Om Hyang Suci Nirmala ya Namo Nama Swaha,
Shanti Ning Sang Buddhi, Nirmala iku Sang Citta, Rahajeng ikang Sang Manah, Rahayu nikang iya Sang Ahamkara..
Ksama Sahampurna Ya Namo Nama Swaha

Perihal itu sang jiwa di manusia, yang tidak terlepas dari Sang Tri Guna Maya. Sebagai ia yang wyapi wyapaka meresap ke segalaNya. Satwika, Rajasika, Tamasika itu Maya Guna. Dan menjadi bagian semesta termasuk pada jiwa manusia itu.
Dalam Wraspatti Tattwa disebutkan pula bagaimana itu menjadi nubuat kita sang manusia menuju pada alam selanjutnya termasuk pada ruang karma di kehidupan sekarang.
Cek ricek :
https://linggashindusbaliwhisper.com/2012/12/24/manusia-akan-kemanasetelah-kematian-wraspatti-tattwa/
Kemudian juga bahwa manusia yang selalu terpengaruhi Satwik Rajas Tamas, memiliki bahasa bahwa di dalam dirinya terdapat berbagai sifati psikologi pada sifat Dewata, Bhuta dan melebur pada sifat manusia tersebut. Disebut sebagai “Dewa ye,Manusa Ye, Bhuta ye”. Itu terdapat tersirat pada sloka Jnana Tatwa sebagai salah satu Lontar asli Nusantara yang memuat tentang Hakikat Nya dalam cetana dan acetana, pada kesadaran dan pada jerat maya guna.
Kesadaran atas bahwa diri sebagai yang tersadarkan sebagai Purusha atman, kemudian terbelenggu akan maya guna sebagai Pradana, menciptakan geliat bahasa kehidupan yang berjalan atas karma, serta Brahman sebagai kesadaran Tertinggi.
Geliat Maya Guna Pradana dengan Purusha Atman yang menghidupkan, menjadikan pula ruang-ruang sifati Jiwa sebagai tubuh halus manusia. Seperti bagian Panca Maya Kosha yang selain Anna Maya Kosha badan kasar, dihidupkan Ananda Maya Kosha, sehingga terhubungan oleh badan Wijnana Maya Kosha, Manomaya Kosha, Prana Maya Kosha. Terbentuklah itu menjadi badan jiwa psikologis manusia dalam menjalani berbagai kehidupan.
Kembali lagi dalam Jnana Tattwa disebutkan pada slokanya tentang sifati yang memengaruhi jiwa manusia. Maka dapat disebutkan sifat Dewata di manusia itu seperti barisan sloka berikut :
“Bila ada buddhi sattwa, sangat menekankan pada hakikat kebijaksanaan, mengamati baik2 sastra, melaksanakan kesamyagjnanan, Sang Hyang Tri Purushalah kelahiran Sattwa yang demikian.
Apabila buddhi sattwa sangat menekankan pada hakikat Brata tapa yoga samadhi, maka Pancarsilah kelahiran yang demikian. Bila buddhi sattwa sangat menekankan pada hakikat puja,arcana, japa, mantra dan puji2an terhadap bhatara, maka saptarsi lah kelahiran Sattwa yg demikian.
Apabila buddhi sattwa tidak mengindahkan baik dan buruk, namun kasih sayang pada semua mahluk, Dewarsi kelahiran sattwa yang demikian. Apabila sattwika sangat menekankan terhadap hakikat dharma, kirti yasa kebajikan, maka Dewalah kelahiran Sattwa yang demikian.
Apabila buddhi sattwa sangat menekankan pada keberanian, keperwiraan, ketangkasan, tidak mempedulikan bahaya, sangat rela iklas pada jiwanya, sombong hendak membunuh mengalahkan dirinya sendiri dengan kasih sayangnya, bhaktinya, tak bingung dalam berprilaku, hanya tenang pikirannya, pikirannya semata mata jernih, bila akan melaksanakan ketetapan hatinya keberaniannya, maka Widyadaralah kelahiran sattwa yang demikian,
Apabila buddhi sattwa menekankan pada hakikat keindahan ,senang bunyi-bunyian yg menyebabkan telinga senang, setiap yg indah didatanginya maka ghandarwalah kelahiran sattwa itu”…
Jadi dapat disebutkan psikologi sifati dewata pada manusia dapat disimpulkan sebagai berikut :
Sifat Dewata pada Manusia adalah bagai
1. Sang Hyang Tri Purusha sifatnya senang mempelajari sastra, melaksanakan hakikat kebijaksaan, serta mempraktikkan pula jnana yang memberikan keseimbangan dan keserasian, itu sifati dewata di dalam diri.
2. Sifati Sang Pancarsi yaitu tekun dalam melaksanakan hakikat tapa brata yoga samadhi.
3.Sifati Sapta Rsi adalah tekun akan pelaksanaan puja, arcana, japa, mantra, dan pelantunan puji-pujian terhadap bhatara bhatari.
4.Sifati Dewarsi adalah sifat yang tidak mengindahkan baik buruk, namun memiliki kasih sayang terhadap semua mahluk.
5.Sifati Dewa adalah sifat yang tekun dalam melaksanakan dharma, dan kebajikan.
Kemudian ada disebutkan sifati yang lekat dengan sang jiwa manusia.
1. Sifati Widyadara adalah sifat pemberani tanpa takut, rela berkorban, namun menunjukkan kasih sayang.
2.Sifati Gandharwa adalah sifati yang menyenangi keindahan, senang akan bunyi-bunyian dan seni.
Lalu ada sifati manusia yang mengarah ke rajas tersebutkan dalam sloka ini :
“Danawa rajah adalah buddhi rajah ketika ia diberi kata2 tak layak ia marah, dan ia menahan itu karena ada orang lain dan kemudian menangis maka ia kelahiran danawa rajah namanya
Daitya rajah adalah ketika buddhi rajah diberi kata tidak baik ia marah namun kemudian ia menjauh dan sambil berkata “paling hebat seharusnya aku ini” ia dapat merendahkanku, ia mengira aku penakut, hanya karena enggan bertengkar, krna aku sayang kebaikan..
Raksasa rajah ktika budhi rajah diberikan kata tidak baik kemudian ia marah, gemetar badannya, seketika ia menyerang, lancang kata2nya, lancang tangan, kaki menjerit meraung, dan berkata seenaknya saja“
3. Sifati Danawa yang ketika kesal namjn menahan diri, kemudian bisa menutupi kemarahannya itu.
4. Sifati Daitya yang ketika ada yang membuatnya marah lalu ia bisa menjauh menghindari konflik, namun dalam hati masih mendongkol.
5. Sifati Raksasa yang ketika ada yang membuatnya marah, kemudian ia pun kesal dan menyerang, mengumpat yang marah.
Ini adalah sifati yang dipenuhi rajasika guna.
Lalu ada disebutkan pula sifati yang diliputi bhuta tamah.
Dan buddhi tamah adalah sebagai berikut :
“Bhutayaksa tamah adalah ia tidak resah pada apa yg dimakan, kenyang dengan secabik sayur dan sekepal nasi, seteguk air, atau tuak maka puas hatinya..
Kelahiran bhutadengen tamah adalah memilih apa yg dimakan, bukan emas yg diinginkan, gemerlapan ditolaknya namun ktika bertemu makanan sejuklah hatinya..
Kelahiran bhutakala tamah dimana tidak memilih apa yg diingininya, smua daging yg dipandang tak layak dimakan asal membuat kenyang.
Kelahiran bhuta paisacha mau makan makanan yg tidak enak gelisah resah ke barat ke timur, dan tertipu lesu namun masih tergila-gila, dan dipasang telingannya ktika mendengar ada makanan“
Sifati Bhuta Bhuti yang terdapat dalam Jnana Tattwa adalah :
1. Sifati Bhuta Yaksa adalah ia bisa menjaga rasa laparnya, dan puas dengan apa yang ada.
2. Sifati Bhuta Dengen adalah Ia yang lebih memilih makanan dari pada gemerlapan dunia, dengan makanan saja ia sudah cukup puas.
3.Sifati Bhuta Kala memakan apa saja, apa pun itu walaupun tidak layak belum tentu bisa dimakan, asal ia bisa kenyang.
4.Sifati Bhuta Paisacha ia yang makan apa saja, sampai hanya itu yang di pikirannya, sampai makan yang tidak enak, dan telinganya pun sensitif dengan kata makanan.
Begitulah sifati dari diri manusia, dan tentunya itu bisa dikombinasikan dengan sesuai apa yang ada di dalam manusia itu. Dijelaskan selanjutnya adalah bahwa sifati itu juga bisa membawa jihwatman manusia kelak menuju Moksah, Swarga loka, Neraka Loka, atau bahkan turun derajat menjadi binatang
Dijelaskan selanjutnya adalah sebagai berikut tentang bagaimana sang atman akhrinya mnuju moksah, surga , neraka, atau jatuh menjadi binatang..
1. Ketika bhutayaksa bertemu dengan Dewarsi, Saptarsi, Pancarsi, Tri purusa terang bercahaya buddhi itu maka atman akan mencapai kamoksaan.
Sifati yang terbaik dari sang manusia itu adalah ketika memiliki sedikit sifati bhuta dalam Bhuta Yaksa, kemudian memiliki sifati dewata sedikitnya Sifat Dewarsi, Saptarsi, PancaRsi, atau Tri Purusha maka kelak Ia menuju Kamoksaan.
Sifat itu, sedikitnya memiliki sifat sperti kasih sayang kepada semua mahluk, tekun dalam tapa brata, senang melaksanakan puja arcanam puji-pujian, tekun dalam jnana yang seimbang dalam keserasian, dan mengetahui hakikat kebijaksanaan serta menahan diri dengan apa yang ada, makanan juga bersyukur.
2.Sifati selanjutnya akan membawa ia menuju swarga loka. Ketika bhuta dengen bertemu dengan Daitya, Widyadara, Dewa terang bercahaya buddhi itu, maka itu menyebabkan mencapai surga.
Paling tidak seseorang itu memiliki sifati lebih cepat puas akan apa yang didapatkan, dan sederhana, lalu mampu meredam amarah, namun tetap berani dan yang terpenting tekun dalam pelaksanaan dharma.
3.Ketika Sifati Bhutakala bertemu raksasa, Gandharwa bercahaya buddhi itu maka menyebabkan ia lahir menjadi manusia.
Namun apabila bhuta Paisaca bertemu dengan raksasa terang bercahaya buddhi itu maka atma jatuh ke neraka.
Sifat manusia yang perlu diperbaiki adalah ketika ia lobha terhadap makanan, dan tidak mampu memendam emosi, sastrghna atatayi senang mengamuk, namun senang pada keindahan. Ketika tidak mampu mengawasi tindak tanduknya, kelak ia akan menuju neraka loka sesuai sastra yang ada
4.Dan ketika hanya bhuta paisaca yang bercahaya buddhi itu, maka akan menjadi binatang. Sifati ini seperti binatang yang hanya hidup untuk makan saja.
Begitulah sifati manusia yang tersirat pada sastra Jnana Tattwa, semoga berkenan dan memberi manfaat.
Cek ricek
Pengaruh Tri Guna Maya terhadap Buddhi dalam Jnana Tattwa..
Kalvatar Tastra Aksara
Oleh :I.B.Lingga K.Wardana SE.M.Sos
(Gus Lingga)
Wa 081999012570



Tinggalkan komentar