Aum Sahadjanatakam Paramawisesa Narakalokhanta samastha, Prawithma Ghnacahyatimiraning Guna Sapta Patala lokhanta, Wedi-Maya nyujur dukalararoghanta, Astaninggala Bratha niku sanjhnyata, taksuning sangakan paaran dumadipun…Aum

Penyakit itu hadir sebetulnya dalam berbagai cara, kemudian disebutkan asal muasal dari semua itu adalah suatu keadaan yang tidak seimbang. Ketidak-seimbangan yang berasal dari banyak pengaruh-pengaruh yang tidak terbatas. Namun dalam persepektif penyakit berdasarkan pola kebiasaan hidup (baca:susila), maka kesemuanya itu dapat dicari suatu garis benang merah. Dan sebetulnya itu logis adanya ketika menemukan suatu bahasa yang lebih”dalam”.

Penyakit dalam keadaan umum terjadi akibat habit atau kebiasaan diri, lingkungan yang terdiri dari suasana alam yang ada, atau berasal dari keterjadian yang tiba-tiba, di mana akibat kecerobohan manusia yang memang karena ketidakfokusan tertentu. Kecelakaan misalnya, atau keterjadian yang lebih “abstrak” lagi yang sebetulnya terjadi pada ruang alam bawah sadar manusia. Kecenderungan manusia yang melupai jiwanya, sesuai dengan apa yang diutarakan Jung di mana manusia di dunia modern banyak kehilangan esensi hidupnya, dan terjebak pada kebahagiaan penuh kesakitan.

Habit manusia yang berkembang sebagai penyakit, itu memang menyesuaikan dengan kenikmatan yang terlalu menjadi kebutuhan. Kenikmatan dari berbagai inderawi yang pada akhirnya menciptakan kebutaan nurani (butha khalam), sehingga hal tersebut mengkonversikan suatu energi tertentu dalam tubuh, serta atom-atom yang ada, menjadi suatu entitas “hidup”. Di mana dalam ruang hormonal itu mengaktivasi keadaan gelombang pikiran yang membingungkan, yang pula memberikan ruang energi tertentu menjadi suatu maujud yang berbentuk penyakit. Menerobos entitas itu (khala) pada sesuatu yang seharusnya bisa lebih sehat, dan pada saat itulah datang selalu penyakit-penyakit baru yang bernama berbeda dan tidak terhingga akibat habit itu sendiri.

Penyakit ini pun bisa terjadi dari hewan-hewan lainnya atau sesuatu yang tidak berasal dari manusia, yang juga berasal dari pengaruh lingkungan. Pengaruh musim yang memberikan kekuatan energi, atau pula sebaliknya, bisa menciptakan ranah yang seharusnya difiltrasi menuju kesehatan, namun habit diri tidak mampu menguatkan energi semesta itu pada diri. Sehingga energi semesta yang seharusnya memberikan kebermanfaatan, menjadi sesuatu penyakit pula akibat habit (baca:susila) yang kurang bermakna. Filtrasi yang kurang tersebut kemudian menciptakan entitas-entitas yang diberi nama dan menyebarkan berbagai pengaruh buruknya. Itu dikatakan seperti nama-nama iblis penguasa neraka dalam wacana Seven Deadly Sins.

Bagaimana korelasinya, kita bisa amati dan analisa, serta memahami benang merahnya. Seven Deadly Sin itu sebetulya adalah analisa tentang sesiapa yang menciptakan suatu penyakit dari ruang samawi, penguasa neraka itu yang kebetulan berjumlah tujuh juga, dikatakan menguasai berbagai lawan atas habit-habit manusia yang baik, termasuk pula sebagai penarik jiwa manusia untuk masuk ke alam-alam kesakitan di dunia. Ini lah yang memberikan pengaruh buruk pada filtrasi manusia di ruang-ruang energi semesta.

  1. Lucifer: Penguasa neraka yang membawa dosa (duka) bernama pride yaitu kehormatan diri. Suatu hal yang disebut kesombongan, dukka seseorang yang hadir dari gengsi (rajas), terlalu merasa hebat dalam berbagai hal tertentu. Ketika terintegrasi dengan konsep timira, maka kegelapan akibat berbagai hal yang ada ketika cenderung dalam ranah rajasika. Guna-Kulina Kepandaian atau pun title keturunan, sepertinya paling dekat dengan ini. Yang lain bisa berpengaruh, sehingga tepat ketika Lucifer (pride sin) menjadi raja neraka tertinggi.

Kesakitan psikosomatis ini adalah ruang bahaya pada Cakra Sahasraha yang mengakibatkan kegilaan serta penciptaan penyakit di berbagai bagian organ tubuh, yang memakan sel-sel sendiri. Keganasan itu bisa bersumber dari ruang ini. Sahasraha yang telah dikuasai kegelapanNya, dapat sangat mudah medistorsi keseimbangan sel-sel dalam tubuh, apalagi ketika memiliki sifat-sifat genetis dari kelahirannya.

2. Mammon : Iblis yang memberikan dosa dan duka akibat kekayaan. Suatu keinginan dan ambisi yang memberikan pembiasaan terhadap jiwa untuk mendapatkan sesuatu tanpa ingin berproses. Inilah yang memberikan dosa guna timira, kegelapan akibat pengaruh harta dalam ranah samawi. Mammon disebutkan iblis yang menciptakan ambisi yang berlebih, dan membuat kegilaan terhadap harta meningkat, bahkan menciptakan karma2 yang menciptakan keadaan tidak seimbang dari cakra perutnya.

3. Asmodheus: adalah iblis yang menguasai lust seven deadly sin, yaitu pengaruh gelap untuk mempengaruhi dosa dari “kemaluan” manusia. Segala nafsu yang menciptakan kemesraan semu, berawal dari godaan asmodheus. Norma-norma sakral yang sirna itu pula berasal dari asmodheus. Cakra sakral yang hiperaktif, menciptakan ruang kegalauan akan kurangnya kasih sayang, kebutuhan yang berlebih akan kenikmatan. Moral yang terdegradasi dan menciptakan pola dukka dan sangsaya, kehancuran kebersyukuran menciptakan yowana dan surupa timira (kegelapan karena usia muda dan kegelapan karena wajah).

Plastik di wajah memuja sang asmodheus, kemelekatan pada “kelamin” yang salah membentuk kepastian akan ketidaknyamanan di masa depan. Dharma sentana hr dayah tan kapanggih (keturunan yang baik tidak akan termiliki), begitu logika mudahnya. Energi-energi tersebut terealisasikan sebagai bahasa yang berbeda.

Sakit-sakit pada kelamin kemudian kondisi psikis yang membuat kemalasan untuk berjuang demi cinta yang suci. Kecintaan yang hilang untuk diri sendiri, dan tidak menarik sesuatu yang bermakna di orang lainnya.

4.Leviathan

Leviathan

Duka atau lara yang disebarkan oleh Leviathan dalam ruang demoligisme sebagai ia yang dikendalikan oleh envy deadly sins. Yaitu duka yang disebarkan karena terlalu larut pada sifat iri hati dan dalam bahasa kearifan lokal disebut matsaryaning buddhi manahing khalam.

Pada suatu proses karma disebutkan ini terjadi karena manusia terlalu tunduk kepada sifat yang menganggap orang lain lebih baik dari padanya. Walau dalam kebijaksanaan disebutkan bahwa takdir atau perjalanan kehidupan, memiliki bekal sancita karma yang spesifik, dan jauh dari ruang dharmika. Ini memengaruhi juga konsepsi prilaku yang terdiagnosa kurangnya sattwika pada cakra manipura, sehingga ada suatu kepasifan dan membuat bahasa karma marga tidak dijalankan dengan baik.

Pencarian tentang potensi diri diharapkan dapat memberikan kepulihan pada mentalitasnya. Envy adalah suatu timira guna juga yang terindikasi dipengaruhi energi kiwa dari semesta, yaitu sang guna timira yang tamasik, sang kulina-surupa timira yang terlalu rajasik, dan kecenderungan timira dhana yang melampaui kemampuan diri.

5. Satan Prince Wrath Deadly Sins.

Ini adalah dosa selanjutnya yang disebarkan oleh kaum Satanist. Wrath deadly sins adalah suatu duka rogha sangsaya yang dikuasai oleh pangeran Satanik dan dianut oleh mereka yang mengumbar kemarahan mereka sampai pada batas laku.

Di sisi lainnya ada beberapa tipe kemarahan yang sampai pada fase sastrghna atatayi. Kemarahan yang dipendam dalam tattwa jnana disebutkan bernuansa daitya danawa. Apakah ia terliputi kemarahan kemudian dipendam, atau kemarahan yang menyingkir agar terlewati pola konflik fisik.

Kemarahan yang terpendam akan menjadi kesakitan pada mentalitas diri. Dalam sastra disebutkan (Niti Sastra) “kemarahan yang dipendam sendiri, seperti seseorang yang meminum racun namun berharap agar orang lain yang terkena racun itu”. Begitu pun menjadi permasalahan atas trauma-trauma yang dibawa sampai di masa depan.

Namun ketika bisa menafsirkan bahwa sang diri terbebas dari pengaruh gejolak duniawi menuju sunyata, maka ujian itu pun terlewati. Pada fase maslow hal ini disebut pengenalan pada aktualisasi diri, dan mencegah belukar tak perlu pada hidup disingkirkan oleh semesta jua.

Kembali lagi golongan danawa dan daitya pada dirinya, bisa tersingkirkan dengan menekuni kegiatan dhamma seterusnya secara konsisten. Di tempat lain kondisi raksasa pada tattwa jnana menyebutkan kemarahan itu terluapkan pada kehidupan.

Pada sad atatayi bahkan sampai pada agnida yaitu membakar wilayah tertentu (dengan dalih apa pun termasuk agama), yang menjadikan ia sebagai pasukan adharmik. Dan tidak ada cara lain selain menerima penghukuman di Naraka loka kelak.

6&7. Six Seven Deadly Sins.Baalsebhut-Belphegor.

Kedua ini yaitu sixseven adalah dosa atau dukka yang dikumandangkan oleh dua iblis terkutuk yaitu Baalzebut dan Belphegor.

67 Sins ini dikumandangkan oleh dua pangeran neraka, yang menguasai menguji dengan dosa gluttony serta sloth deadly sins. Konsep “perut yang tidak pernah kenyang” atau konsep “kemalasan yang tiada batas”, mengakibatkan pengikutnya akan dikuasai oleh sifat ingin mengenyangkan ambisi saja namun malas melaksanakan kewajibannya. Pada akhirnya menjadi prilaku habit yang menghancurkan kehidupannya secara perlahan.

Rogha kesakitan akan masuk pada ruang tamasika di mana hidup akan seperti hampa di kemudian kelak. Ketika rasa makanan tidak lagi menyamankan diri, rasa malas tidak lagi memiliki ruang batas. Kewajiban yang terbengkalai dan membingungkan cakra ajna dan bahkan cakra sahasraha nya.

Pada sisi kewajiban beragama, ada ritual yang terabaikan, ada ritual laku yang disepelekan. Pada akhirnya hanya kesakitan dan kehancuran mental diterimanya.

Begitulah

Tentu. Yang penting, kita pisahkan dulu ajaran tradisional dari pemetaan simbolik modern, supaya tidak tercampur.

Konsep dan tajuk rencana

1. Ten Sephiroth

Dalam Kabbalah, sepuluh Sephiroth biasanya dipahami sebagai sepuluh aspek/emanasi dalam struktur Tree of Life (Etz Chaim):

Sephirah Makna umum

Keter Mahkota — kehendak/tujuan tertinggi
Chokhmah Kebijaksanaan
Binah Pemahaman
Chesed Kasih, kemurahan
Gevurah Kekuatan, batas, disiplin
Tiferet Keindahan, keseimbangan, harmoni
Netzach Ketahanan, kemenangan, dorongan
Hod Kemegahan, intelek, komunikasi
Yesod Fondasi, penghubung
Malkhut Kerajaan — manifestasi di dunia








—


Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengelola Web Kalvatar Tastra Aksara

Ida Bagus Lingga Wardana, S.E, M.Sos., CH.,CHt., CFHPSy

Lulusan Pasca Sarjana S2 ilmu Agama dan Kebudayaan Unhi, saat ini sedang mengemban pendidikan S3 untuk Ilmu Agama dan Kebudayaan di Unhi

Merupakan Founder dari Penerbit Kalvatar Tastra Aksara, Penerbit buku-buku religi dan spiritualitas.

Serta membuka Konsultasi Psikologi Tarot Reading Kanda Pat Suksma Kalvatar Bali. Dengan Nomor Ijin Praktek,

STPT 570/STPT/0022/IX/DPM-PMTSP 2023

Alamat Jalan Tukad Balian 70x Sidakarya (Sebelah Kedai Magisa)

Kalvatar Tastra Aksara

Jl. Tukad Yeh Aya ruko No.70x blok A2, Panjer, Kec. Denpasar Bar., Kota Denpasar, Bali 80224

https://maps.app.goo.gl/GBnJXoDBh7UMLBRs6

Related posts

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>

Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca