Om Ksama sampurna ya namo nama swaha, sirna timira ring panca ning maya kosha, duka lara rogha sangsaya tinemu hring raharja, laksana hredaya satya sang jadma tan weruh iki, mogi lebur ring sidhi Ida Hyang Parama Kawi.

DIAGNOSIS CARA TERAPI DARI PENGETAHUAN AYUR WEDA (USADA)

USADA SEBAGAI AYURWEDA BALI

  1. Sejarah Usada sebagai Ayurweda Bali

Usada adalah konsep ayurweda bali, secara tradisional usada berasal dari kata sansekerta yakni Ausadha yang berarti tumbuhan-tumbuhan yang berkhasiat obat, atau dibuat dari tumbuh-tumbuhan. Namun di Bali pengertian lebih meluas yang artinya tata cara menyembuhkan penyakit, cara pengobatan (kuratif), cara pencegahan (preventif), memperkirakan jenis penyakit (diagnosis), maupun perjalanan penyakit dan pemulihannya (prognosis). Disebut juga sebagai suatu ilmu pengobatan yang ramah terhadap lingkungan dan bersumber dari berbagai lontar-lontar yang ada. (Nala, 2021)

Pada Abad X ketika Raja Dharma Udayana kawin dengan Putri Mahendradatta Jawa Timur, pengetahuan lontar ditulis dengan baik, dari waktu itulah usada sebagai pengobatan menjadi awal mula pengetahuan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Kemudian pada abad XI Empu Kuturan hadir di Bali berdharma yatra dan mendirikan konsep Khayangan Tiga, yang terdiri dari Pura Desa, Puseh serta Pura Dalem, di mana pura dalem lah yang memuat mitos menyatakan bahwa Bhatari Durga sebagai penyebar penyakit. Kemudian pada tahun 898-910 M terdapat perkembangan Ramayana di jawa yang berisikan sloka :

 Sloka usada usadi.

“ri sedeng sang hyang dumilah,

diniwedyaken ikanang niwedya kabeh,

usadi lan palamula,

muwang kembang ganda dupadi”

dan pada kitab Kitab Adiparwa Mahabrata pada jaman raja Dharmawangsa (991-106)

Mojar Bhagawan Kasyapa :

“Ai kamung Naga Taksakan nahan tang wreksa waringin paripurna sambhadania hanapwang sedeng amadung kayu ikang pinaneknya ri wit nikang wandira ya tika gesengana tekapnya aku tumambanan ring mantrosadha sarpabisa pangawruhanta mantraku sakti”

Artinya: Hai kamu naga taksaka itu ada pohon beringin yang amat rindang ada yang sedang memotong kayu yang dipanjatnya di pohon beringin hendaklah kamu bakar, akulah yang akan mengobati dengan mantra bisa ular, ketahuilah bahwa mantraku sakti.

Kedatangan Dang Hyang Dwijendra (1460-1550) Usada lebih digalakkan lagi dengan penulisan begitu banyak lontar-lontar Usada. Usad Sari, usada budha kecapi, taru pramana, usada dalem,netra, sasah bebai, tatenger beling, dan lain-lainnya.

Usada adalah cara luhur orang bali (nusantara) untuk mengobati penyakit, belajar usada artinya belajar ilmu leluhur dan melestarikannya. Ruang  modernitas menghasilkan efek samping dan permasalahan baru, psikomatis meningkat, kehilangan nilai spiritualitas, materialisme yang menggerogoti mental, begitu banyak keinginan “Kembali Menuju Akar”.

Usada merupakan suatu yang bersinergi untuk menguatkan mental dan spiritual serta menjaga harmonisasi kehidupan kepada alam Palemahan(herbal sebagai kekuatan), Pawongan (pendekatan personal memperbaiki mentalitas dan spiritualitas), Parahyangan (mendekat pada sang Empunya hidup).

  1. Analisis Swot

Analisis untuk mengembangkan konsep usada pada jaman modern ini, bisa menciptakan suatu pemahaman tentang bagaimana sebagainya konsep usadah sebagai ayurweda bali berkembang secara baik di masa depan. Analisis Swot itu adalah sebagai berikut :

  1. Strength kekuatan dari Usada Bali adalah konsep spiritualitas bali yang mengakar, dan masih adanya lontar-lontar yang membentuk system usada, penelitian tentang keluhuran kearifan local di Bali berkembang pesat, kebudayaan bali yang ajeg yang ditunjang penemuan, penelitian akademis sebagai manfaat, Kecintaan masyarakat Bali dengan “dirinya” sendiri masih cukup besar.
  2. Weakness perlu adanya suatu peningkatan keyakinan sraddha tentan tattwa di Bali, Susila yang dikuatkan, upacara yang perlu dimaknai mendalam agar tidak berfokus pada ceremonial saja.
  3. Oppoturnity adanya suatu Gerakan Wellness Tourism, serta kecendrungan untuk Kembali pada kebijaksanaan kearifan local (baca:nusantara), dan peran peraturan pemerintah pusat atau daerah, yang mendukung memberikan jalan pengembangan usada pengobatan tradisional.
  4. Threat atau ancaman, usada bali perlu memahami di bagian mana selayaknya ia berada, untuk memberi kebermafaatan pada jaman modern ini. Jaman Posmodern memberikan peluang namun juga ancaman dari usaha pendegradasian makna usada itu sendiri.

Tentunya hal ini bisa menjadi bahan untuk menguatkan kajian-kajian tentang perkembangan kesehatan tradisional usada bali.

  1. Fungsi Umum Usada Bali

Secara mendasar dapat dikatakan fungsi-fungsi umum yang sejatinya hadir dalam penerapan konsep mendiagnosa penyakit secara umum. Fungsi-fungsi tersebut adalah :

  1. Promotif meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat akan hidup sehat. Jadi dalam hal ini ada suatu penyadaran atas suatu pengetahuan tentang berbagai cara-cara untuk meningkatkan kesehatan bagi masyarakat luas.
  2. Preventif untuk pencegahan penyakit yang merupakan konsep atau cara-cara khusus dalam menjaga suatu kesehatan tubuh agar terhindar dari suatu penyakit tertentu.
  3. Kuratif untuk mengobati dan penyembuhan penyakit. Hal ini dilakukan dengan berbagai metode-metode tertentu untuk menghilangkan berbagai masalah-masalah karena suatu penyakit tertentu.
  4. Rehabilitatif untuk memulihkan kemampuan fisik, mental, atau sosial pasien yaitu sebagai cara penguatan-penguatan terhadap pasien ketika usai melakukan pengobatan-pengobatan terkait.

II.ELEMEN UTAMA USADA (AYURWEDA) BALI

2.1. Elemen-elemen Usada Bali

  1. Lontar Usada : Sumber-sumber pengobatan yang berasal dari kearifan local.
  2. Taru (Tanaman Herbal Usada): Herbal yang digunakan untuk sarana pengobatan dengan cara diminum, diboreh, ditutuh, disimbuh, dihirup, diusap, pemijatan, dsb.
  3. Mantra dan Doa : Energi dan kekuatan untuk membuat pengobatan masuk pada ranah jiwa dan dengan bantuan kekuatan semesta.
  4. Balian: Pengobat tradisional yang memiliki metode khusus, terukur, dengan intuisi yang tajam, memiliki taksu tersendiri, sebagai media penyembuhan dari Hyang Widhi (semesta)
  5. Ritual dan Sesajen : Bahasa yang digunakan untuk menghubungkan diri dengan kekuatan semesta, serta konsep wijaksara, aksara tastra, kanda pat, dan sebagainya.
  6. Energi dan Spiritualitas : Daya spirit kedekatan dengan energi semesta, yang muncul dalam ranah buana agung dan buana alit yang tersinkronisasi pada pola-pola yang teratur, purusha pradana, tri guna tattwa, cadu shakti, dsb.
  7. Diagnosis Tradisional : cara diagnosis tradisional dengan perspektif berbeda, intuitif sekaligus dengan pengetahuan tatenger kutus, kondisi sapta cakra, tri ala (tri dosha), tenung wariga wewaran (tarot, palmistry, oracle, numerology,dll), yinyang, dan lainnya.

Elemen dasar Usada menurut Sukartha (2014) dapat pula disampaikan sebagai berikut untuk memperlihatkan apa yang terdapat pada ruang usada itu.

  1. Pendekatan universal yang menekankan pemakaian dan relevansi pada hal yang bersifat universal, sehingga bisa digunakan di mana saja.
  2. Tubuh memiliki kaitan sangat erat dengan jiwa serta pikiran manusia, sehingga dengan meperbaiki, memahami jiwa dan pikiran, mampu untuk mencapai keharmonisan hidup. Konsep pembagian jiwa seperti pada panca maya kosha, Suksma dan stula sarira.
  3. Penyakit manusia terdiri dari dua faktor penyebab, faktor utama dan faktor kedua.
    1. Faktor utama adalah ketidakseimbangan dari Tri ala, tri pramana, tri datu, satwik rajas tamas, vatta pitha kapha, konsep yinyang tubuh, sapta cakra.
    1. Faktor kedua adalah dari luar yaitu bibit penyakit, virus bakteri, organisme luar,kuman, yang masuk karena ketidakseimbangan faktor utama itu.
  4. Obat-obatan yang berasal dari bahan tumbuhan, Binatang, logam mineral batu-batuan yang diolah menjadi obat dan bukan racun, untuk mengobati dan merangsang kekebalan tubuh.
  5. Usada beranggapan ada buana agung buana alit yang selalu berhubungan dan terkoneksi, dan apa yang ada di alam diri ada di buana agung.
  6. Usadha adalah ilmu yang ramah lingkungan.

2.2. Pengetahuan Dasar Usada (Ayurweda) Bali

Ada sembilan pengetahuan yang harus dipahami tentang Usada oleh seorang Battra (Nala,1997). Hal ini bisa dikatakan akan membuat seorang usada menjadi lebih kuat dalam memahami intuisi semesta dan dasar untuk mendiagnosa berbagai penyakit-penyakit tertentu.

  1. Darsana Agama : Sad Darsana enam filsafat tentang Kehinduan
  2. Nyaya : Resi Gautama : Penalaran logis dan epistemology menitikberatkan pada logika memahami semesta, tuhan, jiwa dan pembebasan.
  3. Vaisesika : Resi Kanada : Ontologis atau kajian tentang keberadaan, alam semesta terdiri dari berbagai atom-atom abadi yang digerakkan Tuhan.
  4. Samkhya : Resi Kapila : filsafat dualism tentang purusa-pradana
  5. Yoga : Resi Patanjali: Latihan praktis spiritualitas untuk mencapai kesadaran Tuhan.
  6. Purwa Mimamsa : Resi Jaimini : Tentang ritual weda serta kewajiban dharma.
  7. Uttara Mimamsa Vedanta : Resi Badarayana : Kajian tentang Brahman, Dvaita, Advaita, hubungan atman dengan brahman.
  8. Tattwa Purusha pradana : tentang purusha adalah sumber jiwa dan pradana adalah tubuh yang dihidupi purusha.
  9. Tattwa Bhuana Mabah : koneksifitas antara bhuana alit dan bhuana agung, mikrokosmos serta makrokosmos.
  10. Tattwa Siwatma: Konsep Siwaisme, sebagai paramasiwa, sadasiwa, siwa dalam ranah Tuhan Yang Maha Esa.
  11. Tattwa Triguna : Konsep Maya Prakerti, keseimbangan dari Satwik, Rajas, Tamas,
  12. Dewata Nawa Sangha : Pengetahuan tentang manifestasi Hyang Widhi Wasa yang berada dari Segala penjuru mata angin, sebagai penguasanya serta memiliki fungsi dan karakteristik masing-masing, memengaruhi kondisi semesta buana agung, serta segala hal yang berada di dalam diri, bhuana alit.
  13. Wijaksara : Aksara-aksara yang sakral dan dengan memahaminya dapat digunakan untuk melakukan suatu proses pengusada, sekaligus meningkatkan kualitas diri.
  14. Kanda Pat : Empat saudara yang dibawa dari lahir, dan berkembang sesuai waktu tubuh, serta peningkatan kualitas diri, berfungsi sebagai penjaga, pelindung, pada kehidupan.
  15. Rwa Bhinedda : Konsep yang saling beroposisi berlawanan, yang mutlak ada di kehidupan.

2.3. Jenis-Jenis Pengusada Battra Ayurweda

  1. Balian Kapican : Balian yang mendapatkan suatu pengetahuan atau jnana, serta mendapatkan berkat menyembuhkan karena mampu menggunakan pica (benda bertuah) yang berasal dari berbagai tempat dan waktu, untuk mendiagnosa penyakit serta menyembuhkannya. Pica itu bisa berupa berbagai benda-benda sakral yang memiliki suatu energi tertentu untuk penyembuhan.
  2. Balian Katakson : Balian yang mendapatkan kekuatan karena mendapatkan atau kemasukan Taksu,roh atau kekuatan entitas gaib yang menjadi sesuhunan-nya untuk mendiagnosa penyakit, serta menyembuhkannya. Simak Kisah Sahadewa dan Bhatari Durgha, Sesuhunan yang ada di Bali atau Nusantara secara umum ada (sugra tabik pekulun)Ida Ratu Niang, Ida Dalem Ped, Ida Hyang Giri Putri, Sang Hyang Taksu, Ida Ratu Malen, Ratu Laut Selatan, dan sebagainya.
  3. Balian Usadha : Balian yang belajar ilmu jnana tentang pengobatan, dengan pembelajaran aguron-guron berdasarkan literatur-literatur wajib dari suatu lontar-lontar yang berhubungan dengan Usadha. Lontar-lontar wajib seperti Bodha Kecapi, Genta Pinarah Pitu, Sastra Sanga, Usada Ratuning Usada, Tutur Bhuana Mabah, Usada Bang, dst. Sehingga Ia mampu menggunakan jnana widya itu untuk mendiagnosa penyakit, membuat obat dengan herbal, serta memiliki pikiran yang tajam tentang suatu penyakit itu

III.DIAGNOSA USADA (AYURWEDA) BALI

3.1. Catur Pramana Usada

Catur Pramana usada adalah empat cara awal untuk mengetahui suatu penyakit, oleh Sukartha(2014) menyebutkan keempat itu adalah kekuatan utama pengetahuan dari pengusada untuk mengetahui ciri-ciri bagaimana suatu penyakit itu disebabkan. Catur Pramana itu adalah:

  1. Pratyaksa Pramana adalah mengetahui penyakit dengan cara memeriksa langsung melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, dan perabaan.
  2. Anumana Pramana adalah dengan cara mengetahui penyakit melihat tanda-tanda saja, lalu menarik kesimpulan. Seperti melihat tinja atau dahak, penyakit yang belum diketahui.
  3. Sabda Pramana yaitu mengetahui penyakit dengan mendengar keterangan pasien untuk dapat mengetahui penyakitnya.
  4. Agama Pramana yaitu dengan menggunakan tenung atau pengetahuan yang berkaitan dengan ramalan, serta pengetahuan yang berasal dari teks-teks agama.

Kemudian dapat disebutkan berbagai Prinsip Pemeriksaan penyakit :

  1. Dharsana pemeriksaan melalui pengamatan, termasuk dengan cecorong.
  2. Spharshana yaitu pemeriksaan dengan sentuhan.
  3. Prahsna pemeriksaan dengan tanya jawab.
  • Penggolongan penyakit atas penyebabnya
  • Adyatmika adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor-faktor di dalam tubuh, yang disebabkan ketidakseimbangan antara elemen-elemen di dalam diri, termasuk juga penyakit kejiwaan.
  • Adibala prwrta merupakan penyakit keturunan secara genetika.
  • Janmabala prawrta penyakit yang diperoleh saat berada dalam kandungan.
  • Doshabala prawrta penyakit yang terjadi akibat ketidakseimbangan pada unsur Tri Dosha
  • Adhidaiveka penyakit akibat pengaruh dari luar diri.
  • Kalabala prawrta penyakit akibat pengaruh musim.
  • Daiwabala prawrta penyakit gangguan niskala. (bebai, gering agung, cetik)
  • Swabhawa bala prawrta penyaki akibat gangguan sekala, natural dan tampak,seperti kena api, kena batu
  • Adhibautika adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor dari luar tubuh seperti kuman, bakteri, virius, dan racun atau bisa disebut sebagai penyakit akibat kena benda tajam.

Penggolongan penyakit atas penyebabnya selanjutnya dapat dilihat pada konsep konsep di bawah ini (Sukartha, 2014) :

  1. Pawetuan adalah penyakit yang diakibatkan faktor kelahiran, keturunan, atau penyakit datang dari dalam tubuh.
  2. Kawisianan yaitu penyakit yang disebabkan oleh racun, makanan minuman, dan perbuatan orang jahat.
  3. Kameranan penyakit yang disebabkan oleh merana (Binatang) kutu-kutu, virus, roh-roh jahat, atau perubahan cuaca.
  • Unsur-Unsur Tubuh Manusia

Unsur-unsur dari tubuh manusia dapat dibagi menjadi Stula Sarira dan Suksma Sarira yaitu badan kasar dan badan halus. Badan kasar dan badan halus tersebut dalam konsep yang tercantum dalam Upanishad dibagi menjadi lima yaitu :

  1. Anna Maya Kosha yaitu badan kasar yang terdiri dari unsur pembentuk panca maha butha, membentuk organ-organ tubuh serta berbagai jaringan. Panca Indriya yang menghubungkan manusia dengan dunia luar. Organ-organ tubuh yang juga memiliki fungsi tersendiri dan aksara nawa sangha yang khusus berada pada posisi tersebut.

Aksara Nawa Sangha berada pada organ-organ tubuh, secara umum dapat dijelaskan, bahwa Aksara Sang pada Jantung, Aksara Bang di Hati, Aksara Tang di Ginjal, Aksara Ang di Empedu, Aksara Ing di tengahing hati, Nang di paru-paru, Mang di Usus, Sing di Limpa, Wang di Kerongkongan, Yang di rangkaian Hati.

  • Prana Maya Kosha yaitu badan halus Suksma sarira yang berisikan energi, atau bermakna nafas, dan menggambarkan kekuatan diri, terkoneksi dengan kondisi buana agung. Dapat diukur atau dimaknai dengan kondisi dari sapta cakra tersebut.
  • Cakra Muladhara menggambarkan kondisi stamina serta mengendalikan dan memberi daya gerak pada alat-alat tubuh, secara psikologis menggambarkan tingkat kenyamanan diri. Tempat di sekitar tulang ekor dan berwarna merah. Bernuansa pertiwi. Berhubungan erat dengan pelepasan di anus, Kesehatan kaki, stamina diri, tulang belakang, sistem rangka, usus besar.
  • Cakra Swadisthana berada di sekitar pangkal paha sebelah atas kemaluan, yang terhubung dengan kelenjar kemaluan, digambarkan berwarna orange. Secara psikologis bermakna tentang kepercayaan diri terhadap inner beauty, tentang daya Tarik kepada lawan jenis. Bernuansa Air. Organ yang berhubungan adalah organ reproduksi, kandung kemih, ginjal.
  • Cakra Manipura berada di daerah pusar, solar plexus sebagai lambing ambisi dan mendengdalikan keseimbangan panas tubuh, serta yang berhubungan dengan organ pencernaan, bernuansa api. Organ yang berhubungan yang lain perut, hati, pancreas, usus kecil.
  • Cakra Anahata berada di daerah Jantung yang mengatur organ jantung, beserta organ paru-paru, bernuansa angin. Secara psikis melambangkan rasa empati simpati terhadap mahluk dan dunia. Memengaruhi juga peredaran darah, dan kelenjar imun (timus)
  • Cakra Wisuddha berada di kerongkongan sebagai akasa ruang atau ether. Berfungsi menjaga alat untuk berbicara, dan beruhubungan dengan aliran udara di kerongkongan tenggorokan, mulut, lidah juga sekitarnya. Secara psikologis melambangkan kewibawaan dan kemampuan berkomunikasi. Cakra ini memengaruhi juga kelenjar tiroid, paru-paru bagian atas.
  • Cakra Ajna di antara alis dan dahi, yang merupakan pengatur seluruh cakra, sebagi kelenjar utama, hippotalamus system saraf. Kecerdasan dan intelektualitas, intuisi, dan memengaruhi kepala mata, hidung, atau telinga, kelenjar pineal (kerucut pinus di tengah otak-hormon melatonin) dan hipofisis(lekukan tulang tepat di bawah otak-hippotalamus)
  • Cakra Sahasraha mahkota yang merupakan cakra terkoneksi langsung kepada energi semesta, yang memberri kehidupan, dan tanda-tandi keilahian. Organ terkait adalah otak system syaraf pusat, kelenjar pineal.
  • Mano Maya Kosha badan untuk berpikir yang berisikan pengambilan keputusan, serta mengelola kehidupan. Berhubungan dengan bagaimana jiwa mengendalikan semua indriya yang terdiri dari sepuluh indriya.
  • Panca Budhindriya adalah Caksu Indriya yaitu Mata, Shrotra Indriya yaitu telinga, Ghrana indriya hidung, Jihva Indriya lidah, Twak indriya kulit.
  • Panca Karmendriya adalah untuk melakukan kegiatan tertentu dan diperintah oleh mano maya kosha yaitu Wak indriya berbicara, Pani Indriya tangan, Pada Indriya kaki, Payu indria anus, Upasthe indriya Alat kelamin.
  • Wijnana Maya Kosha adalah badan yang penuh kebijaksanaan, sebagai pusat intuisi atau pembawa keputusan terhadap sesuatu permasalahan, yang dikembangkan dengan memahami sang Buddhi. Dalam Wraspatti Tattwa disebutkan Catur Aiswarya Buddhi yaitu beberapa konsep cara untuk meningkatkan kualitas diri, dan membuka kecerdasan semesta, serta menerima kebaikan pahalaNya.
  • Dharma Buddhi yaitu tekun dalam melakukan tapa, puja, japa, dan melaksanakan yoga, mantra samadhi.
  • Jnana Buddhi yaitu tekun dalam mempelajari pengetahuan, baik pengetahuan rohani, maupun yang berguna di dunia, serta menjadi bermanfaat.
  • Vairaghya Buddhi yaitu Latihan dan tekun dalam menekan hawa nafsu, seperti berpuasa, atau melakukan brata yang berhubungan dengan penguatan mentalitas diri.
  • Aisrwarya Buddhi yaitu hidup dengan penuh keseimbangan dan tetap menjalankan kebajikan serta kebenaran.
  • Antahkarana Sarira adalah badan penyebab, urip, atman, yang menghidupkan, sebagai pula perwujudan koneksifitas Paratman dan Atman. Sumber kehidupan Purusha, yang cetana penuh kesadaran. Dapat dirasakan pada mereka yang telah mengalami proses-proses tertentu, sehingga acetana memiliki pencerahan menuju keberadaan cetana.
  • Penyakit Akibat Ketidakseimbangan Unsur Diri

Penyakit yang diderita juga bisa disebabkan oleh ketidakseimbangan antara berbagai faktor-faktor yang ada dalam buana alit, tubuh kita yang juga merupakan bagian dari buana agung. Faktor-faktor itu dalam usada (ayurweda ) bali antara lain :

  1. Tri Guna Prakerti : Bahasa lainnya adalah maya guna, maya guna prakerti adalah bahan untuk menciptakan semesta, dan merupakan suatu kualitas pada semesta tanpa terkecuali. Maya Guna prakerti adalah
  2. Sattwika Guna : Guna dalam bentuk keseimbangan, keteraturan, kebijaksanaan, kebaikan, stabil, lembut, cahaya, aktif teratur. Pada konsep Kesehatan diri, maka ini adalah sesuatu yang disebut sehat, Ketika semuanya mengalir seimbang dan kondisi terbaik yang dimiliki. Penyakit yang telah terdiagnosa akan diarahkan menuju kesifatan ini untuk bisa mendapatkan keseimbangan, kestabilan.
  3. Rajasika Guna : Kualitas Guna yang berarti hiperaktif, keras, bergerak, mengalir liar, terlalu banyak. Kondisi rajas adalah Ketika suatu keadaan itu mengalir tanpa dikendalikan oleh konsep keteraturan, keseimbangan, akan timbullah penyakit. Maka diarahkan agar yang hiperaktif ini diupayakan menuju keseimbangan agar mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Panas yang terlalu banyak di lambung akan mengakibatkan mulut meradang, mata yang digunakan terlalu banyak timbullah sakit kepala, dan sebagainya.
  4. Tamasika Guna : Kualitas Guna yang berarti lembam, malas, gelap, pasif, diam. Kualitas ini berarti bahwa suatu keadaan terlalu mengarah ke diam, atau lambat, lembam, sehingga menimbulkan penimbunan atas sesuatu dan bisa mengakibatkan penyakit. Badan atau sendi yang tidak digunakan akan menjadi kaku, timbulah penyakit sendi, diafragma yang tidak dilatih akan membuat lemah stamina, dan lainnya.

Penyakit yang diderita juga bisa disebabkan oleh ketidakseimbangan antara berbagai faktor-faktor yang ada dalam buana alit, tubuh kita yang juga merupakan bagian dari buana agung. Faktor-faktor itu dalam usada bali antara lain :

  • Tri Ala adalah tiga kondisi dalam tubuh yang Ketika tidak seimbang akan menimbulkan suatu penyakit. (Nala,1993).
  • Panes :  Sifat Panas yang dikatakan dibawa oleh Dewa Brahma sehingga Ketika berada di dalam tubuh terlalu banyak, akan membuat panas yang berlebih.
  • Nyem : Sifat dingin yang dikatakan dibawa oleh Dewa Wisnu, tubuh akan menjadi lebih dingin Ketika terlalu banyak pada tubuh.
  • Sebeha : Sifat dumelada, diantara panas dan dingin dibawa oleh Dewa Iswara, membawa unsur udara pada tubuh.

Unsur ini pada keadaan sehat menunjukkan keseimbangan panas, keseimbangan dingin, keseimbangan udara pada tubuh. Faktor-faktor yang mempengaruhi ini bisa berasal dari dalam dan dari luar tubuh. Musim, cuaca, makanan, minuman, pikiran, kebiasaan, dan lain lain, membuat ini menjadi tidak seimbang.

Pengobatan secara prinsip adalah terlalu panes disembuhkan oleh Dewa Wisnu, terlalu Nyem disembuhkan Brahma , dan terlalu dumelada disembuhkan oleh Dewa Iswara.Tubuh panes di bagian tertentu perlu didinginkan, tubuh yang dingin perlu dipanaskan, tubuh yang terlalu berisi udara (ruang) perlu diseimbangkan agar udara itu keluar atau mengalir, dan ruang bisa distabilkan

Penyakit yang diderita juga bisa disebabkan oleh ketidakseimbangan antara berbagai faktor-faktor yang ada dalam buana alit, tubuh kita yang juga merupakan bagian dari buana agung. Faktor-faktor itu dalam usada bali antara lain :

  • Tri Dosha : Tiga Asas Dalam Tubuh, Vatta Pitta Kapha.
  • Vatta : Angin (Udara dan Ruang) mewakili semua kekuatan yang mampu membuat badan bergerak atau bertindak, dan semua yang mendorong gerak ini. Vatta biasanya terkumpul banyak berlebih pada daerah paru-paru, jantung, usus, tulang, persendian, alat kelamin, dan system syaraf.
  • Pitta : Panas (mencakup api dan air) mewakili semua konsep panas yang berada pada tubuh manusia, menggerakkan jantung, memberikan panas pada tubuh, metabolism tubuh.
  • Kapha : Air ( Mencakup air dan tanah) mewakili semua konsep yang berupa cairan, lender, larutan di dalam tubuh manusia. Kapha berhubungan dengan keringat, kencing, alat sekresi, kelenjar, getah bening, darah, cairan empedu, serta lainnya. Mengatur keseimbangan cairan, tubuh.
  •  Konsep Dasar Metode Diagnosa Penyakit.

Diagnosa penyakit berdasarkan usada (ayurweda) bali dapat dirumuskan sebagai berikut :

Catur Pramana > Panca Maya Kosha > Tri Guna/Tri Ala/ Tri Dosha>Terapi

Mengetahui bagaimana tri guna yang ada, keadaan nyem panes atau dumelada pasien, serta keadaan vata pita kapha dari pasien, sehingga mampu memberikan konsep terapi yang sesuai.

Kemudian bagaimana terapi yang digunakan, maka dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Pengobatan  dengan memakai  sesajen (Tawur,  balik  sumpah, bebayuh,  baangan, pamancut,  sesangi  dsb)

b. Pengobatan dengan meminum ramuan tertentu/jamu-jamuan (loloh)

c. Pengobatan dengan sembar (simbuh)

d. Pengobatan dengan urap  (uap,boreh, pupuk, terek)

e. Pengobatan dengan pemanasan (seeb,  dusdus)

f. Pengobatan dengan pemijatan (apun/uut/limpun)

g. Pengobatan  dengan energi batin seperti:mantra, prana, meditasi, rerajahan

h. Pengobatan   dengan   melakukan   diet/brata   yaitu    dengan berpantang makan

1. Pengobatan dengan air putih  (tirta/penawar)

J. Pengobatan dengan  sugesti,  termasuk pemberian jimat-jimat tertentu.

k. Pengobatan  dengan  minyak  khusus/bertuah

IV.PENGARUH PENTING DIAGNOSA PENYAKIT

  • Waktu dan Musim

Musim dan waktu tertentu sangat berpengaruh pada kondisi dari buana alit, atau pasien. Buana agung atau keadaan lingkungan akan memberikan pengaruhnya pada tubuh dari pasien. Keadaan lingkungan itu akan memengaruhi kondisi keseimbangan dari Vatta (dumelada), Pitta (Panes), Kapha(Nyem) dari pasien. Selain pula dari faktor-faktor kebiasaan dan juga makanan.

Faktor waktu dan musim itu adalah sebagai berikut :

  1. Waktu keseharian : Waktu matahari terbit2 pagi- 6 pagi dan jam 2 siang  sd jam 6 sore Sandikala (Dumelada, Vatta berpengaruh signifikan), Siang hari dan tengah Malam 10 pagi sampai 2 siang dan 10 malam-2 pagi , (Pitta Panes berpengaruh signifikan),  Pagi dan Malam hari jam 6 sd 10 pagi, jam 18-22  (Kapha, Nyem, berpengaruh signifikan). Agar baik memolakan diri setiap hari.
  2. Musim : Secara umum musim semi, panas, hujan, gugur, permulaan musim dingin, akhir musim dingin. Kapha(Nyem) dominan di musim semi, Pitta (panes )pada musim panas, Vatta (pada musim gugur). Daerah kering vatta yang dominan, pitta pada daerah yang sangat panas, kapha pada daerah hujan.

Dalam pengetahuan musim yang ada di Bali, secara khusus dapat terbagi menjadi sasih-sasih, yang tergambarkan sebagai bulan-bulan khusus.

Sasih di Bali :  Kondisi Buana Agung memengaruhi Buana Alit (Sanga Sastra)

  1. Kasa (angin bertiup dari timur laut ke barat daya, siang panas malam dingin ( Vata,Pitta, kapha seimbang)
  2. Karo (timur laut, barat daya jalan sedang, siang panas, malam hari dingin ( Vata, Pitta , kapha seimbang)
  3. Katiga ( Angin dari Utara ke selatan sedang, hawa kering dan panas) (Pitta dominan, vata sedang)
  4. Kapat (Angin dari barat laut ke tenggara, sepoi-sepoi, kering dan panas) (Pitta dominan)
  5. Kalima (Barat laut ke tenggara, angin kuat, kadang hujan, hawa mulai basah) (Vata meningkat, Kapha mulai meningkat)
  6. Kanem (Angin Barat ke Timur, terkadang ada badai, hawa basah, dingin, banyak hujan) (Kapha dominan, Vata dominan)
  7. Kapitu (Angin barat arah tidak tetap, hawa amat basah, dingin, banyak hujan) (Kapha dominan, vata dinamis)
  8. Kaulu (Barat daya timur laut, angin keras, hawa basah, hujan berkurang)(Kapha ada, Vata dominan)
  9. Kasanga (Selatan, hawa masih basah, hujan berkurang, ada petir) (Kapha dan Vata)
  10. Kadasa (Angin tenggara hawa masih basah, hujan berkurang) (Kapha berkurang)
  11. Jyesta (Tenggara ke timur laut agak panas, hujan sedikit) (Pitta mulai naik)
  12. Sadha (Timur ke Barat, angin sepoi-sepoi, malam dingin, kadang hujan) seimbang.
  • Umur Pasien

Umur adalah faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat keseimbangan serta unsur-unsur dominan dari tubuh pasien.Umur itu dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Masa kanak-kanak (0-16) Kapha dominan, berhubungan dengan pertumbuhan, kelembapan, kestabilan

Tubuh lembab, system kekebalan berkembang, jaringan tubuh berkembang pesat. Masalah utama, gangguan lendir, pilek, alergi, berat badan bertambah.

  • Masa Dewasa (16-50) Pitta dominan, berhubungan dengan metabolisme, energi, dan transformasi,

Aktif, produktif, memiliki metabolisme optimal.

Pencernaan, peradangan, stress, penyakit yang dipicu panas tubuh.

  • Masa tua (Vata dominan)

Kering, penurunan fungsi tubuh, sendi kaku, system saraf menjadi lebih sensitive

Nyeri sendi, osteoporosis, demensia, gangguan tidur.

  • Karakter Vatta Pitta Kapha dan Terapinya
  1. Vata (Dumelada)
  2. Vata adalah konsep ruang dan udara (Bayu Akasa) orangnya kurus, lebih banyak bicara, gelisah, kulit kering, kuku rapuh, rambut tipis, mata kecil. Kesulitan dalam menambah berat badan. Tanda-tanda ketidakseimbangan kulit kering kasar, sembelit, nyeri pada tulang atau sendi, perut kembung,  gelisah, debaran jantung denyut nandi abnormal, senang lingkungan hangat atau panas. Penyakit Vata imsomia, sakit kepala, tinnitus (telinga berdenging), stress akut, kejang, sakit telinga, linu pinggul, kaki kaku, kram pada otot betis, kaku leher, radang sendi.
  3. Menjaga keseimbangan Tidur teratur jam 10 sd jam 6 pagi agar jam tubuh sesuai, minum minuman hangat, makanan yang segar dan utuh, yang secara alami berasa manis, asam atau asin. Kurangi alcohol, kafein dan coklat. Rutini berolah raga.
  4. Makanan hangat dan bergizi : Fokuslah pada konsumsi makanan hangat, bergizi, dan mudah dicerna seperti sup, semur, dan sayuran matang.
  5. Rasa manis, asam, dan asin : Gabungkan makanan dengan rasa manis, asam, dan asin, seperti buah, yoghurt, dan kacang-kacangan.
  6. Lemak sehat : Sertakan lemak sehat seperti ghee, minyak zaitun, dan alpukat dalam makanan Anda.
  7. Hindari makanan kering dan dingin : Batasi atau hindari mengonsumsi makanan kering, dingin, atau mentah seperti salad, smoothie, dan sayuran mentah.
  8. Tetap terhidrasi : Minum banyak air hangat sepanjang hari untuk tetap terhidrasi.
  • Pitta (Panes)
  • Elemen api dan air yang lebih banyak, aktif perfeksionis, dinamis, cerdas, tapi pemarah. Perawakan sedang, hidung mancung, mata tajam. Tanda ketidakseimbangan Pitta keinginan hal-hal yang dingin, warna kulit kuning, lemas, kurang tidur, meningkatnya kemarahan, sensasi terbakar, rasa haus lapar berlebih, pahit di mulut, bau mulut, rasa panas yang tidak tertahankan.
  • Peradangan : Panas yang berlebihan dapat menyebabkan peradangan, kemerahan, dan iritasi, terutama pada kulit.
  • Lambung Asam : Hiperasiditas, nyeri ulu hati, dan ketidaknyamanan perut sering kali diakibatkan oleh meningkatnya Pitta.
  • Masalah Kulit : Ruam, gatal-gatal, jerawat, dan peningkatan kepekaan terhadap sinar matahari dapat terjadi.
  • Keringat Berlebihan : Peningkatan keringat, bahkan tanpa aktivitas fisik atau lingkungan yang panas.
  • Masalah Pencernaan : Kotoran encer, diare, dan nafsu makan meningkat.
  • Sering Merasa Kepanasan : Merasa sangat panas baik secara internal maupun eksternal, bahkan dalam suhu sedang.

Terapi Pitta (Ayurweda Institute)

  1. Pilih makanan dengan rasa manis, pahit, dan sepat. Buah-buahan yang menyejukkan seperti melon, apel, mentimun, dan pir, serta sayuran hijau, adalah pilihan yang tepat.
  2. Kurangi makanan panas dan pedas, dan bumbui dengan herba pendingin seperti ketumbar, mint, dan adas.
  3. Hindari Makanan Asin, Berminyak, dan Gorengan.
  4. Pilih Minuman yang Menyejukkan : Minumlah minuman yang sejuk (tetapi tidak dingin). Teh herbal dengan daun mint atau kamomil juga bermanfaat.
  5. Konsumsi Protein Sedang : Hindari daging olahan. Sebaliknya, konsumsi susu, tahu, dan kacang-kacangan dalam jumlah sedang.
  6. Pertahankan Rutinitas : Konsistensi dalam waktu makan, jadwal tidur, dan kebiasaan sehari-hari adalah kuncinya.
  7. Hindari Kepanasan Berlebihan : Tetaplah sejuk, hindari sinar matahari langsung, dan ambil tindakan untuk mencegah kepanasan berlebih.
  8. Berlatih Manajemen Stres : Lakukan meditasi, yoga, dan pernapasan dalam untuk mengurangi stres.
  9. Ciptakan Lingkungan yang Tenang : Ciptakan suasana yang menenangkan di rumah dan tempat kerja untuk menjauhkan Pitta.
  10. Seimbangkan Pekerjaan dan Istirahat : Hindari bekerja berlebihan dan pastikan Anda cukup istirahat.
  11. Berolahragalah dengan penuh kesadaran : Hindari latihan yang berat. Pilihlah latihan pendinginan seperti berenang atau berjalan.
  • Kapha (Nyem)
  • unsur air dan tanah yang dominan, bersikap dingin, cenderung malas, ceria, kekar. Rambut tebal, gelap, mata besar, gigi menonjol berkilau putih, kulit tebal, lembab, sedikit dingin saat disentuh.
  • Tanda-tanda ketidakseimbangan Kapha anoreksia, kantuk, batuk, gangguan pernafasan, kegemukan, rasa manis di mulut, gondok, gangguan pencernaan, kehilangan selera makan, flu, radang selaput lendir, bronchitis, gangguan sendi.
  • Depresi dan kurangnya motivasi
  • Kesulitan bangun tidur
  • Resistensi terhadap perubahan
  • Kabut mental
  • Penundaan
  • Makan berlebihan
  • Penarikan diri dan isolasi sosial
  • Karakter Vatta Pitta Kapha

Terapi Kapha

  1. Pilih makanan yang hangat dan ringan – Pilih makanan yang hangat, dimasak, ringan, dan mudah dicerna, serta hindari makanan berat, berminyak, dan dingin.
  2. Sertakan rasa pedas, pahit, dan sepat – Gabungkan rempah-rempah pedas seperti jahe, lada hitam, dan mustard. Demikian pula, sertakan rasa pahit dan sepat yang ditemukan dalam sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, dan buah beri untuk membantu menyeimbangkan Kapha.
  3. Batasi makanan manis, asin, dan berminyak – Kurangi asupan makanan manis, asin, dan berminyak, karena dapat menyebabkan ketidakseimbangan Kapha.
  4. Makanlah secara teratur, dalam porsi kecil – Untuk melawan kecenderungan penambahan berat badan, hindari makan berlebihan dan pilihlah makanan yang teratur, dalam porsi kecil sepanjang hari untuk mendukung pencernaan.
  5. Tetap terhidrasi dengan cairan hangat – Minum minuman hangat seperti teh herbal, air hangat dengan lemon, atau teh jahe untuk merangsang pencernaan.
  6. Sertakan rempah-rempah dalam masakan – Gunakan rempah-rempah seperti kunyit, jinten, ketumbar, dalam masakan untuk meningkatkan pencernaan dan menyeimbangkan Kapha.
  7. Olahraga teratur – Lakukan olahraga teratur dengan intensitas sedang untuk merangsang sirkulasi, metabolisme, dan tingkat energi.
  8. Rutinitas pagi – Tetapkan rutinitas pagi yang mencakup aktivitas yang menyegarkan indra, seperti menyikat kering, dan mandi air hangat.
  9. Gabungkan yoga – Berlatihlah pose yoga yang menyegarkan dan memberi energi, seperti salam matahari (Surya Namaskar).
  10. Tetap aktif – Hindari perilaku yang tidak banyak bergerak dan tidak beraktivitas dalam waktu lama. Beristirahatlah sejenak untuk bergerak dan melakukan peregangan sepanjang hari.
  11. Ciptakan ruang keluarga yang berventilasi baik – Pastikan ventilasi di ruang keluarga baik untuk mencegah pengap dan meningkatkan rasa sejuk.
  12. Buatlah jadwal tidur yang teratur
  • Terapi Keseimbangan Tri Guna (Samkhya,Wraspatti Tattwa, Tattwa Jnana)

Tri Guna adalah Maya Guna (Prakerti) yang dalam konsep penciptaan semesta merupakan bahan-bahan pencipta dunia dan bersifat seperti Purusha namun dalam wujud acetana (ketidaksadaran).

Awal mulanya Sunya, Kemudian Sang Nirguna Brahman yang telah terdiam pada sunya memiliki kehendak, yang saat itu memunculkan pula konsep Prakerti maya guna.

Kehendak itu adalah karena Purusha yang cetana (memiliki kesadaran penuh), terlingkupi Prakerti sehingga menjadi acetana (kesadaran yang terlupakan), disebut Saguna Brahman, dari itu Brahman memiliki kekuatan Cadu Sakti, dan Asta Aiswarya untuk menciptakan dunia beserta isinya.

Pada saat itu hadir pula mahluk hidup dan Brahman Bernama Atman yang hadir menghidupi mahluk hidup sebagai jihwatman, janggama, sthawara serta hadir pula semesta dengan struktur Panca Maha Butha. Maya Guna yang terdiri Satwika, Rajasika, Tamasika menjadi kualitas seluruh semesta dalam konteks apa pun.

Cakra merupakan simpul energi yang berada pada suatu tempat utama di dalam tubuh. Keseimbangan cakra ini akan memberikan pengaruh pada unsur-unsur Kesehatan psikologis dan juga Kesehatan fisik yang berada di sekitar letak cakra-cakra tersebut, beserta kesesuaian dengan elemen yang ada.

Maya Guna Sattwik, Rajas, Tamas secara sekilas terdapat pada sloka di Bhagawadgita(Wardana, 2021)

Sloka XIV-5 dan Sloka XIV-17 “ Sattwam rajas tama iti gunah, prkrtisambhwah nibhdnanti mahabaho dehe dehinan awyayam” dan “ Sasttwam sanjyate rajaso lobha ewaca pramada mahua tamaso bhawato, jnanam ewaca” artinya : Tiga sifati guna yaitu satttwika kebaikan, bernafsu rajas dan kelembaman atau tamas yang berasal dari alam prakerti yang membelenggu jasmani, wahai mahabaho (arjuna) sedangkan yang abadi bersemayam dalam badan. Dan dari sattwika timbul pengetahuan, dari rajas timbul keserakahan dan dari tamasika timbul kesalahan dan kebodohan.

Maka dapat tersimpulkan bahwa konsep sattwik rajas tamas akan memberikan kualitas secara umum dalam maujud apa pun.  Termasuk konsep kesehatan fisik dan juga Kesehatan psikologis seseorang yang dapat terdeteksi atau terpahami pada Sapta CakraNya. (Wardana, 2021)

Tujuh Cakra Utama : Cakra Muladhara, Cakra Swadistana, Cakra Manipura, Cakra Anahata, Cakra Wisudha, Cakra Ajna, Cakra Sahasraha.

  1. Cakra Muladhara Yaitu Cakra Dasar, Kundalini Yang Berada Di Tulang Ekor Bawah. Secara Umum Ini Berhubungan dengan Laku “Pembangkitan” Energi, Di Sini Adalah Letak Pertiwi Atau Bhumi Yang Menyimpan Potensi Yang Sungguh Besar. Ini Juga Berhubungan Dengan Sifat Atau Rasa “Feeling Home” Yang Menimbulkan Kenyamanan Baik Di mana Pun Berada. Cakra Ini Disimbolkan dengan Warna Merah. Cakra ini berhubungan kelenjar kelamin, dan anus begitu pula hubungannya dengan Kesehatan kaki serta stamina-stamina yang ada. Dalam konteks pengaruh maya guna, maka dapat ditarik benang merahnya sebagai berikut :
  2. Seimbang Sattwika dimana cakra muladhara dalam keadaan baik, stamina bagus, metabolisme daerah usus baik, saluran kencing juga sehat, dalam keadaan psikologis ia tidak dalam keadaan paranoid, dan nyaman di mana saja.
  3. Keadaan Rajas atau Tamas maka dalam keadaan terlalu rajas aktif panas, maka cakra muladhara berkembang terlalu liar dan berpendar melebar, ini terjadi karena kelelahan fisik, kemudian usus bekerja keras karena mencerna makanan-makanan berlebihan. Dalam kondisi tamas artinya muladharanya dalam keadaan malas bergerak beraktivitas, bisa jadi kegemukan, Lelah lesu karena habit, usus juga bekerja lamban karena tubuh juga tidak menciptakan suasana yang seimbang dan akfif. Pada posisi psikologis rajas akan membuat ia Kasuran Timira preman, dan tamas akan cenderung menjadi paranoid.

2. Cakra Swadistana : .cakra svadisthana atau cakra sakral yg berada di kemaluan dan memberikan gambaran akan seksualitas serta daya tarik juga self confident dari sesiapa yg dianalisa. Elemen yg ada adalah apah atau air. Dan cakra ini diberi simbol warna jingga atau orange. Organ-organ yang dipengaruhi adalah organ reproduksi, ginjal, kantung kemih, panggul.

  1. Kondisi Sattwika guna, organ-organ berfungsi normal, ginjal, kantung kemih berfungsi baik, panggul kondisi prima tidak ada keluhan tertentu. Sisi psikologis inner beauty yang keluar, daya Tarik terpancar pada lawan jenis.
  2. Kondisi Rajas, Ginjal bekerja terlalu keras karena makanan yang sulit dicerna (alcohol kopi dll), kencing berwarna kuning pekat, kantung kemih panas, panggul Lelah. Psikologis posesif, konsep cinta yang tidak sehat, overseksualitas (Surupa Timira), terlalu merasa diri lebih mempesona dari yang lainnya, merendahkan yang lain.
  3. Kondisi Tamas ginjal bekerja lebih pelan dari biasanya, kemampuan ginjal berkurang, ketidak seimbangan elektrolit, penumpukan racun pada ginjal, panggul kaku karena jarang bergerak. Tidak percaya diri, membenci diri sendiri, kurangnya kecintaan pada lingkungan, daya Tarik rendah terhadap lawan jenis, depresi, keinginan bunuh diri.

3. Cakra manipura navel  yang berada di pusar, disebut juga solar plexus. Cakra ini menunjukkan emosi dan ambisi dri sesiapa yang dianalisa. Cakra ini simbolkan berwarna kuning dan simbolisme api teja agni. Kelebihan cakra ini atau terlalu aktif akan memperlihatkan ambisi yg meliar tanpa etika. Organ-organ yang berhubungan dengan cakra ini adalah Perut, Usus kecil, Pankreas, Hati, Kantung Empedu, Sistem Pencernaan. Dalam sisi psikologis maka menunjukkan motivasi, rasa percaya diri, kebijaksanaan, kesesuaian kemampuan dan ambisi.

  1. Sattwika cakra manipura dalam keadaan seimbang pada ruang psikologis akan memperlihatkan motivasi yang tinggi, kepercayaan diri, serta ambisi yang sesuai dengan kemampuan, emosi yang stabil. Organ-organ yang ada berkembang dan berfungsi secara stabil menopang aktivitas yang ada
  2. Ketika Rajas berkembang terlalu besar, maka ambisi dan emosi menjadi lebih kuat, motivasi yang berlebih, dan tidak mengetahui kemampuan diri terhadap harapan yang ada, terlalu mengawang-ngawang memengaruhi emosi. Organ-organ yang ada akan melakukan tugasnya secara berlebih, perut dan usus kecil misalnya lebih rentan mendapatkan diare atau masalah perut, akibat gaya hidup. Pankreas, Hati, Empedu sibuk untuk menetralisir racun yang masuk pada orang-orang yang stress.
  3. Tamasika kurangnya nafsu makan, perut dan usus tidak mendapat asupan bergizi atau kurang serat, konstipasi, pancreas hati empedu akan sibuk mengolah lemak, karena karakter tamas adalah orang yang malas bergerak tidak melakukan apa-apa, sehingga metabolism berjalan lambat.

4. Cakra anahata atau heart cakra, cakra jantung yg berisikan rasa kasih sayang dan cinta kasih pada semesta. Cakra ini disimbolkan dgn warna hijau dan berelemen bayu angin. Organ-organ yang berhubungan dengan Cakra Anahata adalah Jantung, Paru-paru, system peredaran darah, tulang dada tulang belakang atas, kelenjar timus. Untuk konsep psikologi cakra anahata memengaruhi rasa kasih sayang, penerimaan atas cinta, rasa kasih yang iklas, dan aura pengasuhan, serta empati, simpati terhadap sesama.

  1. Sattwika pada cakra anahata menunjukkan sehatnya organ-organ yang ada, rasa kasih saying mendalam, dan mudah untuk dicintai, disayangi oleh orang lain, empati, simpati yang terbentuk, kesabaran.
  2. Rajasika pada cakra anahata di mana dada tegang atau merasa sesak karena keterbiasaan diri, rasa benci yang besar terhadap sesuatu, sehingga mempengaruhi kondisi paru-paru, atau habit di lingkungan yang rentan akan penyakit yang ada, nafas tidak stabil, trauma sehingga bisa menimbulkan gejala psikosomatis, dsb.
  3. Tamasika pada cakra anahata jantung lemah (bradikardia), kapasitas paru-paru tidak berkembang, himpitan ruang paru-paru atau jantung karena lemak, sirkulasi nafas terganggu, pada kebiasaan tamas dan juga perokok berat akan menambah resiko bronchitis atau pneumonia. Secara psikologis orang yang menarik diri, serta mengalami depresi.

5. Cakra visudha yg berwarna biru adalah sbagai akasa atau ruang hampa. Ini melukiskan penggambaran kewibawaan dan sikap kepemimpinan, baik yg arogan atau yg bijaksana. Kesediaan mendengar dan berbicara cukup dan sistematis, adalah bagian dari cakra kerongkongan yg aktif. Cakra ini berhubungan dengan organ Tenggorokan, Tiroid Paratiroid, Leher dan Bahu, Sistem pernafasan bagian atas, rahang serta mulut.

  1. Pada kondisi sattwika guna : Keadaan dari tenggorokan, kelenjar tiroid, berfungsi baik, leher dan bahu tidak pada kekakuan atau lemas, rahang dan mulut dalam kondisi baik. Kemudian pada unsur psikologis yang berkembang, komunikasinya berjalan baik, tidak canggung dalam berkomunikasi, bijaksana, memahami kebutuhan mendengar dan berbicara serta sistematis tidak melompat-lompat.
  2. Kondisi rajasika guna : dalam sisi psikologis adalah orang yang terlalu banyak bicara, tidak mau mendengar, arogan, suka berteriak, sehingga terlihat penuh kesombongan (Guna Timira). Kondisi tenggorokan atau pita suara iritasi karena dipergunakan berlebihan, serak, hipertiroid, Lelah leher bahu karena terlalu lama aktivitas (tidak beristirahat cukup), mulut rahang atau gigi sariawan karena makanan pedas, berminyak, atau minuman bersoda terlalu banyak.
  3. Kondisi tamasika : Psikologinya tidak mau berbicara, dipendam, terlalu introvert, menarik diri dari lingkungan. Secara fisik tenggorokan serak kronis, amandel karena makanan tidak dipilih dengan baik, serta kebiasaan merokok atau minum-minuman keras, tiroid lemah, kakunya leher dan bahu karena jarang berolahraga, nafas lembat dan cepat Lelah.

6. Cakra ajna yaitu cakra di tengah-tengah alis sbagai simbol intelegensi, dan kesadaran yang intuitif. Sebagai seorang yang pemikir dan filsuf, maka dipastikan cakra ini aktif dan terbuka. Tidak disimbolkan dengan elemen, namun warna adalah seperti ungu indigo. Cakra ini memiliki kemampuan untuk memahami dan memberi komando kepada cakra lainnya. Organ-organ yang berhubungan bagian depan otak yang bertanggung jawab atas pemikiran, Analisa, pengambilan keputusan. Kelenjar Pineal, Kelenjar Hipofisis, Mata,Telinga bagian dalam, Sistem saraf pusat, Sinus.

  1. Ajna yang Sattwika : secara psikologis cenderung cerdas, dan mampu mengambil keputusan dengan baik, cepat mengambil kesimpulan, mengetahui gambaran sesuatu dengan cepat, intuisi tajam. Fisik yang sattwika adalah mata yang sangat baik berfungsi, ritme biologis tubuh berfungsi baik, telinga berfungsi baik, sinus tidak terhambat, saraf pusat berfungsi sesuai kebutuhan yang ada.
  2. Ajna yang rajas : sakit kepala, migrain, kurang tidur, ritme biologis tubuh terganggu, tidak bisa tidur dengan baik, telinga berdengung, mata Lelah., dst. Ajna yang rajas psikologi orang tersebut terlalu overthinking, tidak mampu bijak mencari solusi, dalam suatu kondisi ekstrim keadaan sakit psikis seperti bipolar, Adhd, Ocd dan gangguan lain, adalah bisa karena keadaan ajna yang berlebih.
  3. Ajna yang tamasik : lamban, malas, lesu, cenderung bebal, dan kurang cerdas, tidak mampu membedakan logis dan tidak logis, halusinasi, dan lain-lainnya.
  4. Tujuh Cakra Utama : Cakra Muladhara, Cakra Swadistana, Cakra Manipura, Cakra Anahata, Cakra Wisudha, Cakra Ajna, Cakra Sahasraha.

7. Cakra mahkota Sahasrara adalah yg menyimpan rahasia dan kedaulatan kosmis semesta. Mahkota adalah sebuah berkat bagi seluruh jiwa sesiapa itu, dan memberikan sebuah kesembuhan atas kesakitan duniawi. Ini merupakan cakra yg identik dngan ilahiah serta suci murni berasal langsung dgn koneksi semesta. Bagi penganut spiritualis yang waskita dan sudah memiliki pengalaman, maka ini adalah terbuka dan mempengaruhi lingkungannya. Organ-organ yang dipengaruhi adalah kepala, otak, tulang belakang.

  1. Cakra mahkota dalam keadaan sattwika: Sangat baik karena ini memberikan hubungan yang positif dengan leluhur, Tuhan, ManifestasiNya, semesta raya. Bijaksana dan sebagai berkat semesta untuk memberikan pemahaman religi, keagamaan, spiritualitas, serta bagi pengobat tradisional ini sebaiknya dikembangkan, agar dengan mudah dan bijak serta memiliki taksu untuk menyembuhkan. Sehat dan cerdas, biasanya memilliki kemampuan lebih pada kebijaksanaan semesta.
  2. Cakra Rajas Mahkota : Keadaan ada keinginan yang berlebih untuk mengenal energi semesta, energi spiritualitas, namun Susila etika tidak dijalani, atau jnana yang dipaksakan dengan egoisme yang ada, ajewera, tan aguron-guron, sakit kepala, kepongor, hidup susah sulit.
  3. Cakra Mahkota tamasika : keadaan sebaliknya di mana seseorang itu malas berhubungan dengan kekuatan Tuhan semesta, tidak tau kawitan, leluhur atau ajaran agama, hidup menjadi susah dan dijauhi oleh karma baik serta rejeki.

Daftar Pustaka

Lad Vasant, Dr. Dkk. Ayurveda. Penerbit Paramita Surabaya 2007.

Nala, Ngurah (1993), Usada Bali, Penerbit Upada Sastra Denpasar

Nala, Ngurah (2006), Aksara Bali dalam Usada, Penerbit Paramita Surabaya

Suatama, Ida Bagus, 2022. Ini Pedoman Pengusada Periksa dan Terapi, Orang Sakit. di Web Bali Expres  https://baliexpress.jawapos.com/Balinese/671183173/ini-pedoman-pengusada-periksa-dan-terapi-orang-sakit

Suhardana (2010) Wraspatti Tattwa (Sebagai Filsafat Agama Hindu),Penerbit Paramita.

Sukartha, Nyoman (2014). Usadha : Ilmu Pengobatan Ayur Veda Bali. Jurnal Manuskrip Nusantara Jumantara Vol. 5. No.1 Tahun 2014

Wardana, Lingga I.B. (2021), Ke Mana Kita Setelah Mati (Menganalisa Mayaguna), Penerbit Kalvatar Tastra Aksara Denpasar

Wardana, Lingga I.B. (2015), Tiga Maya Guna Beserta Hubungannya dengan Cakra-Cakra, Web Resmi Kalvatar Tastra Aksara di link https://linggashindusbaliwhisper.com/2015/02/15/tiga-maya-guna-beserta-        hubungannya-dgn-cakra-cakra/                                                                   

Warditiani, Dkk. (2017), Penggunaan Adas dan Pule Sebagai Penghilang Rasa Sakit dalam Usadha Bali (Usadha Dalem),  Jurnal Farmasi Udayana Vol 6.no2 Tahun 2017

Yendra, I Wayan (2002) , Sang Hyang Buda Kecapi Maha Guru Kanda Pat Bali, Penerbit Paramita Surabaya


Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengelola Web Kalvatar Tastra Aksara

Ida Bagus Lingga Wardana, S.E, M.Sos., CH.,CHt., CFHPSy

Lulusan Pasca Sarjana S2 ilmu Agama dan Kebudayaan Unhi, saat ini sedang mengemban pendidikan S3 untuk Ilmu Agama dan Kebudayaan di Unhi

Merupakan Founder dari Penerbit Kalvatar Tastra Aksara, Penerbit buku-buku religi dan spiritualitas.

Serta membuka Konsultasi Psikologi Tarot Reading Kanda Pat Suksma Kalvatar Bali. Dengan Nomor Ijin Praktek,

STPT 570/STPT/0022/IX/DPM-PMTSP 2023

Alamat Jalan Tukad Balian 70x Sidakarya (Sebelah Kedai Magisa)

Kalvatar Tastra Aksara

Jl. Tukad Yeh Aya ruko No.70x blok A2, Panjer, Kec. Denpasar Bar., Kota Denpasar, Bali 80224

https://maps.app.goo.gl/GBnJXoDBh7UMLBRs6

Related posts

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>

Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca