Om Panca Waktra ya widmahe, Mahadewa ya dhimahee, Tanno Pasupatya Praddco dayyat. Om Engkau yang memiliki lima wajah, Engkau disebut mahadewa penguasa semesta, terpujilah wahai Engkau Sang Pasupati.

I. Siwaratri Ruang Perenungan

Hari Siwaratri adalah hari yang suci, hari perenungan mendalam mengenai bagaimanakah kehidupan itu selayaknya. Apakah ia sudah terkondisikan pada kesusilaan yang baik di masa lalu, atau dalam kehidupan saat ini memerlukan sebuah kebesadaran untuk menciptakan ruang intropeksi diri. Sehingga kelak di masa depan tersiarkan suatu pahala-pahala terbaik dari karma atas pikiran, perkataan, dan perbuatan yang bisa terjadi. Bhatara Siwa sendiri adalah salah satu kepribadian dariNya yang memiliki suatu simbolisme penting untuk menjaga ruang kehidupan menjadi baik adaNya. Pada konsep Tri Murti Ia tersimbolkan sebagai Pralaya yaitu pelebur segalaNya di semesta ini. Tidak ada yang mampu terhindarkan dari konsep peleburan tersebut. Apa pun yang tercipta, maka itu akan berakhir dengan lebur. Bahkan dunia ini yang nyatanya adalah sementara, kelak akan kembali pada suatu keadaan sunya atau nirguna.

Malam Siwaratri yang selalu hadir Purwaning Tilem atau panglong ping 14 sasih Kepitu (bulan ke tujuh) sebelum bulan mati (tilem), adalah malam sebagai pengingat bahwa peleburan dosa hadir di malam itu. Tentu saja suatu karma baik yang hadir adalah akibat suatu sikap baik pula pada kehidupan. Sebagaimana itu pun memiliki berbagai macam jalan terbaik sesuai kemampuan yang ada. Jalan jnana mencari pengetahuan tentang dharma adalah jalan pembebasan bagi yang berhasrat dalam perenungan atasNya, jalan Karma tulus iklas bagi mereka yang terikat pada suatu kewajiban semasa hidupnya, jalan Bhakti bagi mereka yang memiliki hati seluas samudra untuk menjadi pengayahNya. Dan atau Sang Raja Yogi yang mendapatkan kebebasan dalam menjalani Yoga Darsana menuju samadhi kelepasan atasNya.

Kemudian memahami dan mengenal wajahNya tentu saja akan menjadi sarana perenungan terbaik untuk mencapai tujuan kehidupan sebagai umat Hindu. Perenungan di malam Siwaratri bukan sekedar peleburan dosa saat hari itu saja, tetapi sebagai bekal yang bisa menjadi pelindung pada diri untuk berkehidupan. Kehidupan yang menjadi tempat sementara untuk menuju tanah wayah, dengan berbagai aturan dasar untuk hidup. Kedharmaan untuk mencapai, menyentuh Ananda Maya Kosha badan kebahagiaan, menjadi sang wicaksana Wijnana Maya Kosha, dan selalu pada kesehatan pikiran mano maya kosha, energi yang selalu seimbang di prana maya kosha , dan tubuh yang selalu bugar Anna Maya Kosha.

II. Lima Wajah Siwa dalam Dewata Nawa Sangha

Bhatara Siwa dalam sastra disebutkan memiliki lima wajah. Lima wajah tersebut tersimbolkan pada konsep ruang di keyakinan Hindu Nusantara (Bali). Ruang itu kemudian dikatakan menjaga lima arah dari arah mata angin yang ada. Wajah dari Bhatara Siwa dalam hal ini disebut sebagai :

  1. Ishana: Terkait dengan Srishti Shakti (Kekuatan Penciptaan)
  2. Tatpurusha: Berkaitan dengan Thoridhana Shakti (Kekuatan Penyembunyian)
  3. Aghora: Berkaitan dengan Samhara Shakti (Kekuatan Pembubaran)
  4. Vamadeva: Terkait dengan Stithi Shakti (Kekuatan Rezeki)
  5. Sadjyota: Berkaitan dengan Anugraha Shakti (Kekuatan Berkah)

Dalam ruang wijaksara yang berkaitan dengan berbagai energi dan manifestasi dewata di arah mata angin, maka ada suatu konsep yang telah dilaksanakan dengan baik di Hindu Bali. Wijaksara tersebut kemudian digunakan oleh mereka yang memahami untuk suatu hal yang sakral di kehidupan keseharian. Dalam berbagai mantra, atau pada ranah usadha-usadhi, kemudian pada ritual upacara, atau pemilihan hari-hari terbaik, dan bahkan untuk memahami energi sebagai bagian jnana dan raja yoga marga.

Dalam wilayah ruang mata angin (Dewata Nawa Sangha) maka disebutkan sebagai berikut : 

  • SA = Sanghyang Sadyojata, manifestasi Tuhan yang berfungsi menjaga alam bagian Timur yang disebut pula sebagai Dewa Iswara. Ini menggunakan aksara suci Sang sebagai cahaya dari timur.
  • BA = Sanghyang Bamadewa, manifestasi Tuhan yang berfungsi menjaga alam bagian Selatan yang disebut pula sebagai Dewa Brahma. Konsep api sebagai energi penciptaan dan peleburan hadir pula di arah selatan ini, dengan aksara suci Bang.
  • TA = Sanghyang Tat Purusa, manifestasi Tuhan menjaga alam bagian Barat. Disebut juga Dewa Mahadewa. Terwakili dengan warna kuning serta aksara Tang.
  • A = Sanghyang Aghora, manifestasi Tuhan yang berfungsi menjaga alam bagian Utara, yang disebut pula Dewa Wisnu, bewarna hitam dengan aksara Ang.
  • I = Sanghyang Isana, manifestasi Tuhan yang berfungsi menjaga alam di Tengah-Tengah. Yang disebut pula Dewa Siwa.

III. Lima Wajah Siwa dalam Tantra

Dalam konsep lainnya di Tantra, disebutkan bahwa terdapat karakter yang terkait dari simbol lima wajah yang ada. Karakter tersebut sepertinya menggambarkan dengan jelas bahwa sangat perlu untuk memahami dan melaksanakan berbagai aturan-aturan etika dan susila yang ada. Dan yang menarik adalah ketika dihubungkan dengan berbagai makna dewata yang terdapat di Dewata Nawa Sangha, sepertinya itu berdiri sendiri dengan pemaknaan etika pada konsep tantrayana. Ada lima wajah dari Bhatara Siwa sebagai berikut yang termaknai dari sebelah tengah kemudian bagian kanan dan kirinya (Tantra Jalan Pembebasan:Shri Anandamurti) :

I. Wajah pertama paling kanan disebut “Dakshineswara”, yang dapat diibaratkan perkataan Bhatara Siwa,

“Dengarkanlah Aku. Ini akan Baik untukmu. Kalian harus berkelakuan dengan cara ini. Ikutilah Aku. Ikutilah jalan ini. Jangan terlibat dalam tindakan yg tidak tepat, tetapi ikutilah jalan moralitas dan kebaikan”.

Wajah ini seperti menyiratkan bahwa ini awal peringatan kepada umat, atau sebuah saran untuk mengikuti jalan yg bermoral dan penuh Kedharmaan. Dan ketika disimak dari Daksiheneswara maka sepertinya dekat dengan wilayah selatan di konsep dewata nawa sangha, yang dikuasai oleh Dewa Brahma.

Peringatan-peringatan itu seperti suatu tindak tanduk yang tidak sesuai dengan konsep Dharma. Dalam ruang kumpulan istilah leksikon Hindu, -hal yang baik digunakan untuk mengisi kebersadaran hidup, dan menuju terisinya alam bawah sadar- terdapat seperti konsep Sad Ripu (enam musuh diri), Sapta Timira (tujuh kegelapan dalam hidup), atau Sad Atatayi (enam prilaku keji dari manusia). Ini adalah penanda tentang perlunya manusia memahami tentang berbagai etika yang ada.

2. Wajah paling kiri disebut “Vamadeva” sangat berbeda sifati dan bertolak belakang, dikatakan sebagai wajah penghukum, seperti sang ratu adil yamadipati, yg siap menghukum siapa yg salah. Perkataan Beliau ibaratnya,

“Engkau anak yg tak berguna, mengapa kau lakukan hal seperti itu?AKu akan menghukummu dngan keras.”

Ini memperlihatkan Ia Bhatara Shiwa sebagai penghukum yg memberikan hukuman setimpal dngan perbuatannya. Vamadewa di sini dalam ruang dewata nawa sangha tepat berada di wilayah selatan yang dikuasai oleh Bhatara Brahma Prajapati. Hampir mirip dengan Daksineswara yang menyebutkan daksina sebagai arah selatan.

Kehidupan sangat dipengaruhi oleh Maya Guna Tattwa karena itu menjadi kualitas yang merasuk ke dalam seluruh semesta sebagai konsep nilai. Satwik, Rajas, Tamas akan memberikan citra manusia, ke mana arah ia setelah kematian. Ia yang terliputi sifati Tamasika dan Rajasika akan menuju ke neraka loka, atau lahir tidak menjadi manusia dan “turun” menjadi mahluk lainnya.

3. Wajah yang bersebelahan dengan Dakshineswara disebut sebagai “Ishana”. Wajah ini mengatakan bahwa ini adalah bentuk ketegasan sekaligus juga kelembutan. Kata-kata yang mungkin terucapkanNya,

”Lihatlah anakku, ikutilah jalan ini. Jika kamu mengikuti jalan yang lain, itu hanya akan membawamu pada penderitaan. Jangan membuat kesalahan seperti itu. Prkerti tidak pernah memaafkanmu. Hasilnya adalah bencana”

Jadi bahwa berangsur-angsur pada wajah di paling kanan yg memperingatkan, maka ada saran kedua untuk menuju pada jalan yg paling baik. Ishana dalam dewata nawa sangha, adalah Aksara Bhatara Siwa di tengah Ing, bersama dengan aksara Yang.

4. Wajah di sebelah Vamadewa adalah wajah Shiva yang bernama “Kalagni” Wajah ini dikatakan sebagai peringatan paling akhir dan tegas keras serta bergemuruh.. Ibarat yg disebutkannya sebagai berikut,

” Hukuman keras sedang menantimu, tulangmu akan patah bodoh! Perbuatan tak berharga apa yg kamu lakukan?”

Di sini betul bhwa kamu atau manusia telah melksanan sesuatu yg buruk, dan hndaknya sadar dengan hardikan dri wajah Kalagni ini. Ibarat Shiwa sedang dalam kemarahanNya, seperti Kala-Agni kekuatan mengerikan dari waktu yang membakar mereka yang berada dalam pengaruh adharma. Bisa menjadi jalan menuju neraka loka, suatu penghukuman.

Dalam sastra ditemukan beberapa konsep mengapa diri masuk pada neraka loka akibat prilaku dan pola pikirnya.

Jenis Neraka Menurut Yama Tattwa

Nama neraka dalam Yama Tattwa tidak selalu berjumlah tetap, tetapi beberapa yang sering disebut dalam lontar Bali adalah:

1. Tamisra, :Dosa: mencuri, menipu, memperdaya Siksaan: kegelapan total, tersesat, dipukul makhluk Yama

2. Andhatamisra : Dosa: pembunuhan, fitnah berat, durhaka pada orang tua/guru Siksaan: penderitaan berlapis tanpa cahaya dan arah

3. Raurava :Dosa: menyiksa makhluk hidup Siksaan: dikejar dan diterkam binatang buas ciptaan Yama

4. Mahāraurava : Dosa: kekejaman ekstrem, pembantaian Siksaan: lebih berat dari Raurava, tubuh dicabik berulang

5. Kumbhīpāka :Dosa: membunuh, pemakan daging terlarang, kekerasan sadis Siksaan: direbus dalam kawah panas

6. Kālasūtra :Dosa: pembohong, penista dharma, penyalahguna kekuasaan Siksaan: tubuh dipotong benang panas dan besi

7. Asipatravana: Dosa: zina, pelanggaran susila berat Siksaan: hutan daun pedang yang melukai tubuh

8. Krimibhojana Dosa: rakus, tamak, korupsi Siksaan: tubuh dimakan cacing dan serangga

9. Sukaramukha Dosa: penipu rakyat, pemeras. Siksaan: mulut disumpal dan diinjak seperti babi.

5. Lalu wajah di tengah adalah yg paling diingini oleh seluruhnya. Wajah lembut yg menjadi buaian bhakta yg paling Ia cintai. Wajah itu adalah “Kalyanasundaram” Ia ibaratnya berkata sebagai berikut :

”Datanglah duduklah anakku..Duduk di sampingku, semoga engkau baik2 saja”

Seperti seorang ayah yang bijak dan mencintai anak-anaknya sedemikian rupa, takkan ada godaan dan seperti sirna semua yang terbebankan dalam ujian dunia itu sendiri. Dalam hal ini disebutkan ada tujuh bagian kebahagiaan yang bisa dicapai pada wilayah Bhur loka ini sebagai kondisi pahala baik. Tujuh kebahagiaan dalam bahasa Sapta Werddhi , Ayu, Yasa, Pradnya, Sukashriyam, Dharma, Santana, Santosa yang tercantum dalam mantra yang umum digunakan.

Om Ayu werdhi yasa werdhi, werdhi pradnyan suka sryiem, dharma sentana werdhisca, saptute sapta werdhyah”. 

Om Hyang Bhatara Siwa, dalam Siwaratri yang agung, semoga selalu dalam keadaan yang baik dan berbahagia (ayu), dan semoga selalu dalam kemuliaan serta berumur panjang (yasa), semoga selalu diberkati pengetahuan untuk menjaga kehidupan (pradnya), (sukasriyam) semoga selalu dalam senyuman serta suka cita, dalam lindungan kebenaran (dharma) selalu kepada keturunan yang baik (sentana), sentosa dan selamat pada kehidupan.

Rahajeng Siwaratri Saniscara Wage Tambir Caka 1947

Gus Lingga Kalvatar Bali


Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengelola Web Kalvatar Tastra Aksara

Ida Bagus Lingga Wardana, S.E, M.Sos., CH.,CHt., CFHPSy

Lulusan Pasca Sarjana S2 ilmu Agama dan Kebudayaan Unhi, saat ini sedang mengemban pendidikan S3 untuk Ilmu Agama dan Kebudayaan di Unhi

Merupakan Founder dari Penerbit Kalvatar Tastra Aksara, Penerbit buku-buku religi dan spiritualitas.

Serta membuka Konsultasi Psikologi Tarot Reading Kanda Pat Suksma Kalvatar Bali. Dengan Nomor Ijin Praktek,

STPT 570/STPT/0022/IX/DPM-PMTSP 2023

Alamat Jalan Tukad Balian 70x Sidakarya (Sebelah Kedai Magisa)

Kalvatar Tastra Aksara

Jl. Tukad Yeh Aya ruko No.70x blok A2, Panjer, Kec. Denpasar Bar., Kota Denpasar, Bali 80224

https://maps.app.goo.gl/GBnJXoDBh7UMLBRs6

Related posts

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>

Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca