Om Sembah Hring Ida Hyang Parama Kawi, Sweca Ida Ngicen Kerahayuan, Tan Hana Jnana Nanak Memargi, Wantah Nunas Genah Hring Kasunyatan, Satyaning Hredaya Nuju Shanti…

Kalki awatara adalah suatu entitas semesta raya yang dikatakan hadir pada akhir jaman. Ia sebagai protagonis sang pahlawan titisan Dewata (Sinar Suci Tuhan), dalam hal ini sebagai Bhatara Wisnu Sendiri yang hadir di dunia. Tujuannya adalah menghancurkan adharma dan menegakkan Dharma sebagai suatu kebenaran semesta raya. Sebagai awatara Bhatara Wisnu, maka disebutkan IA adalah dalam aksara Ung, sebagai Sthiti pemelihara, yang artinya IA hadir akan memelihara juga ruang-ruang di semesta untuk menjadi tempat berkembangNya Dharma secara seterusnya dan menyeluruh.
Sebagai awal, tentunya patut diberikan pedoman bahwa konsep-konsep tentang Dharma merupakan bahasa yang universal adanya. Sebagai kebenaran, kebaikan, kebajikan, kebijaksanaan yang menembus ruang apa pun, keyakinan, kepercayaan, sejarah, adab, dan sebagainya. Ini dapat disimak pada sloka Sarasamuscaya, yaitu :
Sarasamuscaya : ” Bahwa Dharma (kebenaran) itu universal adanya, IA bisa berasal dari mana saja, bahkan bisa berasal dari anak kecil, atau juga dari keyakinan yang lain”.
Maka dari sloka itu dapat disimpulkan bahwa KeDharmaan hadir di setiap seluk beluk ruang jiwa yang memahami, memaknai, menyatakan, melaksanakan tentang kebijaksanaan, kebajikan, dan juga kebaikan dalam kebenaran. Ruang itu seperti melintas pada bias-bias insani di setiap titik lintas dunia ini. Konsep dharma itu bernuansakan keuniversalan dalam suasana cinta juga kasih.
Dharma pada pembahasan pembahasaanNya, memiliki definisi yang kompleks, menyeluruh, namun selalu berkonotasikan keberpositifan dari sisi kemanusiaan itu sendiri. Manusia yang baik, benar dan berbudi adalah mencakup berbagai hal, yang dikatakan sebagai insan manusia yang protagonis dalam hidup ini.
Pada sejarahnya Ramalan dapat disimak pada Kitab Purana Kalki purana di mana akan banyak yang mneninggalkan yadnya, menyesatkan manusia dari jalan dharma, mengacaukan masyarakat, sehingga akan lahir suatu konsep kelahiran penegak dharma pada ruang jiwa yang bernama Kalki Awatara. Ini dikatakan ramalan setelah Kerajaan Gupta 7 SM. Sebagai sesuatu bahasa kelak lahir dan ditunggu. Namun ketika sesuatu yang agung ditunggu sebagai suatu bagian pengkultusan saja, atau bahkan ada pembiaran diri untuk selalu saja berprilaku yang jauh dari geliat Dharma, maka itu bisa jadi yang ditunggu hanya akan menjadi bagian yang “tidak patut ditunggu”, karena hanya akan memberikan shock theuraphy atas prilaku adharma yang dilakukan saat ini.
Kalki awatara hadir di mana suatu waktu kaki dharma hanya ada satu saja, dan adharma adalah lainnya,sehingga pada suatu persentase, dharma hanya 25 persen saja dan adharma 75 persen. Ini dapat dilihat pada konsep wiracarita mahabrata, di mana satus korawa melawan lima pandawa dan itu pun sebagai sebuah kemenangan dharma sendiri.
Kitab Purana (pustaka Hindu tentang mitologi, sejarah, dan pranata kehidupan) yang memuat ramalan tentang Kalki adalah Kalkipurana. Kitab Kalkipurana menghimpun sumber-sumber dari berbagai pustaka yang ditulis sebelumnya dalam mendeskripsikan Kalki. Disebutkan bahwa pada masa Kaliyuga, raksasa Kali akan merajalela di dunia, menyesatkan manusia dari jalan darma, dan mengacaukan masyarakat. Ketika manusia berhenti melaksanakan yadnya, maka saat itulah Wisnu akan turun menjelma sebagai putra keluarga brahmana. Ia akan terlahir di kerajaan suci bernama Shambala, tersembunyi di antara pegunungan Himalaya. Ayahnya adalah Wisnuyasa (Viṣṇuyaśa), seorang pemuja Wisnu yang taat, sementara Sumati adalah nama ibunya. Disebutkan pula bahwa ia memiliki saudara bernama Sumanta, Pradnya, dan Kawi. Ia memiliki kuasa atas perubahan masa dan menegakkan kebenarani, mengajarinya ilmu perang dan tapa brata untuk memperoleh kesaktian agar mampu mengendalikan berbagai senjata pusaka.Setelah tugasnya selesai, wujud Kalki akan berubah menjadi Sang Hyang Hari, lalu naik ke angkasa, mengawali zaman Satyayuga atau zaman kebajikan.
Sebetulnya dalam Arcanam Pujam sebagai pemaknaan atas simbol-simbol yang tercantum pada Sang Kalki Awatara, dapat dikatakan sebagai berikut :
1. Pedang : Pedang sebagai simbol senjata yang digunaka oleh kalki avatar adalah sebagai pemaknaan akan ketajaman pikiran atau kekuatan dari ilmu pengetahuan yang mampu menghancurkan permasalahan dan memberikan solusi atau meninggalkan ketidakberdayaan dari apa-apa yang menggoda dan menghadang manusia. Pentingnya sebuah ilmu pengetahuan dapat dilihat pada, Bhagavadgita Percakapan IV Sloka (33) dikemukakan : “ Persembahan berupa ilmu pengetahuan, Parantapa lebih bermutu daripada persembahan materi, dalam keseluruhannya semua kerja ini, berpusat pada Ilmu Pengetahuan, oh Parta”. Selanjutnya dalam Sloka (42) dikemukakan: “Sebab itu, setelah memotong keraguan dalam hatimu karena ketidaktahuan dengan pedangnya ilmu pengetahuan, berpegang pada yoga, bangkitlah, oh Barata”.
Pengetahuan akan Dharma itu pun melindungi mereka2 yang mengemban ketajaman pikiran itu sendiri. Maka seperti yang tercantum pada sloka sarasamuscya 18, “Dan kekuatan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan bagi yang melaksanakannya, ;lagipula dharma itu merupakan perlindungan orang yang berilmu; tegasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa triloka atau jagad tiga itu.”
Dan pedang sebagai suatu idep suatu pikiran yang tajam termsuk intuisi yang diasah dengan empat marga itu, akan menjadi seuatu yang bershadja sesuai proses karma pala dan kekuatan dharma yang agung. Apa pun jalan yang anda laku, maka akhirnya akan sampai pada “KU”, apakah itu bhakta, Karmin, Jnanin, Rahja maka nantinya akan menjadi kesucian dalam Wibhuti Marga, yaitu suatu “pencerahan”. Dan tidak ada jarak lagi antara Tuhan dan Suksma, Rahga, dan Sahadja.
Kekuasaan akan ilmu pengetahuan dan melalui lindungan Budi Dharma, telah pula dirayakan dan diperingati pada hari raya Tumpek Landep sebagai peringatan mempertajam ilmu, yang telah turun sebelumnya pada peringatan Hari raya Saraswati pada wuku watugunung. Yang juga telah dihayati sedemikian rupa pada keseharian.
2. Kuda. Kuda yang liar adalah sebagai suatu catur purusha artha, yang termasuk pula dharma di sampingnya, Dasar-dasar yang ada untuk menghancurkan musuh manusia yaitu kebodohan adalah, dharma, artha, kama ,moksa yang telah menjadi dasar itu sendiri. Selain pula Tri kaya parisudha sebagai lelaku etika yang berpikir, berbicara, berbuat dharmaning ksatrya mahottama. Dan kuda yang liar adalah mewakili sad ripu dan sad atatayi, atau mungkin seperti seven deadly sins, yang telah terbit pemahamannya. Maka jika kuda liar itu dapat dikelola dengan laksana satya, maka akan mewakili kecepatan intuisi untuk menelaah “putih” kesucian tuhan dalam menanggulangi setiap permasalahan yang ada.
3. Orang yang kalah, adalah ia yang bergerak pada adharma, ia yang bergerak dan mendasarkan dirinya pada jaman kali, mereka yang bersifat raksasa raksasi dan yang tiada berjiwa budi dharma.. mereka akan terkalahkan oleh pedang ketajaman ilmu pengetahuan, dan tergerus oleh kuda catur purusha artha yang akan tetap menang sepanjang masa.
Kemudian ada suatu klaim tersendiri mengenai Kalki Awatara sebagaimana disebutkan bahwa adalah Seorang Nabi dari suatu agama yang turun memberikan pencerahan-pencerahan. Suatu klaim sebetulnya adalah ruang kritisi pada objek yang dilihat, kemudian ada peniatan atas sesuatu (agar diakui), atau pula sebagai ranah penyebaran suatu keyakinan tertentu. Ada suatu frase yang sebaiknya dipikirkan kembali sebelum melaksanakan klaim-klaim tertentu, yaitu :
- 1. Klaim akan menimbulkan chaos atas keyakinan yang telah dipelajari sebagai falsafah, akan menimbulkan pemberontakan jiwa atas nilai-nilai makna religi, sehingga mendegradasi etika, serta moralitas. Maksudnya adalah ketika suatu klaim dilakukan, maka akan masuk ranah ritual apa yang telah digunakan untuk mengakui, ketika Hindu telah dikenal sebagai konsep tattwa susila upacara, apakah suatu konsep itu sudah dipelajari secara mendalam, atau malah keyakinan yang akan terkonversi, sedangkan suatu agama adalah sebuah pembahasaan pengenalan atas Hyang Agung itu. Siapa yang akan disuruh berkonversi, apakah nanti misalkan pengikut nabi itu mengikuti Hindu, atau Hindu yang harus berkonversi.
- 2. Klaim akan menimbulkan pertanyaan mendasar secara tattwa falsafah yaitu, Apakah betul jadinya nabi itu adalah seorang Waisnawa yang notabene adalah menjadi seorang Hindu, atau ajaran-ajaran yang dilaksanakan, disebarkan olehnya itu sebenarnya berkarakter Hindu, dan apa yang kemudian masuk ranah ritual upacara sampai kedalaman memaknai Purusha Pradana Mayaguna, persoalan etika susila dalam ranah hindu seperti tri kaya parisudha, catur asrama, panca sradha, mengenal sad ripu, sad atatayi, sapta timira, asta brata, dewata nawa sangha,dan sebagainya. Tentunya perjalanan panjang memahami dharma, perjalanan melaksanakan, meyakini kebenaran dharma, adalah cara untuk pengakuan atas itu. Seperti juga klaim tentang candi borobudur, apakah pertanyaannya sama, siapa yang harus memeluk buddha, siapa yang harus memeluk agama yang mengklaim? apakah sanggup dan mampu? atau malah mendegradasikan menurunkan derajat dari keyakinan yang dianut.
- 3. Klaim akan mereset sesuatu dari awal, yaitu menggunakan default faith yang sejatinya ada di dalam dirinya, tentunya kembali ada ranah-ranah yang perlu terpahami, kembali dipaksa dikondisikan ulang agar menyesuaikan dengan klaim itu.
- 4,Klaim akan menggoncang justifikasi bahkan dari ruang transenden yang imanen. Maksudnya adalah pembahasaan tentang Hyang Agung atau Tuhan Yang Maha Esa, akan menjustifikasi dari bagian jiwa yang meyakini itu. Kekuatan besar semesta misalnya yang terdapat dalam keyakinan agama, akan sama-sama memberikan penilaian (judgment) pada pemikiran, perkataan, prilaku yang melakukan klaim. Ketika ia memahami keyakinan secara mendalam, maka pada waktuNya kejiwaan itu akan berhadapan pada berbagai norma, aturan, filsafat, syarat, dari klaim tersebut. Sah-sah saja bagi yang sudah sampai pada tahapan peniatan Maya Guna Sattwika, kalau malah mendegradasi moralitas sebagai hasilnya, maka tidak menjadi nilai yang bermanfaat.
- 5.Akan tetapi klaim bisa berpeluang kecil menjadi nilai-nilai yang positif, yaitu ada pembenturan falsfah hegel yang menyebutkan Tesis, Antitesis, menjadi Sintesis. Yang akhirnya telah terjadi pada ranah nusantara yang menyebutkan bahwa aliran Shiwa Buddha yang bersumber pada sekte-sekte yang disatukan oleh Mpu Kuturan. Dan itu menjadi suatu peradaban tersendiri, sebagai suatu perjalanan yang sangat-sangat panjang. dan berasal dari berbagai konflik yang ada.
Pada dasarnya suatu agama adalah tentang bahasa saja untuk mengenalNya. Mengenal suatu pembahasan tentang IA sebagai Hyang Maha Agung. Pada Konsep Kehinduan yang berasal dari literatur kearifan lokal, seperti Wraspatti tattwa menyebutkan bahwa Sunya dulu kemudian berkehendak, lalu muncullah dari dalam diriNya sendiri, sang Maya Guna sebagai pradana. Sebuah konsep penciptaan terjadi, sehingga sampai pada Atma Tattwa tentang terciptanya jiwa atau ruh, yang mendiami semesta dalam badan yang berisikan lima unsur (apah teja bayu akasa pertiwi) tidak satu unsur saja. Dan pengajaran tentang kesusilaan, etika dalam kehidupan yang secara mendetail disebutkan dalam Sarasamuscaya sebagai intisari Mahabrata itihasa. Serta konsep-konsep Karmapala Tattwa, Samsara, dan akhirnya mencapai Kamoksan.
Samsara Tattwa berhubungan erat dengan Karmapala Tattwa sebagai sancita, pradabda, krymana karmapala . Lalu ketika berhadapan Samsara dengan Kamoksan, akan memberikan konsep Swarga, Naraka , dan Kamoksaan.
Kembali lagi pada Kalki awatara yang merupakan awatara kesepuluh, yang pada dasarnya menjadi bagian perjalanan dunia serta ajaibnya menapaki sebuah ketidakbersadaran yang kolektif. Hal ini dimaknai oleh Carl Jung seorang psikolog yang mengembangkan suatu teori kepribadian yang berdasarkan dari pemahanan dirinya dan banyak bersumber pada dialog oleh filsuf-filsuf Timur. Kepribadian yang didasarkan pada ketidakbersadaran kolektif dimaknai oleh simbol-simbol yang relatif sama pada keseluruhan peradaban dunia. Yang pada akhirnya bisa dimaknai ada suatu bahasa-bahasa intuitif yang secara kolektif hadir sebagai simbol-simbol tertentu yang disebut arketipe, yang menyusun ruang jiwa setiap manusia, walaupun dengan peradaban yang berbeda.
Sebagai contoh adalah konsep arketipe Ibu, yang berada pada Pradana Maya Guna, kemudian pada Bunda Maria, Mahenjodaro Harappa, Ibu pertiwi, Dewi kesuburan, dan sebagainya, yang muncul sebagai ketidakbersadaran kolektif setiap manusia. Ini termaknai pada berbagai kasus-kasus yang ia teliti, termasuk arketipe anima animus, arketipe shadow, trickster, dan sebagainya. Anggapan itu juga masuk pada kisah-kisah yang relatif sama pada kisah cinta romeo juliet, laila majnun, atau kisah ramayana, begitu juga kisah-kisah cinta modern yang sebagai pengulangan atau repetisi dari arketipe yang sejatinya ada di setiap jiwa manusia.
Dan begitu pula pada bahasa agama yang notabene berasal dari peradaban yang berbeda. Ketidaksadaran kolektif itu bisa jadi membuat suatu konsep intuitif tentang Yang Transenden Imanen, sebagai objek dan sebagai pembentuk subjek dari yang mengamatiNya. Agama sendiri dapat dikatakan sebagai sistem yang telah terangkum berdasarkan perjalanan waktu, dan dikatakan sebagai cara hidup, way of life, untuk mencapai kebersadaran yang penuh, untuk memahami tentang Sang Transenden Imanen itu. Keterpenuhan pemahaman itu jua yang menjadi penantian berabad-abad serta pembelajaran berabad-abad sampai pada pengimplementasian dari teks-teks suci yang ada, pada kehidupan sehari-hari.
Pengaplikasian itu tercerminkan pada berbagai ritual-ritual yang ada, sebagai pengejawantahan simbolisme yang ada pada ruang sakral kepadaNya. Itu pun menjadi perjalanan spiritualitas yang membawa pada tujuan keterpenuhan pemahaman tentang Sang Transenden Imanen itu. Dan perjalanan itu sampai pada laku-laku spritualisme dari berbagai Agama-agama yang ada sehingga awal dari ketidakbersadaran kolektif itu, menjadi semakin terbuka dalam jalur-jalur intuitif yang mengkhusus pada individu-individu yang melaksanakan praktek spirit tersebut. Dan pada akhirnya sampai pada sebuah kehausan kerinduan akan kehadiranNya di semesta ini. Saat itulah berbagai ramalah-ramalan tentang kehadiranNya kembali, menjadi bagian arketipe-arketipe maha besar dari masing-masing Agama.
Ambil saja dari Hindu tentang Kalki Awatara, ada Buddha Maitreya, Imam Mahdi, Ratu Adil, Kebangkitan Kembali Sang Juru Selamat, atau Sabdo Palon, Satrio Piningit, Satrio Pinandito dan lain sebagainya. Ini pada suatu konsep keagamaan menjadi arketipe-arketipe besar yang secara simbolik ada kerinduan besar atas hadirnya IA menjadi imanensi yang tinunggal pada dunia ini. Tentu saja bagi yang berada di lingkaran lawannya sebagai yang selalu berprilaku tanpa etika, itu menjadi momok menyakitkan, akan tetapi di sisi lain bisa menjadi suatu penyelamat satu-satunya. Pertanyaannya adalah, apakah manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dalam siklus kehidupan di dunia? Atau apakah manusia terbagi menjadi seseorang yang telah menjalani sisi keagamaannya sendiri, dan yang tidak atau belum melaksanakan, kemudian menemukan sendiri bahwa proses untuk menjalani keagamaannya sendiri sebagai tuntunan, telah pula membawanya semakin dekat pada kebersadaran akan Keterpenuhan Pemahaman yang pada akhirnya menjadikan “itu” diri mereka sendiri.
Rahasia-rahasia pengungkapan mistis dan kerumitan pada suatu bahasa jnana, membawa manusia pada suatu penolakan untuk memahami lebih dalam. Perjalanan itu kemudian hanya menjadi degradasi jiwa, yang mengikat manusia pada sisi-sisi material, jerat-jerat maya guna saja. Akan tetapi pada lingkup etika susila yang dijalani dengan baik pada dharma yang universal, bisa membawa pada peningkatan-peningkatan kualitas jiwa dan kehidupan yang mengarah pada pembebasan.
Sehingga suatu saat ketika keterpenuhan itu terjadi, maka imanensi manusia tersebut, bisa memiliki konsep pada kerinduan itu pula. Secara mudahnya bisa disimak pada setiap agama tentang manusia-manusia telah sampai pada kebersadaran seperti “Sangkan Paraning Dumadi”,”Manunggaling Kawulo Gusti” “Anna Al Haq-Syeh Siti Jenar atau Al Hallaj” yang hidup pada jaman di mana etika susila tidak dijewantahkan dengan benar. Beruntung sekali sekarang berada di jaman atau periode peradaban sains di mana filsafati moral serta ruang-ruang hidup manusia dimaknai sangat sakral adanya. Atau tentang konsep “Aham Brahman Asmi”, “Atman Brahman Aikyam” yang dalam hindu menjadi sesuatu yang telah dewasa sepenuhnya, namun tetap pada norma-norma yang berlaku dan tidak bisa dipaksakan pada budaya peradaban masing-masing. Tidak akan ada namanya pengkultusan pada konsep ini, karena pola-pola struktural, sesana memiliki aturan-aturan yang mengikat berdasarkan sor-singgih yang dianut. Mudahnya tidak ada seorang yang masih hidup dipuja-puja sedemikian rupa, disembah, sebagai kultus, dan menyamai Tuhan. Kecuali tentang tutur-turunya yang suci sebagai dianggap sebagai rsi untuk pengucapan terima kasih dalam bentuk rsi yadnya karena jasanya , yang telah memberikan tuntunan juga mantra. Dan tentunya setelah meninggalkan alam ini Bhur loka, ada ruang pitara yadnya yang mengangkat jiwa manusia menuju Bwah Swah loka menjadi leluhur yang bisa dipuja, dimintakan petunjuk dalam, pitara yadnya sebagai pembayaran hutang.
Di sisi sejarah nusantara sendiri, ada beberapa pemimpin yang diibaratkan sebagai titisan Hyang Wisnu, seperti Raja Airlangga, sebagai raja yang melaksanakan Asta Brata dan setelah tiada, dibuatkan candi untuk mengenangnya sebagai bagian sejarah bahwa pernah ada Raja yang mampu melaksanakan Asta Brata dalam kehidupannya. Sebagai bukti pengakuan ImanensiNya pada manusia. Atau tentang kisah Raja Jayabaya yang dikatakan titisan Wisnu. Seperti konsep Manusia Setengah Dewa Iwan Fals sejarah nusantara itu kalau mau sedikit diibaratkan di masa sekarang :-).
Kesimpulan yang ada adalah mempelajari suatu simbolisme yang agung adalah membuka ruang jnana sang cittaning budhi yang telah ada sebagai sebuah ketidakbersadaran kolektif, dan menjadi suatu kebersadaran yang berkepenuhan atas IA sang transenden yang imanen. Sehingga kelak kerinduan itu terobati saat ini atau nanti dengan suatu perjalanan yang disebut kehidupan kebersyukuran dari Sang Hyang Agung.
Dan semoga bisa berhati-hati ketika perjalanan ini menjadi bermakna, dan tanpa dasar prilaku bersusila pada Universalitas Sang Dharma, maka hanya akan menjadi waham serta menuju pada candu religius ala Freud.
Gus Lingga
Kalvatar Bali


Tinggalkan komentar