sastranam guham creyah pravesitam.

Yan tunggala keta Sang Hyang Agama, tan sangcaya ngwang irikang sinanggah hayu, swargapawargaphala, akweh mara sira, kapwa dudu paksanira sowing-sowang-hetuning wulangun, tan anggah ring anggehakena, hana ring guhagahwara, sira sang hyang hayu.

 

Sesungguhnya hanya satu tujuan agama, mestinya tidak sangsi orang yang disebut kebenaran, yang dapat membawa ke surga atau moksa, semua menuju kepadanya, akan tetapi masing-masing berbeda caranya, disebabkan oleh kebingungan, sehingga yang tidak benar dibenarkan; ada yang menyangka,bahwa di dalam gua yang besarolah tempatnya kebenaran itu.

 

Jadi orang yang kebingungan akan menyangka bahwa kebenaran itu dianggap bukan kebenaran. Seperti juga ada yang menganggap kebenaran terdapat di dalam gua. Dengan mengetahui tujuan agama, maka kebingungan seperti itu tidak terjadi lagi.

Pikiran yang sangsi serta bingung, akan membawa kemeralatan di dunia. Hal itu hendaknya dikendalikan. Pengendalian pikiran sebagai hal yang utama agar tidak sangsi untuk mencapai kebahagiaan. Hal tersebut dapat dilihat pada:

 

Sarasamuscaya 81

Duragam bahudhagami prathanasamssayatmakam manah suniyatama yasya sa sukhi pretya veha ca.

Nihan ta kramaningkang manah, bhranta lungha swabhawanya, akweh inangenangenya, dadi prathana, dadi sangsaya, pinakawaknya, hana pwa wwang’ikang wenang humrt manah, sira tika manggeh amanggih sukha, mangke ring paraloka waneh.

 

Keadaan pikiran itu demikianlah; tidak berketentuan jalannya, banyak yang dicita-citakan, terkadang berkeinginan, terkadang penuh kesangsian; demikianlah kenyataannya; jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu beroleh kebahagiaan, baik sekarang maupun di dunia yang lain.

 

Jadi kebingungan dan keinginan berlebih akan hilang. Yaitu dengan mengendalikan pikiran sedemikian rupa sehingga nantinya akan tercapai kebahagiaan di dunia mana pun. Seperti juga dijelaskan bahwa manusia yang tidak goyah hatinya akan memperoleh amerta sebagai kemuliaan. Hal tersebut tercantum dalam sloka berikut :

Sarasamuscaya 128

Amrtam caiva mrtyucca dvayam dehe prastititam, mrtyurapadyate mohat satyenapaddyate’mrtam

Tan madoh marikang wisa, mwang amrta, ngke ring carira kahananya, kramanya, yan apunggung ikang wwang jenek ring adharma, wisa katemu denya, yapwan ateguh ring kastyan, mapageh ring dharma, katemung amrta.

 

Tak berjauhan bisa (racun) itu dengan amrta; di sinilah, di badan sendirilah tempatnya; keterangannya jika orang itu bodoh atau senang kepada adharma, bisa atau racun didapat olehnya; sebaliknya kokoh berpegang pada kebenaran, tidak goyah hatinya bersandar pada dharma, maka amrtalah diperolehnya.

 

Jadi dengan tidak bingung dan selalu berpegang kepada ajaran dharma, maka manusia akan mendapatkan amerta yaitu kebahagaiaan dan kemuliaan di kehidupan ini.

 

  1. E.    Mada

Mada berarti suatu kemabukan. Kemabukan yang membawa manusia pada kebingungan. Dan akhirnya dihadapkan pada perbuatan buruk yang akan mengarahkan ia pada neraka serta kemelaratan hidup. Hal ini terkadang dapat ditimbulkan oleh salah pergaulan, bergaul dengan orang-orang yang melakukan perbuatan papa. Seperti disebutkan dalam sloka ini:

Sarasamuscaya 322

Brahmaghna ca sarape ca core bhagnavrate sate, niskrtivihita sabdih jrtahgne nasty niskrtih.

Brahmagnha ngaraning mamati brahmana, humilangaken sang hyang brahma mantra kunang, tan yatna ri sira, surapa ngaraning manginum madya, an pakabrata tan panginum madya, cora kunang, bhgnabrata ngaraning manglebur brata, atyanta gongning ngaraning manglebur brata, atyanta gongning papanika kabeh, tathapin mangkana hana pamrayascitta irika, kunang papaning krtaghna, tan patambanika, tan kawenang pinrayacitta.

 

Brhmaghna artinya membunuh brahmana dan menghilangkan brahma mantra, tidakmengindahkan Beliau, surapa artinya meminum minuman keras; orang yang menjalankan brata tidak dibenarkan meminum minuman keras; tidak boleh mencuri; bhgnabrata namanya jika melebur (membatalkan)brata; keliwat besar dosanya; namun dmikian masih ada penebusnya; akan tetapi dosa krtaghna (tak tahu berterima kasih ) tak ada obatnya, tak ditebus.

 

Jadi dosa besar jika manusia membatalkan bratanya dan meneguk minuman keras. Brata itu menghantarkan manusia sebenarnya kepada surga yang akan diraihnya nanti. Seperti juga yang terdapat pada sloka ini :

Sarasamuscaya 325

Samklistakarmanamatipramadam bhuyo nrtam cadr dabhaktikam ca, vicitaragam bahumayinam na ca naitan niseveta naradhaman sat.

Nihan lwirning tan sangsargan, wwang mangulahaken pisakit, parapida duracara, wwang gong pramada, wwang mithyawada, wwang tan apangeh kabhatinya, wwang gong raga, wwang sakta ring madya, nahan tang nem kanistanin wwang, tan yogya siwin.

 

Inilah misalnya orang yang tidak patut dijadikan kawan bergaul, orang yang mengusahakan penyakit dan kesedihan kepada orang lain, serta buruk laku, orang yang sangat alpa, orang yang kata-katanya bohong dusta, orang yang terikat hatinya kepada minuman keras, keenam orang yang sangat keji itulah, yang patut dihindarkan.

 

Selain mabuk minum-minuman keras, disebutkan juga tidak baik menjadi orang yang mabuk kebangsawanan, mabuk kerupawanan, dan mabuk kepintaran. Sesungguhnya itu menimbulkan ketidaktenangan hati di dunia. Seperti pada sloka berikut:

Sarasamuscaya 337

Vidyamado dhanamadasttrtiyo’ bhijanairmadah, mada hyete valiptanameta eva satam damah.

Nihan sangskepaning mangdadyaken mada ring durjana widya, dhana, abhijana, widya ngaran sang hyang aji, widyamada ngaraning wero kapuhara denira, dhana ngaraning masmanik, salwirning wibhawa, dhanamada ngaranikang mada kawangun denya, abhijana ngaraning kawwangan abhijanamada ngaraningkang wero kapuhara denya, nahan tawakning mangddyaken mada ring durjana, kunang ri sangn sajjana, mangddyaken kopasaman ika.

 

Inilah secara singkat hal-hal yang menimbulkan kesombongan pada si durjana; widya, dhana, abhijana, widya artinya ilmu pengetahuan, widyamada artinya rasa bangga yang diakibatka ilmu pengetahuan; dhana adalah kekayaan emas dan permata, segala rupa kekayaan; dhanamada disebut kesombongan yang ditimbulan oleh kekayaan itu; abhijana artinya keturunan yang mulia; abhijanama artinya mabuk akan bangsawan; itulah bentuk-bentuk yang menimbulkan rasa angkuh pada si durjana; sebaliknya sang sajan bentuk-bentuk itu menyebabkan timbulnya ketenangan hati.

 

 

 

  1. F.     Matsarya

Matsarya disebut juga iri hati. Manusia yang memiliki sifat seperti ini, dalam Sarasamuscaya adalah manusia yang tidak mengalami kebahagiaan abadi dan menimbulkan hanya kesengsaraan dalam kehidupannya. Seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 88

Abhidhyaluh parasvesu neha namutra nandati, tasmadabhidhya santyajya sarvadabipsata sukham.

Hana ta mangke kramanya, engin ring drbyaning len, madengki ing suhkanya, ikang wwang mangkana, yatika pisaningun, temwang sukha mangke, ring paraloka tuwi, matangnyan aryakena ika, sang mahyun langgeng anemwang sukha.

 

Adalah orang yang tabiatnya menginginkan atau menghendaki milik orang lain, menaruh dengki iri hati akan kebahagiannya; orang yang demikian tabiatnya, sekali-kali tidak akan mendapat kebahagiaan di dunia ini, ataupun di dunia yang lain; oleh karena itu patut ditinggalkan tabiat itu oleh orang yang ingin mengalami kebahagiaan abadi.

 

Jadi iri hati hanya menghasilkan ketidaktenangan dalam hidup. Yang harus manusia lakukan agar terhindar dari iri hati dapat dilihat pada sloka berikut.

Sarasamuscaya 89

Sada samahitam citta naro bhutesu dharayet, nabhidhyayenne sphrayennabaddham cintayedasat

Nyanyeki kadeyakenaning wwang ikag buddhi masih ring sawaprani, yatika pagehankena, haywa ta humayamakam ikang wastu tan hana, wastu tan yukti kuneng, haywa ika inangenangen.

 

Nah inilah yang hendaknya orang perbuat, perasaan hati cinta kasih kepada segala mahluk hendaklah tetap dikuatkan, janganlah menaruh dengki iri hati, janganlah menginginkan dan jangan merindukan sesuatu yang tidak ada, ataupun sesuatu yang tidak halal; janganlah hal itu dipikir-pikirkan.

 

Kesengsaraan juga menjadi akibat yang ditimbulkan iri hati kepada sesama. Hal tersebut ada pada sloka berikut :

Sarasamuscaya 91

Yasyerya paravittesu rupe virye kulavaye, sukhasaubhagyasatkare tasya vyadhiranatagah

Ikang wwang irsya ri padanya janma tumon masnya, rupanya, wiryanya, kasujanmanya, sukhanya kasubhaganya, kalemanya, ya ta amuhara irsya iriya, ikang wwang mangkana kramanya, yatika prasiddhaning sanngsara ngaranya, karaket laranya tan patamban.

 

Orang yang irihati kepada sesanya manusia, jika melihat emasnya, wajahnya, kelahirannya yang utama, kesenangannya, keberuntungannya dan keadaannya yang terpuji; jika hal itu menyebabkan timbulnya iri hati pada dirinya; maka orang demikian keadaannya itulah sungguh-sungguh sengsara namanya, terlekati kedukaan hatinya yang tak terobati

 

Jadi jika ingin di dunia berbahagia, maka manusia hendaknyalah menghindari sifat iri hati ini. Karena iri hati hanya akan menimbulkan kesengsaraan semata bagi siapa-siapa yang terjangkiti olehnya.

 

Daftar pustaka

http://www.hukumhindu.com/2011/06/sadripu

http://www.babadbali.com/canangsari/pa-sad-ripu.html

Kadjeng, I Nyoman dkk. 1997. Sarasamuscaya dengan teks Bahasa Sansekerta dan Jawa Kuna. Paramita Surabaya.

 

 

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada 29 Januari 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , ,

Bagaimana Keyakinan Karmaphala mempengaruhi Moral

Seperti telah diketahui bahwa ada 5 keyakinan mendasar dari suatu kepercayaan agama hindu. Yaitu salah satunya adalah keyakinan karmapahala yang berati suatu sebab pasti akan menuai akibatnya dikemudian waktu atau kehidupan.

Kebesaran pengaruh dari suatu keyakinan akan karmaphala sesungguhnya masiv atau sangat besar mempengaruhi suatu moralitas dari seseorang. Dan keyakinan ini selain dimiliki oleh umat dharma, telah juga dimiliki secara moral oleh umat non dharma. Apakah yang menjadi titik kebesaran dari pengaruh keyakinan ini terhadap moralitas manusia??

Pada dasarnya manusia sejak ia dilahirkan di dunia, telah diperlihatkan suatu kehidupan yang terdiri dari sisi gelap dan sisi terang seperti dualitas rwa bhineda. Tidak ada jahat jika tidak ada yang disebut baik. Tidak ada buruk jika yang bagus tidak ada di sisi lainnya. Dan moralitas sebagai suatu hal yang abstrak namun menjadi pedoman dari berbagai sudut dunia adalah berdiri di sisi positif dari rwa bhineda itu. Sisi yang memang menjadi suatu yang menimbulkan pedoman atau etika baik dalam berperilaku (kayika), berbicara (wacika), dan bahkan berpikir (manacika). Sesungguhnya kebaikan menjadi suatu sisi ideal dari keseluruhannya. Dan bagaimanakah suatu kebaikan menjadi sesuatu yang abadi? maka karmapala menjadi jaminan energi positif itu selalu ada sampai akhir jaman.

Karmaphala pun dapat menjadi suatu yang lebih besar dari apa2 yang disebut mereka cerita surga neraka di alam sana. Mengapa? karena karmaphala juga akan terjadi di kehidupan dunia dan bahkan menyebrang ke surga neraka sampai ke kehidupan akan datang (samsara). Konsep surga neraka adalah bagian dari karmapala itu sendiri. Dan bagi mereka yang takut akan kehidupan nyata yang benar-benar terbukti terjadi adalah suatu keotomatisan konsep karmaphala menjadi bagian mereka. Jadi alam nyata adalah teryakini akan baik jika mereka melakukan sesuatu agar mendapat suatu yang positif(baik).

sarasamuscaya 21..

kunang ikang wwang gumawayikang subhakarma, janmanyan sangke rig swarga delaha, litu hayu maguna, sujanma, sugih, amwiirya, phalaning subhakarmawasana tinemuya…maka orang yang melakukan perbuatan baik kelahirannya dari sorga kelak akan menjadi orang yang rupawan,gunawan,muliawan, hartawan, dan berkekuasaan; buah hasil perbuatan yang baik didapat olehnya..

Dari sloka di atas kehidupan nyata seorang setelah lahir kembali atas karmaphalanya yag terdahulu akan mendapatkan ia kehidupan nyata yang baik seperti pula ia mendapat surga. Di jaman sekarang ini pada dasarnya takdir manusia diakibatkan oleh pula karma mereka terdahulu pula. Semakin baik ia berbuat baik, semakin besar juga pahala yang didapat dalam kehidupan seterusnya dan pula mencapai surga. SUatu kenikmatan yang berlipat ganda.

Karmaphala jelas menjadi konsep yang menjadikan kemuliaan kehidupan yang menuju suatu keindahan nantinya. Walaupun dengan konsep yang mungkin dianggap mustahil dan mistik dari kelahiran kembali yang abstrak oleh sebagian orang. Kalau moralitas ditunjang dengan dan dibentuk oleh konsep itu, maka tanpa disadari kehidupan ke depannya akan lebih baik jika secara keseluruhan memiliki moral yang tekun menghayati keindahan sirkulitas karmaphala.

Secara gampangnya adalah jika kebaikan dilakukan banyak orang, maka kebaikanlah yang akan didapat. Dan tidak ada kejahatan yang akan membuat dunia menjadi lebih punya makna ke dalam perjalanan menuju masa depan. Berbuat baik menjadi dan mendapatkan baik, walaupun mungkin ada yang berbuat tidak baik -tapi kesemuan akan hasil yang baik- itu pastilah teryakini akan berhasil buruk nantinya.

Konsep keyakinan akan karmapala pada akhirnya akan membuat perilaku yang berbeda pula pada seseorang. Tentu saja perbuatan baik yang mencintai hasil yang baik akan mendorong manusia berperilaku baik pula. Itulah yang membuat bagaimana hebatnya keyakinan karmaphala akan berpengaruh secara signifikan terhadap moralitas seseorang.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Januari 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , , , ,

Pantheisme dalam Teologi Hindu

1. Latar Belakang

            Cara memahami bagaimana Tuhan itu, sangatlah memiliki kesubjektifan tersediri antara masing-masing penganut suatu agama. Seperti dalam analoginya bagaimana mengenal Tuhan yang diistilahkan sebagai seekor gajah yang diteliti oleh tiga orang buta. Setiap orang buta tersebut memeriksa bagian ekor, bagian telinga, serta pula bagian kakinya. Hal tersebut akan juga menimbulkan pemahaman yang berbeda pada akhirnya bagaimana mendeskripsikan Tuhan tersebut.

Seperti pula ketiga orang buta tersebut, yang menemukan persepsi Tuhan secara berbeda dengan hasil yang berbeda pula, maka konsep tentang ketuhanan memiliki beberapa hasil pemahaman yang berbeda. Di antaranya adalah paham monotheisme, politheisme, pantheisme, atau atheisme. Paham-paham itu ada yang bertahan atau mengalami perubahan serta mulai berkembang sebagai studi ilmu pengetahuan dan pemahaman spiritual yang sesuai dengan pemahaman jaman dewasa ini.

Ketika melihat bahwa perkembangan jaman di masa sekarang, maka telah sampailah manusia pada suatu masa yang perlu ditelaah lagi bagaimana penerapan konsep ketuhanan dalam agama masing-masing. Berdasarkan sejarah telah banyak terlihat bagaimana pemahaman yang ada (monotheisme), memiliki sejarah kelam dalam penerapan serta penyeberannya. Dapat dilihat bagaimana agama abrahamik (yahudi, islam, Kristen) yang menaruh atau meletakkan Tuhan di atas alam semesta dan memusatkan diri Tuhan sebagai Pencipta yang tunggal, yang berada di luar universum. Keterbatasan ini dapat menimbulkan alam menjadi suatu ajang penguasaan dan kehilangan kesuciannya.

Toynbee mengatakan, pemujaan terhadap Tuhan antropomorfik (monotheisme) menyebabkan konflik dan perang. Pemujaan terhadap Tuhan monotheistik membuat para pemeluknya masing-masing bermusuhan karena agama ini adalah ekpresi dari sifat mementingkan diri sendiri; dan karena ego kolektif lebih berbahaya sebagai objek pemujaan dari pada ego individual.

Pada salah satu sejarah antara peperangan agama abrahamik, disebutkan bahwa kepercayaan tunggal yang tiada terjamah dan suci di luar alam, yang tidak dapat disanggah kesuciannya dan keagungannya, mengakibatkan jaman menjadi penuh darah serta ketidakadilan. Dapat dilihat bagaimana Tuhan langit (sky god) yang sangat pencemburu tidak menginginkan umatnya untuk bisa menganggap adanya Tuhan lain yang menyamai Tuhannya. Bahkan tanpa mau peduli menghancurkan berhala-berhala yang dianggap suci dan menyatakan itu sebagai bukan hal yang saleh dan benar sesuai Tuhan mereka.

Pada dewasa ini, kejadian perang agama telah sampai pada tahap yang mengguncang dunia. Seperti pula yang terjadi pada peledakan gedung WTC di amerika. Hal tersebut telah menjadi satu peperangan terhadap apa-apa yang disebut terorisme itu sendiri. Seperti juga yang terjadi di Indonesia. Terjadi pengeboman malam natal pada tahun 2000 dan juga peristiwa bom Bali yang membuat pemerintah menyadari bahwa teroris sudah ada di tengah kita.

Jadi apa yang menjadi suatu kekurangan di sana adalah bahwa monotheisme menunjukkan satu ihwal Tuhan yang tidak bisa digugat atau dijamah kesucian serta apa-apa yang diturunkan oleh Tuhan tersebut. Memandang hal tersebut maka hendaknya sebagai umat yang bangsa yang menyondongkan diri atas sifat-sifat toleransi, alangkah baiknya jika paham-paham Ketuhanan lain bisa disebutkan sebagai suatu pelengkap atas apa yang telah ada. Seperti suatu paham yang disebut Pantheisme.

Hindu sebagai sebuah agama memiliki suatu pemahaman monotheisme. Hal itu tercantum juga dalam istilah hindu yang melihat Tuhan sebagai Brahman yang tiada duanya. Istilah seperti “Ekam eva adityam brahman”, “Ekam sat wiprah bahuda wadanti”, serta “eko narayano na dwityo asti kascit”, adalah bentuk pemahaman Hindu yang menunjukkan bahwa Tuhan atau Brahman sebagai bentuk yang satu dan tertinggi. Tetapi tidak tertutup kemungkinan akan bahwa terdapat pemahaman Hindu tentang konsep keTuhanan dari sudut pandang lainnya. Seperti pula pemahaman ketuhanan berdasarkan konsep pantheisme.

Keberagaman pemahaman keTuhanan dalam Hindu bukanlah suatu permasalahan. Seperti yang disebutkan oleh R.C.Zaehner bahwa dalam agama Hindu tidak terdapat suatu pengekangan, dan oleh karenanya, Hinduisme seperti mengajar kita dalam tradisi tunggalnya, bahwa banyak ragam mistisisme yang dapat kita kumpulkan dari penampakan-penampakan yang harus diinterpretasikan melawan teologi dogmatis yang terberi. Pengalaman mistik yang beragam itu tentunya diinterpretasikan secara beragam, begitu juga tradisi Hindu itu sendiri.

Pantheisme adalah suatu paham yang menyebutkan semua adalah Tuhan dan Tuhan adalah semua. Jadi pantheisme menyebutkan bagaimana kita bisa sejajar dan sejalan dengan alam sekitar serta bagaimana mahluk-mahluk dari ciptaanNya. Karena di sana pun ada Tuhan. Di dalam Hindu hal ini berhubungan dengan filsafat Wyapi Wyapaka, Tat Twam Asi, atau pun Aham Brahman Asmi.

Pantheisme sebagai istilah sebenarnya diperkenalkan oleh penulis Inggris John Toland pada tahun 1705. Sedangkan istilah panenteisme pertama kali diperkenalkan pada tahun 1874, yang berasal dari kata-kata Yunani pan-en-theos, artinya “Semua dalam Tuhan”. Tuhan masih dipandang sebagai pencipta yang maha kuasa dan hakim personal, tetapi dia tidak lagi secara keseluruhan terpisah dari ciptaannya. Bagian dari dirinya mengatasi ruang dan waktu, jadi dia lebih besar dari Alam Semesta dan mendahuluinya. Tapi pada saat yang sama ia hadir dalam seluruh semesta, dalam setiap atom dan setiap mahluk hidup. (Putra Ngakan,2008,69)

Dari latar belakang di atas maka dapat disebutkan beberapa rumusan masalah, yaitu. Bagaimana konsep pemahaman pantheisme dalam hindu, bagaimana implementasi pemahaman pantheisme tersebut serta bagaimana manfaat dari pemahaman pantheisme tersebut.

2. Keberadaan Pantheisme dalam Teologi Hindu.

            Panteisme atau pantheisme (Yunani: πάν ( ‘pan’ ) = semua dan θεός ( ‘theos’ ) = Tuhan) secara harafiah artinya adalah “Tuhan adalah Semuanya” dan “Semua adalah Tuhan”. Ini merupakan sebuah pendapat bahwa segala barang merupakan Tuhan abstrak imanen yang mencakup semuanya; atau bahwa Alam Semesta, atau alam, dan Tuhan adalah sama. Definisi yang lebih mendetail cenderung menekankan gagasan bahwa hukum alam, Keadaan, dan Alam Semesta (jumlah total dari semuanya adalah dan akan selalu) diwakili atau dipersonifikasikan dalam prinsip teologis ‘Tuhan’ atau ‘Dewa’ yang abstrak.(wikipedia).

Di dalam filsafat Ketuhanan, pandangan tentang Tuhan Yang Maha Esa dapat dijumpai beraneka ragam, sebagai berikut :

  1. Animisme : Keyakinan akan adanya roh bahwa segala sesuatu di alam semesta ini didiami dan dikuasai oleh roh yang berbeda-beda pula.
  2. Dinamisme : Keyakinan tterhadap adanya kekuatan-kekuatan alam
  3. Totemisme : Keyakinan akan adanya binatang keramat, yang sangat dihormati.
  4. Polytheisme : keyakinan terhadap adanya banyak Tuhan.
  5. Natural Polytheisme : keyakinan terhadap adanya banyak Tuhan sebagai penguasa berbagai aspek alam.
  6. Henotheisme : Keyakinan terhadap adanya dewa tertinggi pada suatu masa akan digantikan oleh dewa yang lain.
  7. Pantheisme : Keyakinan bahwa di mana-mana serba Tuhan atau setiap aspek alam digambarkan dikuasai oleh Tuhan.
  8. Monotheisme : Keyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa (Tuhan yang satu).
  9. Monisme : Keyakinan terhadap Keesaan Tuhan yang Maha Esa merupakan hakekat alam semesta.(Titib, 2003, 31).

Jadi dijelaskan di atas bagaimana penjelasan atas paham ketuhanan pantheisme. Menurut Loeis Leahy, SJ, (Ngakan Putu, 2008, 69) menyebutkan ada lima sumber pantheisme, tetapi dikutip dua saja karena mewakili yaitu :

  1. Tiap keragaman (multiplisitas ) sejatinya nampak sebagai sama sekali tidak dipahami, oleh karena itu tidak bersifat nyata. Roh mencari kesatuan, dan tidak menemukan ketenangan sebelum ia berhasil menundukkan keragaman itu ke dalam kesatuan. Bukan saja filasafat menyatakannya; kegiatan ilmiah pun menyatakannya. Parmenides berpandapat : Agar dua mahluk (“ada”) bisa betul-betul secara memadai berbeda, mereka haruslah berbeda satu sama lain dari pihak “ada”nya sendiri. Tetapi itu mustahil, sebab “ada” (being) tidak dapat dibedakan, baik oleh dirinya sendiri, sebab yang sama tidak dapat membedakan diri dengan hal yang sama. “Ada” adalah kesatuan hal-hal; maupun oleh hal lain, sebab di luar “ada” tidak ada sesuatu pun. Jadi haruslah pada hakekatnya hanya “ada”yang sama dalam segala hal.
  2. Ketidak-terbatasan Tuhan. Bila Tuhan tidak terbatas ia mencakup semuanya di dalam dirinya, sehingga tidak ada satu aspek pun dan satu modus “ada” pun yang tidak terdapat di dalamNya. Bila demikian itulah halnya, bagaimana Ia bisa berbeda dari hal-hal lain secara radikal? Bila Tuhan adalah Ada yang Menyeluruh, tidak mungkin ada sesuatu di luar Dia. Bila sesuatu ada sesungguhnya di luar Dia, berarti Dia terbatas karenanya. Maka haruslah disimpulkan bahwa Tuhan tidak secara nyata dan radikal berbeda dari hal-hal yang lain.

Pantheisme; berasal dari kata “pan” yang berarti semuanya dan “theo” yang berarti “Tuhan”; adalah keyakinan agama atau teori filsafat bahwa Tuhan dan alam identik (secara implisit menolak monotheisme satu Tuhan berpribadi dan menjauhkan diri dari ciptaan); doktrin bahwa Tuhan adalah segalanya dan segalanya adalah Tuhan. Atau doktrin bahwa alam semesta dipandang secara satu keseluruhan adalah Tuhan dan, atau, sebaliknya, bahwa tidak ada Tuhan kecuali substansi, kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum yang dikombinasikan yang dimanifestasikan di dalam semesta yang ada.(Ngakan putu, 2008, 65).

Pengertian ketuhanan dalam hindu adalah bagaimana cara hindu memandang wujud Tuhan itu sendiri. Maka keberadaan Tuhan atau Brahman dalam agama Hindu adalah yang berwujud dan yang tidak berwujud. Tuhan dalam agama Hindu terutama di Bali disebutkan sebagai Sang Hyang Widhi yang berarti Sang Pencipta atau penguasa hukum dan pengendali (Titib, 14, 2003). Timbul pertanyaan apakah brahma atau siva sama dengan sang hyang widhi? Pertanyaan tersebut dapat dijawab melalui sloka ini :

 

Indram mitram varunam agnim ahur

Atho divyah sa suparno garutman

Ekam sadvipra bahudavadhanty

Agnim yamam matarisvanam ahuh (Reg weda I.164.46)

“Mereka yang menyebut-Nya dengan Indra, mitra, varuna, dan agni, Ia yang bersayap keemasan Garuda, Ia adalah Esa, para maharsi (viprah) memberinya banyak nama, mereka menyebut Indra, Yama, Matarisvan.

Jadi dengan itu bisa dikatakan bahwa Tuhan itu esa dan orang bijak menyebutNya dengan banyak nama yang indah. Tuhan yang mencipta alam semesta itu tidak berwujud (impersonal god). Namun pada saat Sang Hyang Widhi menerima persembahan, maka Ia berwujud sebagai personifikasiNya. Brahma, Wisnu, Siwa sebagai suatu kesatuan Tri Murti yang diwujudkan dalam alam pikiran.

Dalam agama lainnya ada arah perkembangan antara bahwa proses agama itu adalah dari politheisme, monotheisme, dan menuju pantheisme. Lalu kembali lagi menjadi politheisme seperti sejarah-sejarah dari agamab dapat dilihat sebagai berikut:

Tuhan agama Yahudi disebut Yahweh. Pada mulanya Yahweh adalah ajudan dewa perang yang sangat buas. Yahweh bukanlah dewa asli orang Yahudi. Ia berasal dari suku bangsa Midian dan oleh Moses dimasukkan dalam jajaran dewa-dewa orang Yahudi. Hampir lima abad lamanya Yahweh hanya mendapat kedudukan yang tidak penting. Selama lima abad itu Yahweh pernah digabung atau dikawinkan dengan dewa atau dewi Yahudi yang lain. Setelah bergulat selama lima ratus tahun, akhirnya Yahweh dapat mengalahkan dewa-dewa lain dan menjadi Dewa Tertinggi atau Tuhan satu-satunya.

Dari hanya ajudan dewa perang menjadi Tuhan satu-satunya, Yahweh telah melakukan perjuangan keras. Artinya para pengikut Yahweh telah melakukan pengucilan, pengusiran dan pembunuhan terhadap pengikut-pengikut dewa-dewa Yahudi lainnya. Dan pembakaran terhadap kuil-kuil dewa-dewa lainnya. Monotheisme Yahudi memang ditegakkan melalui jalan berdarah. Sekalipun agama Yahudi telah menetapkan Yahweh sebagai satu-satunya Tuhan, tapi Torah, kitab suci mereka masih mempercayai banyak dewa.

Agama Kristen pada mulanya hanyalah satu sekte kecil dari agama Yahudi. Yesus Kristus, pendiri agama Kristen pada mulanya adalah seorang guru agama yang mengajar secara berkeliling sambil memberikan pengobatan kepada orang-orang Yahudi. Karena Yesus banyak mengeritik praktek-praktek agama Yahudi pada jamannya, maka para pemuka Yahudi bekerjasama dengan penguasa Romawi yang menjajah negeri Israel, bersekongkol untuk menghukum mati Yesus dikayu salib. Ajaran-ajaran Yesus dianggap bida’ah, atau sesat.

Berkat kegigihan para murid Yesus, sekte kecil yang bergerak secara tersembunyi ini kemudian berkembang menjasi agama tersendiri, yaitu agama Kristen. Para pemeluk agama baru ini enggan mengakui Yahweh sebagai Tuhan mereka. Mereka menetapkan konsep ketuhanannya sendiri, yang disebut Trinitas, yaitu Roh Kudus, Tuhan Bapa dan Tuhan Anak yaitu Yesus. Penetapan konsep Trinitas ini dilakukan dalam beberapa kali musyawarah antara para pemuka gereja yang berbeda pendapat. Setelah melalui proses panjang, hampir 450 tahun, konsep Trinitas ini disepakati

Setelah berabad-abad lamanya orang Yahudi menganut monotheisme (mengakui Yahweh sebagai satu-satunya Tuhan), dan hampir 200 tahun setelah agama Kristen mantap dengan konsep Trinitasnya, bangsa Arab masih menyembah banyak dewa. Di antara dewa-dewa Arab itu yang banyak dipuja adalah Al-Lah, dewa kemakmuran, disebut juga dewa air karena dipercaya memberi hujan dan air bagi bagi orang-orang Arab. Dewa-dewa Arab yang lain adalah Al-Rahman (pengasih), Al-Rahim (selamanya pengasih), Al Malik (raja), Dewi-dewi Arab adalah Anat, Maniat dan Ujja. Mereka bertiga adalah putri Al-Lah. ***)

Pada abad 6 M, Mohammad – menurut keyakinan Islam, karena perintah Allah – mengajak orang-orang Arab hanya menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Tapi ajakan ini tidak diterima oleh mayoritas orang Arab, terutama suku Quraish. Setelah melalui perjuangan keras, antara lain dengan konflik- konflik bersenjata antara pengikut dan penentang Mohammad, akhirnya pengikut Mohammad menang. Dan Allah diakui sebagai satu-satunya Tuhan oleh seluruh bangsa Arab. Demikianlah dari jasirah Arab ini agama Islam berkembang. Dan Islam menganut monotheisme yang sangat ketat. Tiada Tuhan selain Allah, demikian keyakinan Islam.

Namun Allah memiliki 99 (sembilan puluh sembilan) nama (Asma’ul Husna). Nama-nama itu, disamping Allah antara lain Al-Rahman, Al-Rahim, Al-Malik, yang artinya sama dengan nama dewa-dewa di atas. Allah juga bernama Al-Haqq (Kebenaran), Al Qahtar (yang mendominasi dan mematahkan punggung musuh-musuhNya), Al-Muntaqinu (yang memberi siksaan), Assaburru (yang maha penyabar). Prinsip Ketuhanan dalam agama Islam disebut Tawhid yang secara harfiah berarti “menyatukan” atau “Mengesakan” atau “mempersatukan”.

Jika memang itu adalah suatu proses, maka dalam peradaban sekarang ini terdapat suatu pemahaman yang mulai berkembang. Yaitu paham pantheisme dalam beragama. Paham pantheisme yang terdapat dalam hindu dimana alam(semua) adalah Tuhan atau Tuhan adalah semua dapat dilihat dari pemahaman filsafat Tat Twam Asi, Wyapi Wyapaka, Aham Bramman Asmi.

Paham ketuhanan pantheisme dapat dijelaskan atau dilihat pada sloka-sloka berikut:

 

Bhagawadgita XI.40.

Namah puras tas artha prstha taste

Mamostu te sarvata eva sarva

Ananta vi rya mitavikramastvam

Sarvam samapnosi sarvah.

Artinya : Hormat pada-Mu pada semua sisi, O Tuhan. Engkau adalah semua yang ada, tak terbatas dalam kekuatan, tak terbatas dalam keperkasaan. Karena itu engkau adalah semua itu.

 

Svestasvara Upanishad II.17

Yo devo’gnayu yo’psu, yo visvam bhuvanama visesa,

Yo asadishu yp vanaspatisu, tasmai devaya namo namah.

Artinya : Sujud pada Tuhan yang berada dalam api, yang ada dalam air yang meresapi seluruh alam semesta yang ada dalam tumbuh-tumbuhan yang ada dalam pohon-pohon kayu.

 

  1. 3.     Implementasi dan Manfaat Pantheisme dalam kehidupan masyarakat.

Implementasi dalam paham pantheisme sebenarnya adalah menanggulangi berbagai ekslusifitas agama serta paham yang buta terhadap Tuhan yang satu dan dibela mati-matian. Ini sangat berpengaruh pada kehidupan dan sosialitas di masyarakat, serta pula bagaimana kehidupan bernegara dan berbangsa.

Dalam rangka mengeleminasi segala permasalahan yang mengarah kepada disharmonisasi dan disintegrasi, kiranya diperlukan revitalisasi terhadap tafsir ajaran Agama agar tetap eksis dan bermakna di tengah – tengah kehidupan global dewasa ini, selanjutnya diaktualisasikan dalam kehidupan nyata sehari – hari secara proporsional, paling tidak menyangkut dua hal yaitu :

1. Keimanan kepada yang Absolut dengan segala sifat keabsolutan-Nya ( terkait dengan nilai – nilai spiritual yang harus dan wajib diamalkan ).
2. Pengamalan nilai – nilai yang bersifat ” munden “, keduniawian untuk mengatur kehidupan bersama, menyangkut masalah moral dan etik.

Berkaitan dengan keimanan , Agama Hindu mengajarkan ” Panca Sraddha ” ( Puniatmaja : 1971 ) yaitu lima dasar keyakinan yang meliputi keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa ( Brahman ), keyakinan pada Jiwa Sejati ( Atman ), keyakinan pada hukum karma ( Karmaphala ), keyakinan pada penjelmaan kembali ( Punarbhava ), dan keyakinan pada pembebasan dari penjelmaan ( Moksa ).

Konsep Hindu tentang Tuhan, lebih jauh dijelaskan oleh Visvanathan (2000 : 28 ) yang didasarkan pada Veda adalah bahwa :

  1. Semua datang dari ” Satu Itu ” yang tidak dapat didefinisikan disebut Brahman yang kekal abadi ( monisme ).
  2. Segala sesuatu datang dari ” Itu “, maka semua eksistensi adalah baik dan suci ( pantheisme ).

3. Hanya ada satu Tuhan, ” Ekam Sat ” ( monotheisme ).

4. Semua dari kita adalah Dewa – Dewa, Jivi sebagai pancaran sinar suci immanen ( dvaita ).

5. Mencari Tuhan adalah seperti sesendok garam mencari dasar samudera. Pada saat garam itu menyentuh permukaan samudera maka ia menjadi bagian yang tak terpisahkan ( Visistadvaita ).

Konsep tentang Atman sampai dengan Moksa dapat dijelaskan sebagai berikut :
Atman adalah penyebab segala sesuatu itu hidup. Ia adalah sinar Brahman Yang Esa. Ia berada didalam setiap makhluk dan juga berada di luar ” Tat Tvam Asi ” ( Itu adalah Engkau, Dia adalah Kamu ). Ketika berada didalam tubuh dia disebut Jivi atau Jiwa. Ketika tubuh ini ditinggalkan maka tubuh ini mati dan menjadi hancur, namun Atman tetap kekal ( Katha Upanisad I.2.18 dan II.2.4 ). Sang Jiwa yang terbungkus dalam Roh pergi membawa kesan karma / perbuatan selama ia berada dalam tubuh yang tidak kekal. Segala bentuk perbuatan atau karmanya selama menghuni tubuh, akan memperoleh pahala yang setimpal dan sang Jiwa/Roh yang masih terikat oleh dunia maya akan mencari badan yang baru atau lahir kembali yang disebut Punarbhava. Tetapi apabila Sang Jiwa selama menghuni badan terbebas dari belenggu dunia maya, ia melihat semua makhluk ada pada dirinya dan dirinya berada pada semua makhluk serta tiada lagi rahasia yang tersembunyi ( Isa Upanisad 6 ), maka Sang Jiwa mencapai identitas Atman yang suci, menemukan kesadaran yang tak terbatas dan menyatu dengan Brahman. Bagaikan lampu yang memperlihatkan sinar yang dapat pergi jauh diluar batas materialnya dan memproklamirkan hubungan persaudaraannya dengan matahari. Itulah cita – cita akhir dari kehidupan, mencapai ” ananda rupam “, wujud kebahagiaan kekal, terbebas dari suka – duka yang disebut Moksa.
Demikian ajaran Panca Sraddha merupakan nilai, norma, bahkan sebagai hukum yang absolut karena berasal dari Brahman Yang Esa dan Abadi.

Untuk menetapi Sraddha tersebut umat Hindu mengamalkannya berdasarkan petunjuk Atharva Veda XII.1.1 yaitu dengan memantapkan keyakinan pada kebenaran Tuhan ( Satyam ), mentaati hukum suci-Nya ( Rtam ), melakukan penyucian diri ( Diksa ), pengendalian diri terhadap nafsu duniawi ( Tapa ), selalu berdoa memohon pencerahan ( Brahma ) dan melakukan korban suci untuk keselamatan dan kebahagiaan makhluk ( Yajna ). Aktualisasi pengamalannya bersifat relatif, sesuai desa – kala – patra ( tempat – waktu – kondisi ) sehingga tidak mengakibatkan terjadinya benturan / disharmoni, baik dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat yang heterogen ( bhineka ) ini.
Agar pengamalannya tidak menyimpang ( sesat ) dari ajaran Veda maka perlu dipedomani ajaran ” Dharma Siddhyartha ” sebagai mana tercantum di dalam Veda Smrti VII.10 yang memuat lima aspek yang dijadikan dasar pertimbangan dalam menuangkan konsep ataupun bentuk amalan yang akan dilakukan, yaitu:

1.    Iksa adalah hakikat tujuan dari suatu kegiatan yang akan dilaksanakan.

2.  Sakti adalah kesadaran kemampuan fikir dan fisik materiil untuk mendukung suatu kegiatan.

3.  Desa adalah tempat kegiatan atau lingkungan kondusif yang dapat memperlancar suatu kegiatan.

4. Kala adalah waktu atau masa di dalam melaksanakan suatu kegiatan.

5. Tattva adalah dasar keyakinan atau falsafah yang bersumber dari nilai suci Veda.

Keseluruhan ide pengamalan ajaran Agama Hindu baik absolutisme maupun relativisme, dapat dirumuskan dalam satu konsep yang disebut ” Tri Hita Karana “, yang mencakup hubungan manusia dengan Sang Pencipta dalam wujud bhakti yang murni; hubungan manusia dengan Negara, dengan umat beragama, maupun dengan sesama manusia; hubungan manusia dengan lingkungan secara harmoni.

1. Hubungan manusia dengan Tuhan hendaknya dilandasi oleh kesadaran bahwa ” Tuhan adalah kebenaran pengetahuan yang tak terbatas ( Sat Citta Ananda Brahman ) dan Ia adalah dari mana semua ini berasal ( Janmadhyasya yatah ) “, sebagaimana diungkapkan didalam kitab Maha Nirvana Tantra dan Brahma Sutra I.1.2. Sehubungan dengan itu kitab suci Bhagawad Gita adhyaya XI sloka 55 dan XVIII.65 menyatakan :

“Yang bekerja bagi-Ku, menjadikan Aku sebagai tujuan tertinggi,
berbakti kepada-Ku tanpa kepentingan pribadi,tiada bermusuhan terhadap segala insani,
dialah yang datang kepada-Ku, oh Pandawa ”

” Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbakti pada-Ku,

bersujud pada-Ku, sembahlah Aku

engkau akan tiba pada-Ku, Aku berjanji

setulusnya padamu sebab engkau Ku-kasihi ”

  1. Hubungan manusia / warganegara dengan Negara, dan sesama umat beragama, maupun dengan sesama manusia hendaknya mengarah pada kerukunan, motivasi juang, persatuan dan kesatuan, baik dalam cita – cita, pikiran maupun sikap, guna menghadapi masalah bangsa dan negara menuju kebahagiaan serta perdamaian yang kekal.

a. Tentang hubungan warganegara terhadap Negara dijelaskan dalam kitab suci Yajur Veda IX.22 dan 23, Atharva Veda XII.1.2 serta Veda Smrti VII.13, 14 dan 18 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut :
” Kami menghormati Ibu Pertiwi. ( Yaj.V. IX.22 )

Semoga kami waspada menjaga dan melindungi bangsa dan negara kami. ( Yaj.V. IX.23 )

Semoga kami dapat berkorban untuk kemuliaan bangsa dan negara kami ” ( Ath.V. XII.1.2 )

” Karena itu hendaknya jangan seorangpun melanggar undang – undang yang dikeluarkan oleh pimpinan negara, baik karena menguntungkan seseorang maupun yang merugikan pihak yang tidak menghendakinya ”

( V.Smrti. VII.13 )
” Demi untuk itu, Tuhan telah menciptakan Dharma, pelindung semua makhluk, penjelmaannya dalam wujud undang – undang merupakan bentuk kejayaan Brahman Yang Esa” ( V.Smrti VII.14 ).

” Sangsi hukum itu memerintah semua makhluk, hukum itu yang melindungi mereka, hukum yang berjaga selagi orang tidur, orang – orang bijaksana menyamakannya dengan Dharma ” ( V.Smrti VII.18 ).

b. Hubungan dengan sesama umat beragama, umat Hindu hendaknya percaya bahwa setiap agama mengandung nilai suci dan jalan menuju Kebenaran Tuhan ,sebagaimana disuratkan dalam Kitab suci Pancamo Veda IV.11 dan VII.21, 22 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut :
” Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima, dari mana – mana semua mereka menuju jalan-Ku, oh Parta ”

“Apapun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut agama, Aku perlakukan kepercayaan mereka sama, supaya tetap teguh dan sejahtera ”

” Berpegang teguh pada kepercayaan itu, mereka berbakti pada kepercayaan itu pula dan dari baktinya itu mereka memperoleh pahala keuntungan yang sebenarnya dikabulkan oleh-Ku ”

c. Hubungan manusia dengan sesama warga bangsa bahkan seluruh manusia dijelaskan dalam Kitab suci Rg Veda X.191.2,3 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut :
” Wahai manusia, berjalanlah kamu seiring, berbicara bersama dan berfikirlah kearah yang sama, seperti para Deva dahulu membagi tugas mereka, begitulah mestinya engkau menggunakan hakmu.”

” Berkumpullah bersama, berfikir kearah satu tujuan yang sama, seperti yang telah Aku gariskan. Samakan hatimu dan satukan pikiranmu, agar engkau dapat mencapai tujuan hidup bersama dan bahagia. ”

  1. Selanjutnya mengenai hubungan manusia dengan alam lingkungan hidupnya ( alam semesta ini ) hendaknya dilandasi oleh kesadaran bahwa seluruh alam ini berasal dari Tuhan dan diberi makan oleh Tuhan Yang Maha Sempurna sebagaimana dinyatakan dalam Atharwa Veda X.8.29 dengan kalimat : ” Purnat purnam udacati purnanena vasisyate “. Demikianlah manusia harus menyadari bahwa dirinya merupakan suatu kesatuan dengan alam semesta ini didalam Tuhan. Kitab suci Isa Upanisad sloka 6 menyatakan :
    ” Yas tu sarvani bhutani atmanyevanupa?yati

sarva bhutesu catmanam tato na vijugupsate.”

Artinya:
” Dia yang melihat semua mahluk pada dirinya (Atman) dan dirinya (Atman) sendiri pada semua mahluk, Dia tidak lagi melihat adanya sesuatu perbedaaan dengan yang lain.”

Kebenaran Tuhan akan dimunculkan kepadanya bila dia mengerti kebenaran pada mahluk lain sesuai entitasnya, sehingga dengan kesadaran itu dia siap mengorbankan dirinya sendiri melalui cinta kasih yang tulus. Bila manusia telah diliputi sinar cinta kasih maka aspek negatif dari keterpisahan dirinya dengan orang ataupun mahluk lain, bukan lagi merupakan persaingan dan konflik tetapi mengarah kepada simpati dan kerjasama yang harmonis. Simpati dan kerjasama yang harmonis akan mewujudkan kerukunan sejati dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di tengah alam semesta yang maha luas ini.

 

Daftar pustaka

Amstrong, Karen. 1993. History of God. penerbit William Heinemaan, London.

Dana, I Nengah. 2001. Aktualisasi Ajaran Agama. Artikel di http://www.parisada.org/.

Keramas, Dewa Made. 2008. Filsafat Ilmu. Penerbit Paramita Surabaya.

Majid, Nurcholis. 1992. Islam, Doktrin dan Peradaban. Penerbit Paramadina, Jakarta

Mascaro Juan, Swami Harshananda, 2010. Upanisad Himalaya Jiwa. Putu Renny, Sang Ayu. Penerjemah. Putra, Putu Ngakan. Editor. Penerbit Media Hindu.

Pudja, I Gede, 1999. Isa Upanisad.Cetakan Pertama. Paramita Surabaya.

Putra, Putu Ngakan, 2008. Tuhan Upanisad Menyelamatkan Masa Depan Manusia. Cetakan Pertama. Penerbit Media Hindu.

Radhakrisnan, S, 1953. The Principal Upanisads. Yayasan Parijata.

Titib, I Made.2003. Teologi dan Simbol-Simbol dalam Agama Hindu. Edisi Pertama. Paramita Surabaya.

Zaehner, R.C. 1994. Hindu and Muslim Mysticism. Suhadi, Penerjemah. Mustafid, Fuad, editor. LkiS Yogyakarta

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Januari 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: