RSS

Arsip Bulanan: Oktober 2013

Edisi Terjajah Episode Ketiga (-_- i! …(m) LAWAN !!!

Edisi Terjajah Episode Ketiga (-_- i! …(m) LAWAN !!!

Setelah memiliki penyadaran-penyadaran akan penjajahan, maka untuk beberapa kali perlu diingatkan bahwa bangsa Indonesia telah dijadikan kambing perah di wilayahnya sendiri. Yang dibiarkan mencari dedaunan dan dilepas,lalu nantinya dicari susunya dan disembelih. Bahkan tempe, bawang, atau pun beras dan kebutuhan pokok lainnya yang sejogjanya bisa dikendalikan dan diproduksi sendiri, kewalahan dan mengemis ke negara lain. Seperti sebuah pesawat yang ditukar dengan beras. Terang saja bahwa Indonesia tiada memiliki identitas, tiada memiliki harga diri, dan bertengkar antara satu dengan yang lainnya, di saat negara lain mungkin telah menginjak pada pengaktualan diri sebagai fase terakhir piramida Maslow.

Korupsi dan bagaimana ketidaktahumaluan para pejabat dan kepala batu, muka tebal, badak yang mementingkan diri pribadi serta golongan adalah hanya menuju jurang kehancuran bangsa indonesia. Perut-perut buncit dan gembul adalah milik mereka, dan seorang nenek yang berada di bawah jembatan kelaparan dan meninggal dunia menjadi cerminan bahwa pembunuh itu ada di tangan serakah mereka. Sampai kapan? Apa pancasila sudah dilupakan, apa mereka tau pancasila? Mungkin perlu diingatkan pada otak bebal mereka.

Prilaku-prilaku para pemimpin bangsa yang harusnya menjadi panutan, tidak lagi bisa dianggap yang menjadi sesosok orang yang pantas dibanggakan. Kesabaran-kesabaran yang dimiliki oleh rakyat adalah telah pasti terkumpul lalu menjadi bom waktu tersendiri. Apa yang dapat dibanggakan? bahkan rakyat dijadikan kedok kesejahteraan dan dijual sebagai alasan mereka untuk membenarkan keputusan-keputusan mereka yang sasarannya jelas tidak tepat.Bagaimana bisa? Mereka bertugas untuk mensejahterakan rakyat, tapi malah membunuh rakyat secara pelan-pelan dan pasti. Pernah kah melihat pejabat yang tidak sejahtera? Padahal rakyat yang memerintah dan berkuasa.

Pancasila teryakini akan abadi dan tak pernah pudar. Walaupun sayap2nya masih terkoyak, toh pula nantinya akan sembuh dan menerkam semua serta terbang tinggi ke angkasa. Sebelumnya mari dilihat sila ketiga yang bermakna “Persatuan Indonesia”.

3. Persatuan Indonesia

  • Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  • Jelas sudah bahwa para pejabat adalah pribadi yang tidak mementingkan keselamatan bangsa. Persatuan dan kesatuan pribadi dan golongan yang di utamakan. Salutt..

  • Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  • Sepertinya tidak sanggup mereka para penjajah dan benalu itu, untuk berkorban. Apalagi secara rela, pada saat tidak perlu pun mereka tidak rela.

  • Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  • -Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  • Hanya sepak bola untuk saat ini, oktober 28 oktober yang membuat rasa cinta tanah air meningkat.

  • Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
  • Ketertiban dunia sudah lupa, ketertiban di negara sendiri saja sudah lemah. Ormas-ormas yang tidak bisa dikendalikan tentu saja menebar racun kekacauan. Bahkan mereka menjadi pelindung bagi nafsu serakah benalu dan parasit bangsa itu.

  • Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
  • Plural, toleransi dan saling menghargai adalah sampah. Iya sampah bagi mereka yang tidak mendambakan kebersatuan.

  • Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
  • Nasakom lebih baik bahkan sangat lebih baik daripada menjadi budak kapitalis, liberalis, dan paruh penuh adu domba kolonoalisme.

    Singkat jelas dan tergantung otak untuk kepadatannya. Mulut-mulut mereka sudah patut dibungkam, dipoles oleh aspal panas dengan sedikit cacian bahwa mereka lebih pantas menjadi belatung yang memakan bangkai- bangkai tubuh mereka sendiri.

    Untung masih mengingat bagaimana “sumpah” sebagai seorang pemuda.
    Indonesia.

    Salam gwar 28 okt 2013

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 28 Oktober 2013 in filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , ,

Agama Schizoprenia Sebagai Kewarasan Kepada-Nya

20131028-021312.jpg

Agama saat ini adalah sebuah pegangan hidup yang mengarah pada keyakinan, keyakinan yang memercayai ada suatu kekuatan besar, sesuatu kekuatan Agung yang mengatur kehidupan ini. Agama yang telah ada (atau akan ada-mungkin) memiliki sejarah panjang dan berliku. Sejarah yang memberikan sedikit pemahaman akan pola pikir, sebuah pandangan, atau bahkan kebudayaan itu sendiri, yang tidak akan lepas dari moral, norma, dan kebenaran. Untuk pencapaian ketiganya itu sekarang adalah yang diterima secara umum dan menjadi super ego(meminjam istilah freud) di masyarakat dunia.

Di balik sejarah yang ada akan agama, telah banyak diketahui adalah bahwa agama lahir dari seseorang atau beberapa orang yang mampu menerapkan pola pikir, pemahaman, serta bahkan ritualnya kepada suatu wilayah dunia. Dan itu sampai pula menjadi suatu budaya yang turun-temurun ada sebagai nafas kehidupan. Seseorang itu, apakah itu nabi, apakah itu resi, santo, buddha, sheikh, dsb tentu saja memiliki keistimewaan tersendiri(pada jaman itu) sehingga mampu melampaui norma, memperbaiki moral, serta memperbaharui kebenaran itu sendiri. Menelisik kemampuan luar biasa itu dari sudut pandang pengetahuan sains, atau psikologi, maka kecenderungan bahwa beliau-beliau tersebut memiliki pengetahuan yang berbeda dari jamannya mengarah pada delusi, waham, serta keyakinan yang berhubungan dengan kekuatan “luar”. Pemahaman itu bisa saja dikatakan sebagai sebuah sczhizoprenia yang menyatakan diri sebagai hamba, sebagai junjungan, sebagai abdi, sebagai tuhan(kecil) dari Tuhan besar yang menguasai semesta. Itu pandangan “kasar” dari pisau psikologi ala freud atas kegilaan (pada jamannya)dari pembesar-pembesar sebuah agama. Namun di balik itu semua, ada sesuatu yang mungkin dilupakan.

Seorang nabi besar contohnya, mungkin saja memiliki keterhubungan dengan malaikat-malaikat tertentu entah dengan cara apa pun itu. Lalu apakah malaikat atau malah iblis yang berhubungan dengan nabi bersangkutan bisa dikatakan kebenarannya dengan jelas terhadap wahyu tuhan itu sendiri? Jawaban itu sebenarnya tidak sulit, jaman sebenarnya telah membuktikan kadar kemampuan suatu ide besar yang menjadikan ia sebuah tatanan moral dan norma yang mendunia. Itu membentuk peradaban tersendiri, yang artinya pengakuan secara general baik dari sisi manusianya atau pun semesta (secara spirit) adalah sebuah bukti akan kalimat pertama di atas.

Seperti pula seorang yang berkepribadian sebagai atau dianggap sebagai titisan Tuhan. Titisan tuhan yang dimiliki oleh umat manusia, Ia yang mencerahkan,Ia yang mengajak manusia yang meyakiniNya sebagai Tuhan. Tentu saja memiliki kemampuan mumpuni dan merupakan suatu cermin selayaknya Tuhan ketika dimanusiakan. PertanyaanNya bagaimana Ia bisa me”rasa” dan mengakui serta melakukan perbuatan Tuhan di dunia? Apakah me”rasa” pula berarti sebagai sebuah tanda-tanda schizoprenia?

Kelahiran seseorang untuk menjadi seorang yang bisa mengubah jaman, adalah suatu misteri tersendiri. Apakah itu suatu bakat, apakah itu suatu pembelajaran, atau apakah memang seperti itu. Seperti suatu takdir, seperti suatu yang memang harus terjadi pada jamannya. Contohlah yesus, muhammad, buddha, musa, resi, atau di nusantara ada wali songo, syeh siti jenar, mpu kuturan, danghyang dwi jendra, sabdo palon, dsb. Beliau-beliau itu adalah seorang yang mendobrak jaman pada waktu itu. Mendobrak sebuah norma-norma yang lazim, menjadi diperhalus, disempurnakan, dikurangi, ditambah, dan menjadi suatu moralitas baru. Bagaimana sebuah ide dan pemahaman brilian itu menjadi diikuti dan membuat tambahan peradaban? Hal itu adalah menjadi suatu karya yang “agung” akan suatu kekuatan semesta.

Kembali lagi akan kekuatan agung itu sendiri, tentu saja dunia memiliki sebuah dogma atau aturan tersendiri yang rahasia, bagaimana sebuah jaman itu layaknya ada. Dan seorang yang berkepribadian super dan memiliki hati serta mental dan ia yang memili,i kekuatan dashyat dalam diriNya, yang dikatakan berbeda atau pula bahkan dikatakan waham dari masyarakat sekitarnya. Jika mereka dikatakan sebagai schizoprenia, tentunya kegilaan mereka diterima, bisa dikatakan sebagai suatu keyakinan akan kekuatan Agung itu sendiri, kedekatan kepdaNya, keintiman denganNya, kegilaan bagiNya. Mengutip sedikit dari Khrisna saat ia dikatakan gila oleh musuhnya ” iya kalian aku mereka semuanya sama-sama gila, tetapi bedanya kalian gila harta, kekuasaan, gila wanita, gila dunia, dan aku gila akan tuhan” . Jadi apakah ada korelasi antara keintiman merka kepada Tuhan ( kekuatan agung) dengan kegilaan yang sanggup mengubah jaman itu sendiri.

Pada dasarnya manusia sendiri adalah suatu bagian dari percikan kekuatan itu. Ada suatu rekaman alam bawah sadar murni manusia yang berevolusi dari jaman ke jaman dan menetap pada genetika turunannya. Mungkin pula alam bawah sadar itu terbangunkan entah dengan suatu gejolak yang misterius untuk membuka kotak berlian semesta di alam bawah sadar itu lingkungan dan dunia. Perlu diketahui bahwa dalam pembahasan psikologi oleh jung, dikatakan alam bawah sadar manusia terkoneksi antara satu dengan lainnya dan merupakan bagian dari system yang besar di semesta. Cara membuka konektivitas itu adalah dengan memandang dan mengetahui kepribadian dari Sang kekuatan itu sendiri, memahaminya adalah sebuah perjalanan kehidupan yang memuat rekaman hari ini esok dan masa depan. Berlangsung dan membentuk jaman serta peradaban sampai nanti akhir jaman itu sendiri. Pemahaman akan berubahnya jaman serta kebudayaan lewat perkembangan agama, adalah tidak lepas dari ilmu pengetahuam itu sendiri. Ilmu yang menyangkut pula sejarah, agama, bahkan psikologi manusia itu sendiri. Tentunya ikhwal mimpi dunia ke depannya adalah sebuah titik jejak pemegang kekuasaan alam semesta dari penguasa alam itu sendiri. IYa semua memang gila, tapi gila padaNya adalah suatu kewarasan yang paling waras di dunia.

Salam gwar. Okt 2013
<

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Oktober 2013 in agama, budaya, filosofi

 

Tag: , , , , , ,

Pancasila tidak Memakan Dirinya sendiri

20131002-004203.jpg

Memperingati hari kesaktian pancasila, yang jatuh pada 1 oktober ini, maka terjadi sedikit keterbingungan akan makna-makna yang seakan-akan seperti perlu tersingkapkan kabut yang tebal. Benar jelas bahwa terjadi sebuah revolusi atas keterjadian yang menghilangkan nyawa-nyawa dari beberapa jenderal serta beribu-ribu nyawa lainnya. Yang menjadi lebih aneh adalah ada suatu kata Tuhan dan tidak BerTuhan yang akhrinya mereka mati dengan kejam dan sia-sia bagi mereka dan menguntungkan bagi yang lainnya..

Jika benar karena kata tidak berTuhan, tentunya pengertian hati yang BerTuhan itu sama sekali tidak ada. Penyiksaan, penganiayaan dan pelan-pelan menuju kematian adalah bukan suatu yg dinamakan BerTuhan. Atheis atau yg dikenal tidak percaya Tuhan, apakah sama dengan sesuatu yg disebut komunisme. Komunis yang secara mudah disebutkan oleh Karl Marx adalah semata-mata gerakan untuk menyeimbangkan kaum proletar dan kaum kapital. Adalah suatu perbudakan jika tidak ada suatu pembelaan atas kaum-kaum pekerja dari ketidakmanusiawian pemilik tanah, modal. Dan itu jauh dari ketidakberTuhanan, bahkan tidak ada hubungannya sama sekali. Lalu mereka membunuh untuk siapa??Berpikir seperti apa saat itu di “atas ” sana. Ini tuhan kubawakan kepala yang tidak mempercayaimu…absurd…

Berhubungan dengan kata-kata Nasakom, yang juga disabdakan oleh proklamator Soekarno, adalah berhubungan sangat erat dengan ideologi pancasila. Nasionalis, Agamis, Komunis..bagaimana bisa itu bersatu, dmana agamis dan komunis bersebrangan??Masalah utamanya adalah tujuAn…Agamis adalah keberagamaan yang beragam yang TIDAK bertujuan berseberangan dgN yang lain. Tapi sebagai pembentuk moral,etika, dan terutama budi pekerti yang luhur, Lalu Nasionalis apakah bertujuan berperang dengan Agama dan Komunis??tidak jelas, tapi melindungi ancaman dri luar serta memperkuat rasa menjadi seorang indonesia.Tanpa itu maka devide at impera yang sampai sekarang masih dilaksanakn penjajah, akan tidak terlaksana. Lalu komunis itu apa tujuannya? Karena tidak mendarah dgingnya Ia, maka sekarang materi serta uang dan hendonistis, konsumtif merajalela. Diperbudak oleh kapitalisme, liberal, dan kita dininabobokan dengan banyaknya kenikmatan yang semu.Keinginan tiada batas, dengan kebutuhan yg kita tidak tahu apa itu??Candu itu adalah muka topeng dari duniawi yg jauh dari sikap keTuhanan yg sederhana dan bersahAja. Dan kita menikmatinya..

Lalu jika dengan pancasila, maka Nasionalis adalah bagian dari sila ketiga, trmasuk demokrasi sila kempat. Kemudian Agamis adla bagian sila ke pertama dan masuk ke budi pekerti sila kedua. Dan komunis dari utopianya adalah tujuan akhir sebuah kesederhanaan dan kebersahajaan dari kaum nusantara pemilik negeri indonesi ini. Jadi dengan berbagai gambaran itu, maka dapat disimpulkan pancasila itu tidak akan memakan dirinya sendiri yang berasal dari nasakom tersebut itu. Adalah kekeliruan besar untuk memperingati revolusi dengan menertawakan pancasila yang sungguh dikhianati..

Salam
revolusi belum usai..

Gwar okt 2013

 

Tag: , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: