Om hyang samasta bhuwana langgeng, maha jnana widya hring hredaya, dharma sentana Ida hyang acintya, sirna dukka lara rogha hring mahima sang cittaning maha Ageng…

“Kita semua sedang sakit”. Siapa yang ingin sakit? Sebetulnya hidup pun tidak pernah terlepas dari kata sakit. Sakit adalah keniscayaan dalam hidup, walaupun semua menginginkan kesehatan. Akan tetapi ini sama sekali tiada terhindarkan, tetapi dikatakan mampu dicegah dalam prilaku hidup yang sehat.

“Iya kita semua sedang sakit”. Namun dalam perspektif religi Hindu, sakit dapat terjadi dengan berbagai bentuk. Dalam sastra tersebutkan bahwa, ada pengaruh dari bhatara kala atau juga mitos dewi durga, yang memang diperkenankan memberikan duka, lara, rogha, sangsaya, atau bahkan pati, kepada mereka yang tidak melaksanakan kewajiban dan dharma mereka sebagai manusia. Duka adalah kesakitan karena sedih atas sesuatu, yang akhirnya menyerang mentalitas seseorang, kemudian ada lara yaitu sakit sehingga menderita secara batin dan mental, rogha adalah kesakitan yang terjadi di fisik, serta sangsaya adalah kesengsaraan hidup akibat berbagai hal. Kesemuanya ini adalah akibat ketidakpahaman manusia dalam memaknai konsep kehidupan ini. Dalam ruang karmapala, maka segala sesuatunya itu merupakan bagian dari hasil perbuatan manusia dari masa yang lalu, dan menjadi bagian kehidupan di masa sekarang atau keniscayaan di masa depan.

Kesakitan sendiri menurut Ayur Weda dan Samkhya, terdiri dari tiga jenis yaitu :

  • 1.Adyatmika dukka yaitu kesakitan yang diakibatkan oleh pikiran dan tubuh sendiri, dan organ-organ tubuh sendiri. Kesehatan dari pikiran yang juga memengaruhi jasmaninya. Termasuk juga gaya hidup serta pola pikir.
  • 2. Adhibautika dukka yaitu kesakitan akibat dari luar tubuh atau cuaca, dan pengaruh luar tubuh. Kecelakaan, pengaruh virus, bakteri, cuaca dingin, dan lainnya.
  • 3. Adhidaivika dukka yaitu sakit yang dipengaruhi oleh kekuatan luar dan mengarah pada keadaan supra. Ini juga terjadi pada ketidakharmonisan hubungan vertikal dengan Tuhan, leluhur, atau yang tidak mengetahui asal muasal diri, janji yg tidak ditepati kepadaNya, serta pengaruh ilmu-ilmu negatif, pepasangan, gaib, dan sebagainya.

Ini yang dapat dipahami sebagai  sumber-sumber kesakitan dalam hidup. Manusia sendiri tidak bisa lepas dari sakit itu di dalam kehidupan, seperti juga bahwa manusia akan tidak lepas dari kelahiran serta kematian. Pada dasarnya dalam konsep karma duka,lara, rogha, atau sangsaya, adalah keniscayaan dalam hidup sebagai bagian karma diri, baik yang merupakan sancita karma, karma dari masa lalu, karma saat ini pradabda karmalala, atau kelak kryamana karmapala karma masa depan pada samsara berikutnya.

Keniscayaan pada alam bhur loka ini dan terlahir menjadi manusia, dapat dianggap sebagai takdir atau jalan hidup, dan perlu kesadaran bahwa manusia tentunya memiliki kekuatan untuk menguatkan diri agar itu bisa terlewati segala karma dengan baik. Hidup menjadi manusia adalah suatu takdir yang perlu disiasati dengan baik. Namun adalah tetap kebersyukuran, karena dengan dibarengi suatu pikiran sang citta ning buddhi, manusia memiliki kemampuan mengubah nasibnya dan untuk meningkatkan kehidupannya.

Sakit yang kita alami itu hadir sebagai bagian dari karma, serta sekaligus dapat dikendalikan dengan pengelolaan pikiran. Pengelolaan atas prilaku serta pmbiasaan diri. Itu yang sejatinya bisa diatur sedemikian rupa agar kelak terhindar dari belenggu duka, lara, rogha, sangsaya.

“Iya kita semua sedang sakit”, namun dalam persentase yang berbeda-beda. Persentase pada kesadaran diri yang telah menyadar, dari suatu ketidabersadaran atas lekat mayawadi. Ketidaksadaran itu yang melepaskan rinai suka-bagya antahkarana  sarira, sehingga melupai kodratnya sebagai sang aham brahman asmi, brahman atman aikyam. Kesadaran tentang kemanunggalan denganNya, tentu ini juga terjebak pada konsep tubuh, ruang dan waktu. Melupa sampai terlekat di geliat mayaguna.

“Kita semua sedang sakit”, dan dapat terlihat penyebab sakit adalah Tri Mala, mithia hredaya yaitu berpikir buruk atau meniatkan diri tentang keburukan orang lain, mithia wacana tentang perkataan sombong dan jumawa tidak tepati janji, mithia laksana berprilaku buruk di dunia, menciptakan duka dan dosa. Dari ini terciptalah namanya karma dosa, karma dukka yang pasti akan diterima di waktu mendatang.

“Iya sakit kita semua”, adalah belenggu sad ripu dan sapta timira. Enam musuh diri serta tujuh kegelapan yang menerobos masuk ke dalam sendi-sendi keseharian. Sakit dalam sad ripu adalah Moha kebingungan akan kehidupan serta kurangnya prinsip hidup yang memengaruhi keadaan psikis.

Mada adalah kemabukan atau adiktif terhadap sesuatu yang membuat diri lupa keadaan yang sadar atau tidak sadar, akibat menyukai aroma untuk melupakan swadarma di dunia. Rentan untuk berlari dalam ruang yang katanya lebih baik dari swadarma dunia.

Krodha kemarahan yang melupakan kesadaran tentang hakikat kasih sayang, kesabaran, sehingga membuka keluarnya hormon kortisol akibat stress. Aura cakra jantung mengecil, kasih sayang yang menurun mengakibatkan rentannya depresi, kekecewaan.

Kama hawa nafsu keinginan yang berlebihan yang menjadi musuh sehingga tak mampu dikontrol dengan baik. Mengarah pada penumpukan kekecewaan ketika belum tercapai, tenaga yang tersalurkan berlebih pada jerat-jerat kesenangan duniawi yang membentuk keniscayaan karma buruk. Aura cakra sakral yang kelak menggelap, serta memengaruhi bloking di cakra ajna serta koneksi pada semesta di cakra sahasraha (mahkota).

Matsarya adalah iri hati atau ketidakmampuan dari kecerdasan intelektualitas dalam mengejar suatu pencapain dari orang lain, yang seharusnya tidak perlu dilakukan, akibat kurangnya kesadaran pada kemampuan diri. Harapan menjadi orang lain, adalah kecerdasan diri yang tidak berkembang, penyumbangan suatu energi pada gerak orang lain, kemudian diri yang lupa diasupi mentalitas untuk hidup. Kesakitan yang benar-benar karena kebodohan diri. Ajna yang dibloking untuk tidak berkembang, serta cakra perut (ambisi) yang dikonversikan untuk menguntit keberhasilan orang lain. Sungguh kasihan.

Lobha adalah kerakusan akan sesuatu di duniawi, yang tidak mampu mengukur diri secara tepat seberapa perlunya diri untuk sesuatu. Kenikmatan yang berlebihan pada sisi materialisme, kekuasaan,  kekayaan, hedonisme, makanan yang tidak pernah kenyang, bisa jadi karena tidak ada pengetahuan akan kapasitasnya. Apa pun yang berlebih akan menuju pada keadaan over dan terjadi penumpukan yang tidak perlu. Perut membuncit karena cacing hedonis, dada membusung jantung berdebar karena nilai empati bisa jadi menurun.

Duka, lara, rogha, sangsaya terjadi juga akibat belenggu kegelapan yang berjumlah tujuh, disebut sapta timira. Seperti dana timira yaitu gelap karena belenggu materi kekayaan dunia. Kecukupan diri yang tidak diketahui, kemudian empati yang kurang terhadap sesama, belenggu itu terkumpul menjadi ketidakseimbangan pada cakra perut, cakra anahata. Lara-nya adalah sakit jantung serta sakit pada metabolisme tubuh, termasuk ketika tidak mau tersadarkan, cakra ajna yang membuat sakit kepala.

Kesakitan selanjutnya adalah karena belenggu yowana dan surupa timira. Ini adalah kegelapan karena kepercayaan diri berlebih atas usia yang muda, serta perasaan bahwa diri selalu memiliki pancaran rupa yang rupawan atau cantik. Sangat mengerikan ketika usia muda dikelola dengan berkenalan kepada hedonism atau kenikmatan memabukkan, yang kelak mengarah pada ketidaksadaran di saat telah beranjak tua yang hanya menikmati kesakitan akibat karma buruk saja. Ini pula yang terjadi pada pribadi yang selalu merasa paling rupawan, dan melupai mengisi kecerdasan diri, dan terjebak pada “menjual” kemolekan diri saja. Diri yang memang jadi murah harganya, begitu ketika kesakitan hadir akibat dirinya sendiri saja.

Kesakitan lainnya yang disebabkan oleh gelap yaitu sura dan kasuran timira, yang sangat berdekatan atau mungkin tidak terpisahkan. Sura sakit karena terlalu banyak mengkonsumsi minuman keras yang secara erat sangat berhubungan dengan konsep pemujaan terhadap keberanian (baca: kasuran timira). Seseorang yang berani itu sesungguhnya tidak bermasalah, namun ketika berlebihan maka secara tubuh akan membuat cakra dasar menjadi merah membara berpendar kuat mengintimidasi. Ini di mana pun akan mengundang perselisihan, ketika perselisihan terjadi sang rogha kesakitan tubuh akibat perselisihan itu persentasenya terus bertambah. Entah karena pukulan dan tendangan, atau kecelakaan akibat terlalu berani mengebut di jalan raya, dan sebagainya. Tentunya ditambah dengan sura atau minuman keras, sepertinya segala rogha itu dapat berkurang sakitnya sebagai ilusi, namun dalam kenyataannya bisa jadi lebih besar dari itu, rasa sakit yang sekedar tertunda.

Sakit yang selanjutnya adalah karena terlalu bangga pada diri, kelahiran diri, asal muasal diri yang katanya sangat baik tempatnya, sangat dihormati, namun melupai tanggung jawabnya. Ini disebut belenggu kulina timira , yaitu belenggu gelap karena keturunan. Berkepala besar dan dada membusung ke depan, dagu agak menghadap ke depan, walau asupan terhadap sang jnana sangat sedikit, tetap hidup itu berada di bawahku semuanya. Keadaan ini semesta hanya akan menyulitkan mereka saja, yang tulus dan baik akan menjauh, yang jahat mendekat untuk memanfaatkan, yang licik akan membuat mereka menjadi umpan saja. Terombang-ambing tidak tau arah, atau masih merasa percaya diri, namun dalam pikiran saja yang artinya membuat mentalitasnya terganggu.

Yang selanjutnya ini adalah kesakitan yang mungkin agak sulit disembuhkan, karena disebabkan oleh ketinggian hati dan pikiran diri. Disebut itu guna timira yaitu sakit yang disebabkan karena merasa terlalu pandai, dan tidak menerima pendapat dari orang lain. Sejatinya adalah suatu kebenaran itu berkeping-keping adanya tercecer di dunia, yang tentunya terdapat juga di orang lain pada suatu persepsi yang berbeda. Tidak ada yang mampu memasukkan seluruh pengetahuan di dunia ke dalam satu kepala, dan bahkan pengetahuan yang belum terpahami itu bisa berasal dari mana saja, tanpa terkecuali. Hal ini memengaruhi cakra ajna yang menjadi terlalu aktif, dan kalau tanpa penyadaran atas konsep susila atau dharma sebagai penyeimbangnya, akan menjadi pribadi yang licik, culas, serta penuh tipu daya. Kemenangan mungkin hadir pada awalnya, namun sampai sejauh mana pun bersembunyi dan berlari, tidak ada yang dapat tertemukan oleh sang karma.

cek ricek…

Kemudian ada konsep lain berdasarkan keseimbangan sapta cakra, beserta kecendrungan tri guna yang berpengaruh terhadap cakra-cakra terkait.

Semoga kita tersadarkan, bahwa sakit itu keniscayaan untuk menjadi sebuah kebersadaran untuk bersikap bijaksana. Bijaksana untuk mengakui telah begitu banyak ruang kebersyukuran atas sang dharma yang hadir, sebagai ramuan terbaik untuk usaha menyirnakan kesakitan itu. Dengan tujuan terindah yaitu “Sang Itu Jua”.

Rahayu

Gus Lingga Wardana (Des 2024)


Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengelola Web Kalvatar Tastra Aksara

Ida Bagus Lingga Wardana, S.E, M.Sos., CH.,CHt., CFHPSy

Lulusan Pasca Sarjana S2 ilmu Agama dan Kebudayaan Unhi, saat ini sedang mengemban pendidikan S3 untuk Ilmu Agama dan Kebudayaan di Unhi

Merupakan Founder dari Penerbit Kalvatar Tastra Aksara, Penerbit buku-buku religi dan spiritualitas.

Serta membuka Konsultasi Psikologi Tarot Reading Kanda Pat Suksma Kalvatar Bali. Dengan Nomor Ijin Praktek,

STPT 570/STPT/0022/IX/DPM-PMTSP 2023

Alamat Jalan Tukad Balian 70x Sidakarya (Sebelah Kedai Magisa)

Kalvatar Tastra Aksara

Jl. Tukad Yeh Aya ruko No.70x blok A2, Panjer, Kec. Denpasar Bar., Kota Denpasar, Bali 80224

https://maps.app.goo.gl/GBnJXoDBh7UMLBRs6

Related posts

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>

Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca