RSS

Arsip Bulanan: Juni 2012

Ngaben Massal dalam Konteks “Ajeg Bali”.

Ngaben Massal dalam Konteks “Ajeg Bali”

             Upacara Ngaben sebenarnya adalah upacara yang sangat dikenal di Bali, dan bahkan dikenal juga oleh umat lain atau juga sampai dikenal oleh dunia. Ngaben pada dasarnya adalah suatu upacara yadnya yang menjadi bagian dari pitra yadnya. Pitra yadnya yakni adalah upacara yang berhubungan dengan pitara atau roh leluhur. Upacara ini merupakan upacara yang mengantar kerabat yang meninggal agar bisa berjalan lancar dalam kehidupan di alam setelah hidup ini.

Bagaimana ngaben itu menjadi begitu penting, pada dasarnya adalah merupakan hutang yang wajib dibayar oleh keluarga kepada diri yang meninggal. Di samping itu pula juga merupakan lima kewajiban yadnya (panca yadnya) dari umat di kehidupan dunia. Untuk pentingnya ngaben itu sendiri dapat dilihat pada Tattwa Loka Kretti :

“Adapun sawa yang tidak diupacarakan (ngaben), atmanya akan berada di Neraka, bertempat di tegal yang sangat panas, yang penuh dengan pohon madhuri reges, terbakarnya oleh sengatan matahari, menangis tersendu-sendu, menyebut anak cucunya masih hidup, katanya Oh anakku, tidak sedikit belas kasihanmu kepada leluhurmu, memberikan bubur dan air seteguk, saya dulu punya tidak ada yang saya bawa, kamu juga menikmati, pakau baik-baik, tidak ingat sama ayah-ibu, Air tirtha pengentas, pemastuku, semoga kamu umur pendek, demikian kutukannya. Dasar-dasar pikiran tersebut menjadi landasan adanya upacara ngaben tersebut “

Untuk itulah agar Atma yang terhalang perginya, perlu badan kasarnya diupacarakan untuk mempercepat kembalinya, kepada sumbernya di alam, yakni Panca Mahabhuta. Demikian juga bagi sang Atma dibuatkan upacara untuk pergi ke alam pitara dan memutuskan ikatan ke badan kasarnya. Proses inilah disebut ngaben (Wikarman, hal 18).

Kembali lagi ke jaman sekarang, di mana globalisasi telah menjadi bagian sehari-hari. Peningkatan dari suatu kebutuhan jelaslah akan semakin dibebani oleh masyarakat. Seperti kebutuhan sekolah anak, kebutuhan keluarga, atau mungkin pula kebutuhan kesehatan. Bergeraknya kehidupan, terutama di bidang ritual keagamaan juga menjadi suatu pengeluaran penting dari umat hindu di Bali ini. Menurut Sukarsa (2009,hal 55) disebutkan bahwa pengeluaran ritual yang didapat di Gianyar berdasarkan Tri Hita Karana adalah bahwa Hubungan manusia dengan manusia ( manusa yadnya, undangan, gotong royong) sebesar Rp. 4.791.693,47 (56%). Dan untuk Dewa Yadnya atau hubungan manusia dengan tuhan adalah 42% serta manusia dengan lingkungan adalah 2 %. Jadi total adalah 8 jutaan per tahun. Itu adalah suatu gambaran pengeluaran ritual di Bali.

Bali sebagai suatu daerah pariwisata, sebenarnya sangat terkenal di seluruh dunia. Terutama juga adalah bagaimana pariwisata bali menggunakan ikon pariwisata budaya. Hal itu adalah suatu kebanggaan namun juga suatu beban kalau memang tidak disebut keharusan bahwa semakin meningkatnya pariwisata menyerap tenaga kerja yang pula mengurangi waktu untuk keperluan lainnya. Lalu bagaimana yang tidak mendapatkan kue pariwisata itu. Darimana ia akan mendapatkan penghasilan untuk melaksanakan ritualnya, serta bagaimana mereka yang sibuk untuk melaksanakan kewajiban dalam meluangkan waktunya. Di satu sisi para wisatawan tentunya menginginkan kebudayaan Bali akan selalu ada selamanya.

Akhirnya ngaben massal muncul dan menjamur, walaupun dapat dikatakan sudah lama menjadi suatu sisi yang mungkin memberi angin yang segar. Sebelum ngaben massal itu kita lihat, mari kita perincian dana dari ngaben sarat (ngaben yang semarak sesuai dengan upacaranya) yang diperoleh Wikarman (2010). Maka dana yang dikeluarkan untuk bagaimana ngaben sarat itu dilaksanakan adalah sebesar  Rp.13.345.000 (1993). Dan itu masih merupakan ngaben sarat dalam tingkatan kecil. Pada dasarnya adalah ngaben sarat merupakan tingkat ngaben yang penuh semarak atau kemeriahan sesuai dengan upacara yang diadakannya. Ini mungkin pula sebagai aktivitas upacara pitra yadnya yang menjadi ikon Bali atau pariwisata.

Ngabaen massal telah dilakukan di kuta pada tahun 2008 yang juga diikuti oleh beberapa desa di Klungkung, Karangasem, Gianyar atau pun di Kintamani. Seperti pula dilihat dari penjelasan LPD desa adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H. M.M., bahwa biaya yang sebenarnya upacara ngaben senilai 60 juta dapat dihemat hanya menjadi 15 juta sampai 20 juta, dan bisa dialokasikan ke pendidikan anak-anak, katanya. Lain pula di Jembrana, di mana ngaben massal dilaksanakan di desa batu agung. Yang ikut pun tidak hanya dari desa sendiri terdapat juga dari desa yehembang, candikusuma, warna sari dan bahkan dari lombok pula. Sedangkan besaran biaya yang dipatok adalah senilai Rp. 1.750.000 untuk memukur, dan Rp. 750.000 untuk ngelungah.

Hal ini dapat disadari merupakan suatu yang sangat membantu bagi masyarakat yang membutuhkan kelepasan terhadap belenggu biaya. Di samping itu pula bagaimana jika ini dilaksanakan ke depannya akan menjadi suatu dasar yang kokoh pada pendidikan umat, dalam bidang ekonomi, namun tidak melupakan budaya sebagai pilarnya. Hal ini sejalan pula dengan apa-apa yang disebut konsep Ajeg Bali. Ajeg Bali dapat diartikan sebagai “Kondisi dinamik Bali, yang meliputi segenap aspek kehidupannya yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhannya yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatanya dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan integritas, kelangsungan hidupnya sendiri dalam hubungannya dengan kelangsungan hidup bangsa dan Negara (NKRI) serta perjuangan mengejar tujuan nasional (wingarta,2006:6).

Dari definisi di atas, sebenarnya adalah ajeg bali merupakan suatu yang dinamis dan bukan statis. Dan dari apa yang disebut aspek kehidupan adalah bukan hanya dari sisi sosial budaya dan agama saja, namun juga dari sisi politik, ekonomi, demografi, geografi, serta ideologi, dan juga pertahanan, keamanan. Semuanya mensifati hubungan terintegrasi yang artinya saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Jadi tidak ada hal yang boleh terlepas dalam kelangsungan untuk mengembangkan dan mempertahankan Bali itu sendiri.

Dapat juga dilihat pada definisi yang telah disebutkan, bahwa bagaimana ancaman yang ada baik dari dalam atau dari luar yang secara langsung atau tidak langsung, menjadi suatu yang harus dihadapi dan dicarikan solusinya. Sehubungan dengan saat ini bahwa ancaman datang mungkin dari bagaimana globalisasi itu cukup membelenggu, terutama dengan kebutuhan yang terus meningkat. Di samping itu kebudayaan tentu saja harus diupayakan sedemikian rupa untuk tetap ada, selain pula dari sisi religi dan agama tetap dipertahankan sesuai dengan sumber-sumber sucinya.

Ngaben massal seperti yang diketahui adalah suatu upacara yang besar pula jika dilangsungkan sendiri. Namun ngaben massal betullah suatu upacara yang tidak terlalu membebani karena secara kolektif biaya itu ditanggung bersama. Bahkan ada sedikit selentingan kata-kata dari seseorang yang mengikuti ngaben massal, “Jika dari dahulu ada upacara ngaben seperti ini, tidaklah sampai tanah leluhur dulu saya habis terjual.” Dari sini terlihat jelas bagaimana kegunaan tersendiri dari ngaben massal itu.

Bagi Ajeg Bali pada dasarnya, jika sekumpulan dari selentingan itu benar, maka ngaben massal juga akan menyelamatkan kondisi geografis dari kepemilikan wilayah pulau Bali itu sendiri. Selain itu jelas bahwa dari segi ekonomi membantu bagi yang kurang memiliki kemampuan dana untuk melaksanakan ngaben secara personal. Dari segi budaya pada dasarnya akan menjadi suatu keajegan tersendiri, di samping pula sesuai dengan ikon pariwisata budaya untuk Bali. Terakhir untuk kelayakan ngaben massal, sebenarnya telah dilakukan oleh berbagai desa atau adat dan tentu saja melibatkan para sulinggih. Hal ini menunjukkan bahwa secara agama ngaben massal tidak bertentangan dengan sumber-sumber suci yang terbukti secara aplikasi oleh legitimasi para sulinggih. Jadi tidaklah salah bahwa Ajeg Bali bisa dijaga oleh ngaben massal ini. Dan ke depannya ngaben massal sangat relevan untuk dilaksanakan dalam perkembangan jaman yang semakin global dan modern ini sekaligus pula semakin mencekik.

 

Daftar Pustaka

Abhi (humas), 2012. “Ngaben Massal, Hemat Biaya dan Kaya Manfaat”. Di website http://www.jembranakab.go.id/index.php?module=detailberita&id=1638

Baktian Rivai Ardhian, 2010. “Ajeg Bali : Konsep untuk Selamatkan Bali.” Di website http://regional.kompasiana.com/2010/07/29/ajeg-bali-konsep-untuk-selamatkan-bali/

Dwi Koestanto Benny, 2008. “ Ngaben Massal : Seribu Harapan di Setra Dalem Ubud”. Di website http://www.wisatamelayu.com/id/news.php?a=QkpMTC8g=

Dwija Bhagawan,____.” Ngaben Gotong Royong”. Di website http://stitidharma.org/ngaben-gotong-royong/

Sujaya Made, 2008. “Ini Eranya Ngaben Massal”. Di website http://pojok-bali.blogspot.com/2008/08/kini-eranya-ngaben-massal.html

Sukarsa Made, 2009. “Biaya Upacara Manusia Bali”. Penerbit Arti Foundation Bali.

Wikarman Singgin I Nyoman, 2010. “Ngaben (Upacara dari Tingkat Sederhana sampai Utama)”. Penerbit Paramita Surabaya.

_____, ____. “Ritual Ngaben”. Di website http://wisatabali2010.wordpress.com/ritual-ngaben/

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Juni 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , ,

Warna yang terdapat pada Setiap Diri Umat..

Warna yang Terdapat dalam Setiap Umat

Warna yang terdapat pada Hindu, sangatlah dikenal dan memiliki peran yang krusial di masyarakat itu sendiri. Warna atau kewajiban yang ada dalam diri umat tersebut, tentulah dipahami secara serius dalam kehidupannya. Sebagai juga seorang Dharma Raksaka ( pembela dharma), pada dasarnya hindu telah kewalahan namun masih tetap ajeg sebagai agama yang terbijak dalam memahami dan menilai suatu kehidupan. Nilai “diri” yang selalu di mantapkan oleh gelombang-gelombang fitnah oleh mereka-mereka yang memiliki tujuan khalifah. Maka sebagai suatu kebijakan pula dan dengan pengharapan dari berbagai kekuatan agung (sebagaimana pula agama) bahwa jaman akan berubah seperti yang diceritakan pada berbagai mitos, isu, dan ramalan. Lalu apakah itu memiliki nilai kebenaran?Terlihat pada mata yang terbuka dan jelas dengan fakta, maka ramalan itu sesungguhnya telah terjadi.

Kembali lagi pada wacana warna, maka warna dengan kewajiban-kewajiban itu dibagi menjadi Brahmana, Ksatria, Weisya, dan Sudra. Kewajiban itu terdapat secara jelas di Sarasamuscaya 59 sampai saramuscaya 60. Keempatnya itu pula, sedangkan pada Sarasmuscaya 61 disebutkan bagaimana kewajiban itu tidak dilakukan yang berakibat malapetaka, sebagai berikut :

Sarasamuscaya 61.

raja bhirur brahmanah sarvahakso vaicyo’nihavan, hinahvarno’lasasco, vidvanacilo vrttahinah kulinah bhrasto brahmanah stri ca dusta

Hana pwa mangke kramanya, ratu wedi-wedi, brahmana sarwabhaksa, waica nirutsaha ring krayawikrayadi karma, sudra alemen sewaka ring sang triwarna, pandita dussila, sujanma anasar ring maryadanya, brahmana tan satya, stri dustra dussila

Artinya adalah Jika hal yang demikian keadaannya ; raja yang pengecut, brahmana yang doyan makanan, waisya yang tidak ada kegiatan dalam pekerjaan berniaga, berjual beli dan sebagainya, sudra enggan, tidak suka mengabdi pada tri warna, pandita yang bertabiat jahat, orang yang berkelahiran utama nyeleweng dari hidup sopan santun, brahmana yang curang dan wanita yang bertabiat nakal dan berlaku jahat.

Seperti pula pada

Sarasamuscaya 62

ragi muktah pascamanah svahetormukho vakta, nrapiham ca rastram, ete sarve  cocyatam yanti rajan, yascamuktah snehahinah prajasu.

Waneh, wanaprasthadi, sawakaning mataki-taki kamoksan tatan hilang raganya, masuruhan maphala ryawakya, swartha kewala wih, inahaken patirhana, panemwana warawarah, ndan murkha, tan pinolih sukhawasana, kadatwan tan paratu, grhastha tan masih ring anak, tan huninga ring rat kuneng, samangkana lwirning kawlas arep, niyata wi panemwaya hala.

Artinya :Lain lagi wanaprastha dan sejenisnya, yaitu orang-orang yang mempersiapkan dirinya untuk memperoleh kelepasan (moksa), akan tetapi orang itu tidak lenyap nafsu birahinya, malahan memasak makanan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri saja, mencemarkan tempat-tempat suci, yaitu tempat memperoleh ajaran-ajaran suci, angkara murka, tidak mengindahkan segala yang mengakibatkan kebahagiaan, kerajaan tanpa raja, seorang kepala rumah tangga yang tidak mengasihi anak-anaknya; pun tidak mempedulikan keadaan masyarakat; sedemikian banyaknya hal-hal yang menimbulkan prihatin; terang nyata mereka itu psti akan menemui malapetaka.

Jadi sesuai yang di atas, adalah bahwa mereka-mereka yang tidak melakukan kewajiban akan mengalami malapetaka sebagai akibat kesalahan mereka sendiri. Terdapat juga kepatutan yang selayaknya dijalani oleh catur warna tersebut. Yaitu dalam :

Sarasamucaya 63

arjvam cancramsyam ca damaccendriyanigrahah, esa sadharano dharmascaturpvarnye bravimanuh.

Nyangn Ulah pasadharanan sang caturwarna, arjawa, si duga-duga bener, anrsansya, nrcansya ngaraning atmasukhapara, tan arimbawa ri laraning len, yawat mamuhara sukha ryawakya, yatika nrcansya ngaranya, gatining tan mangkana, anrsansya ngaranika, dama, tumangguhana awaknya, indriyanigraha, humrta indriya, nahan tang prawrtti pat, pasadharanan sang caturwarna, ling bhatara Manu.

Artinya : Inilah prilaku keempat golongan yang patut dilaksanakan : arjawa, jujur, dan terus terang; anrcangsya, artinya tdak nrcangsya maksudnya mementingkan diri snediri, tidak menghiraukan kesusahan orang lain, hanya mementingkan segala yang menimbulkan kesenangan baginya; itulah disebut nrcangsya; tingkah laku yang tidak demikian, anrcangsya namanya; dama artinya dapat menasehati diri sendiri; indriyanigraha, mengekang hawa nafsu; keempat perilaku itulah yang harus dibiasakan oleh sang caturwarna; demikian sabda Bhatara Manu.

Jadi maka seperti yang disabdakan Rsi Manu, bahwa keempat catur warna diharapkan memiliki sikap-sikap seperti di atas, yaitu jujur dan terus terang (arjawa),tidak mementingkan diri sendiri(anrcangsya), mengekang hawa nafsu (indriyanigraha), dan yang terakhir adalah menasehati diri sendiri (dama).

Dari itu lah tidak bisa dipungkiri bahwa sesungguhnya kewajiban luhur itu bersama-sama dijalani dengan sedemikian rupa. Sebagai catatan bahwa dalam diri mengandung pula unsur-unsur bagaimana catur warna itu menerobos dalam jenjang-jenjang jiwa rohani ini serta menjadi suatu kelakuan di dalam kehidupan itu sendiri.

Sebagai suatu marga atau warna yang terdapat pada “soroh” atau klan masing-masing, Maka terkumpullah suatu kewajiban dan suatu hutang budi dari setiap warna tersebut. Maksudnya adalah Tri rna atau tiga hutang yang wajib dilunasi sedemikan rupa. Yaitu sebagai berikut :

  1. Dewa Rna : Hutang kepada dewa.
  2. Pitra Rna : Hutang kepada Pitara (leluhur)
  3. Rsi Rna : Hutang kepada Guru.

Jadi bila dihubungkan sedemikan rupa, maka marga atau warna atau klan tersebut berkewajiban melunasinya atau pula paling tidak bersyukur atas jasa-jasa yang diterima oleh keturunan-keturunanNya (Beliau).

Pada Akhirnya adalah bahwa ia yang berwarna/bermarga, akan mengetahui dan wajib menjalankan suatu sujud bakti dan mengerti akan bagaimana Ia berada di  ke-warna-annya di marganya dengan mengetahui asal muasal Ia seperti “Kawitan” atau pula “Pedharman” mereka sendiri. Itu adalah sebagai awal pengetahuan akan “diri” dan telah tentunya  Sebagai atma tattwa yang terbungkus Panca Maya Kosa sebagai standar penilaian akan Sancita Karmapala (karma yang terdahulu) dan juga Pradabda serta Kryamana karmapala.

Sebagai misal bahwa dalam pengertian “sudra” maka pada dasarnya kita siapa pun itu pasti pula mengabdi pada berbagai tatanan atau struktur kehidupan. Contoh di keluarga kita mengabdi, melayani istri, orang tua, masyarakat, atau mungkin bagaimana kita melayani perusahaan saat bekerja. Ataukah memberi pelayanan sesuai tugas atasan dan sebagainya. Dalam bahwasan sebagai “Weisya”, pada dasarnya semua orang siapa pun itu tidak lepas dari yang namanya kerja untuk mencari artha, apakah itu di swasta, pemerintahan, atau pula dari sisi bisnis dan ekonomi. Intinya adalah artha sebagai suatu jalan dalam catur purusa artha menjadi komponen untuk mencapai moksartham jagadhita. Dan hal ini juga menyusup pada buana agung dan buana alit sebagai sebuah “diri” atau atman yang suci.

Lain itu kewajiban sebagai “ksatria” bahwa setiap manusia pun memiliki kewajiban untuk melindungi, baik itu dirinya, keluarga, bahkan bangsa dan negara. Melindungi istri, anak, suami, atau juga orang tua serta keluarga besar adalah suatu kewajiban pula oleh setiap lapisan umat. Semua orang punya nurani untuk melindungi semua yang dicintainya. Dan terakhir adalah sikap “Brahmana”, bahwa sesungguhnya manusia yang mempelajari agama adalah kewajiban, serta menjalankannya sehari-hari. Seperti pula semua menjalankan yadnya menghaturkan sembah, serta sebagainya. Dan akan sangat baik jika semua umat memiliki pengetahuan tentang keagamaam, dan mengajarkannya pada anak-anak atau dengan laku agar ditiru menjadi panutan. Jadi itulah maka manusia atau umat memiliki semua warna di dalam dirinya, selain pula warna yang terdapat di masyarakat.

Satyam eva Jayate.

om Santi rahayu jaya om

gwar….3/6/2012

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Juni 2012 in agama, budaya, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: