RSS

Arsip Harian: 18 Februari 2020

Kemenangan Atas Musuh Diri (Refleksi Galungan )

Om swastyastu..

Awighnam astu namo sidham

Sambhwami yuge yuge

Aku datang dari jaman ke jaman untuk menegakkan kebenaran (Dharma)..

Menelisik hari raya Galungan yang setiap enam bulannya hadir sebagai tonggak kemenangan dharma melawan adharma. Yang ketika ditelusuri melalui sejarah adalah kemenangan Ida Manik Angkeran Mpu Sangkul Putih yang mampu “menedunkan” pasukan Bhatara Indera untuk mengalahkan Raksasa Mayadanawa di bumi banten ini.

Dikatakan adalah sebagai kemenangan dharma melawan adharma, namun dharma yang bagaimana menang melawan adharma yang bagaimana? Sebuah pertanyaan yang mungkin bisa dijawab dari berbagai sudut pandang tertentu. Dilihat dari ritual-ritual yang terjalani, tentunya adalah adanya sebuah kepuasan tersendiri, ketika kita mampu menjalani dengan yadnya yaitu pengorbanan yang tulus iklas. Tulus iklas yang penuh kandungan kebijaksanaan, kebajikan, bercampur juga lelah. Tetapi seperti pujam yang berisikan bahasa “mogi winasaya duka, lara, rogha, papa, matemu suka, bagya, lan shanti”, tentu saja aura yadnya yang sattwika tergoreskan pada wajah yang sumringah bersama keluarga.

Begitu banyak musuh yang ada di dunia ini, entang orang lain, keadaan, lingkungan, atau juga perlu memperhatikan musuh-musuh yang berada di dalam diri. Seperti buddha bersabda tentang musuh yang ada di dalam diri, atau jaman kaliyuga di mana diri adalah musuh yang utama. Dan dharma hanya sedikit saja, masih tersisa satu kaki dari “lembu dharma” yang telah kehilangan ketiga kakinya. Musuh dalam diri yang kelak akan menjadi bekal untuk melakukan “atatayi” kerusakan atas semesta itu.

Tentu mengetahui kita musuh di dalam diri, disebutkan ada enam itu, yaitu Sad Ripu. Kemudian ada pengaruh luar yang gelap, yang memengaruhi jiwa (suksma sarira) untuk melakukan kerusakan-kerusakan. Tujuh kegelapan yaitu Sapta Timira, membelenggu selalu diri agar melupai kebesaran keagungan dharma itu. Dan kelak pada akhirnya menciptakan enam perbuatan yang merusak dan keji, Sad Atatayi dan menghasilkan karma buruk. Karma buruk yang pada akhirnya membawa manusia terhukum di sapta patala neraka loka pada akhirnya.

Dharma sejatinya sangat perlu dijalani setiap harinya, namun tonggaknya adalah hari raya kemenanganNya, sehingga selalu teringatkan. Dan ketika teringat, enam bulan selanjutnya ada proses-proses untuk menuju pada kebijaksaan dharma itu. Semoga kebaikan menginspirasi dari segala penjuru. Musuh diri dikontrol sehingga menjadi kekuatan diri agar lebih baik menjadi manusia dalam ruang kedharmaan.

Enam musuh diri adalah Sad Ripu yang terdiri dari Kama, Lobha, Mada, Moha, Matsarya, Krodha. Dari Kama hawa nafsu atau ambisi (secara umum) tentang sesuatu, dan tidak bersyukur, menghasilkan Lobha atau keserakahan, yang menimbulkan kemabukan (Mada), menjadi Moha bingung ketika tidak tercapai pada sesuatu hal. Melihat yang lain, menjadi dengki dan iri (matsarya) menghasilkan Krodha. Sesuatu yg berputar-putar dari dalam diri, atas sesuatu yang terjadi di lingkungan. Semoga kebersyukuran dalam kesederhanaan, pada “paramita”, mampu menyirnakan itu. Dan kebaikan “Asta Brata” menjadikan itu sebagai kebaikan.

https://linggashindusbaliwhisper.com/2018/03/21/kekuatan-dewata-asta-bratha-untuk-menundukkan-sad-ripu/

Kemudian menelisik tentang kegelapan yang dapat memengaruhi diri ini. Maka dengan mengetahui, kita eling dan memahami diri, yang apakah terlingkupi gelap atau sudah mampu kita menyirnakannya atau meneranginya. Sapta Timira yaitu Dana, Guna, Surupa, Sura, Kasuran, Yowana, Kulina. Gelap karena Tamasika guna meliputinya, suksma sarira membelenggu menciptakan alam keadharmaan yang dimulai dari diri lalu ke lingkungan.

Dana adalah gelap karena harta, ketika kama digunakan untuk itu saja, semua diukur dengan harta saja, lobha serakah melupakan etika susila, korup dan begitu juga karena matsarya misalnya, tidak suka dengan orang lain, membenci, bahkan menggunakan ilmu hitam, mencuri dan sebagainya.

Guna yaitu tentang kepandaian atau ilmu, di mana gelap itu dari satu sisi berarti, merasa paling berilmu dari yg lainnya, tidak mau dan sudi menerima masukan dari orang lainnya yang mungkin lebih tau. Atau dari sisi lain adalah membenci ilmu pengetahuan itu sendiri. Setiap ada yang menjelaskan, dianggap sebagai teori saja dan tidak perlu diperhatikan. Sedangkan sastra menyebutkan guna, ilmu, jnana akan menghapus awidya kelak bisa melampaui lautan kehidupan itu jua.

Surupa yaitu gelap karena melihat wajah diri yang merasa lebih cantik atau tampan dari yang lain. Memilih-milih kawan dan terkadang bisa menggunakan kelebihannya itu untuk sesuatu yang kurang baik. Ada kemudian Yowana, yaitu sikap yang selalu merasa muda, lupa akan diri yang mungkin harus lebih bijaksana, atau orang-orang yang merasa masih muda dan melupai hormat kepada catur guru, dan bahkan melecehkannya.

Lalu ada Sura Kasuran yaitu minuman keras dan keberanian, artinya tunduk pada minuman keras dan untuk kasuran menilai suatu individu dari sikap beraninya saja dan kenekatannya. Tidak berpikir panjang, dan cenderung suka berkelahi dan memprovokasi, serta cepat emosi.

Yang terakhir adalah Kulina, yaitu gelap karena keturunan, yang berarti ia hanya melihat diri, dari keturunan yang memaksa yang lain untuk menghormatinya, namun lupa tentang swadarmanya sendiri. Bisa juga seseorang yang membenci suatu keturunan tertentu, tanpa melihat prilaku dari seseorang itu. Tanpa nalar dalam membenci sesuatu yang melekat pada seseorang. Semoga swadarma kita terlaksana dengan baik adanya.

Ini adalah kegelapan yang kelak ketika kita menyadari itu, bisa diteruskan menjadi kesadaran untuk menjadi manusia yang lebih baik. Dan menang atas kegelapan ke-adharman itu.

https://linggashindusbaliwhisper.com/2015/04/02/sapta-timira-tujuh-kegelapan-yang-berdasarkan-sarasamuscaya/

Dan yang terakhir adalah, semoga kegelapan dan musuh dalam diri itu, tidak tersalurkan, terluapkan menjadi Sad Atatayi yaitu Enam Prilaku Keji yang kelak akan bermuara pada karma buruk, yaitu Sastraghna, Agnida, Dratikrama, Raja Pisuna, Atharwik, Wisada.

Sastrghna adalah mengamuk yang mengakibatkan seseorang atau org lainnya terluka, terbunuh dan sebagainya. Krodha marah besar, lalu Kasuran bisa membuat orang melakukan ini, Lobha Dana timira, bisa juga membuat seseorang mengamuk.

Agnida yaitu membakar rumah, seperti juga membom karena pengaruh Guna pengetahuan yg gelap, Sura, Moha, Mada kadang membuat krodha. Bingung menjadi lupa.

Dratikrama memperkosa, bisa terjadi karena Kama yang tinggi, Yowana, atau Surupa, Sura mabuk, Mada bisa membuat orang lupa diri. Ini kelak menciptakan karma buruk ke depannya.

Raja pisuna adalah fitnah, yang sepertinya terkadang seseorang lupa telah melakukannya, bergosip tidak jelas, dan matsarya atau iri hati, surupa, dhana, mulut yang biasa berbohong, ini bisa membuat jiwa manusia itu terjebak kelak di sapta patala loka.

Atharwik dan juga wisada. Atharwik adalah melakukan ilmu hitam untuk menyakiti, dari matsarya, kebencian yang mendalam dari kama atau surupa, cinta yang ditolak dan sebagainya, semoga terhindar kita. Dan wisada yaitu meracun yang bisa terjadi akibat ripu- ripu yang ada, serta sapta timira.

https://linggashindusbaliwhisper.com/2012/10/26/sandingan-konsep-seven-deadly-sins-konsep-sad-ripu-serta-sad-atatayi/

Di hari galungan ini, semoga kita bisa menyadari tentang kesusilaan yang bersumber dan berdasar dari dharma. Musuh-musuh diri yang layak diketahui, dan kelak dengan itu bisa tercapai kita pada kemenangan-kemenangan setiap harinya. Kemenangan menuju kedharmaan, yang mampu menetralisir duka, papa, rogha, lara kita menjadi kebahagiaan kekal. Kebahagiaan berdasarkan pada kesadaran atman, melalui keagungan dharma.

Selamat hari raya kemenangan Dharma

Februari 2020

Guswar Denpasar

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Februari 2020 in Tak Berkategori

 
 
%d blogger menyukai ini: