Dalam ruang keberkahan..
Ada pintuNya yang bernama Kãdâjwéruhæ..
Pintu itu yang berisikan cermin kehidupan di saat menyentuh Nya..
Di mana kah itu?
Itu dikala pemaknaan pola Eskatologism menjadi ruang logika pada ranah keyakinan yang fayakun..
——————–
Di saat itu sang kapat akan menceritakan kisah diri, kemudian di samping kirinya disebut Sang Dorakhalam atau Nafsihà Amarrah, Dzatamahya akan mengiya tidakkan..
Kemarahan kemudian dihukum pada rogha..
Saat itu jua…
———————
Di waktu itu sang kapat akan menceritakan kisah jiwa, kemudian disamping kanannya disebut Surahtmanú disebut Nafsihà Mutmaina yang menyebutkan sifati kebaikan dalam kehidupan, dan saat itu jua dan seterusnya mndapatkan SukhàSrhiyam Wedhithah ..
——————–
Di saat ini sang kapat akan mengadukàn cerita Buddhi Rashsya dalam Batn, di mana di depanNya akan tersuratkàn Sang Mahàklahani yang disebut kan Yàjusi Majushàm dan menceritakàn pikiran yang membatin dan menubuatkan kebenaranNya, sang munafik akan hancur di sini..Lalu Ia yang tetap ada akan diberikan keberkàhan yang Nafsiha ASsufiyàha atau Wijnanà waliluyàham ..menuju Sàlokyam Sarupyàm dan mendekat pada Khamilaha..
——–……———
Di saat yang tertinggal sang Kapat berada di Belakang yg bernama Nafsiha Lawanmahnàm kemudian disebutkan akan tertahàn oleh sang Jogormanikhà, ini adalah sang ego yang terjebak pada tujuh gelap sapta timira,-tujuh dosa (seven sins), enam yg keji (sad atatayi), enam yang terpapar kedukaan (sad ripu)-kepapaan-menuju kelaraan-menuju kehancuràn…. Di saat itu lah pendosà akan terngiang2 pada memori kebusukan manàhikà (pikirannya), wacarika (kata2nya), kàyaika (kelakuannya)….Sehingga dikatakn itu sebagài Naraka di Bumi…
———–***——–
Swadhàsbhasmàlah
Strytellr gwr
Kalvatar Wali
8.32. Sukra Umanis Laba Sasih Katiga Saka 1948



Tinggalkan komentar