
Buku yang segera akan terbit, yang menceritakan pengalaman penuh kehangatan, dan pembelajaran yang teduh, dari seorang Guru Agung, sebagai sahabat, sebagai salah satu legenda Pedanda di Bali. Buku ini berisikan juga petuah-petuah yang diajarkan oleh Beliau dalam berbagai kesempatan-kesempatan yang ada selama hidupNya.
(Ida Pedanda Gede Wayahan Keniten) Buku ini bukanlah sebuah karya teoretis yang rumit tentang filsafat weda. Buku ini adalah sebuah kidung kerinduan, sebuah catatan harian dari seorang penjelajah batin yang sempat terombang-ambing di tengah riuhnya ombak duniawi.
Bagi saya pribadi (penulis), perjalanan menuju jalan Dharma ini bukanlah sebuah kelokan yang mudah. Bertahun-tahun lamanya hidup saya dihabiskan dalam dunia pendidikan dan harmoni musikwi. Dunia di mana logika, angka, dan keindahan nada-nada duniawi menjadi panglima bagi pikiran. Namun, sedalam apa pun nada yang saya mainkan, dan setinggi apa pun ilmu duniawi yang saya ajarkan, di lubuk hati yang paling dalam, selalu ada ruang kosong yang sunyi. Sebuah ruang yang terus bertanya: Ke manakah jalanku yang sesungguhnya di sisa usia ini?
Di tengah kegelapan dan kelelahan batin itulah, Hyang Widhi mempertemukan saya dengan sinarnya yang menjelma dalam wujud manusia. Beliau adalah sang guru, pelita sanubari, Ida Pedanda Gede Made Gunung.
Kehadiran beliau dalam hidup saya bagaikan embun pagi yang jatuh di atas tanah yang kering kerontang. Melalui untaian Dharma Wacana beliau yang selalu disampaikan dengan senyuman tulus, humor yang cerdas, dan keteduhan batin yang luar biasa, beliau telah berjasa meruntuhkan dinding ego intelektual saya. Beliau tidak pernah meminta saya untuk memusuhi masa lalu saya di dunia musik atau pendidikan. Sebaliknya, dengan welas asih seorang ayah dan kebijaksanaan seorang sahabat, beliau mengajarkan saya cara menyublimasikan musik duniawi menjadi kidung suci untuk menenangkan jiwa. Jasa-jasa beliau dalam membimbing umat, khususnya dalam menuntun batin saya untuk berani melangkah dari dunia keduniawian menuju jalur spiritual, adalah utang rasa yang tidak akan pernah bisa saya bayar seumur hidup. Pakaian jingga yang beliau kenakan selalu mengingatkan saya pada api suci yang membakar keangkuhan, dan dari beliaulah saya belajar tentang yoga yang sesungguhnya: yaitu penyatuan diri dengan cinta kasih semesta.
Gwr


Tinggalkan komentar