Om karmany hning wwang sahadjanatakha, tinemu weruh phalaning laku, sang susila buddhi pradnya, wijnana lan raharja ida sang sadhu…

Karmapala adalah suatu kepastian yang pasti. Sebagai hukum semesta raya, yang diyakini atau tidak, itu akan tetap terjadi. Sebagai bagian dari sang manusia yang hidupnya selalu terliputi hukum IA Maha Khalik.
Dalam kehidupan tentunya tidak terlepas dari sancita karma. Buah kehidupan dari masa lalu, setidaknya adalah ruang genetik pun tidak memungkiri adanya diferensiasi karakter manusia. Pada Tattwa Jnana, tersirat manusia memiliki konsepsi kombinasi sattwika, rajasika, dan tamasika sebagai bekal kehidupannya saat ini. Whraspatti tattwa juga menyebutkan tentang kelahiran manusia yang hadir pada keseimbangan Tri Guna, sebagai berkat sekaligus ujian dalam mengarungi lautan hidup.
Tattwa jnana menyebutkan sifati dari sattwika terdiri dari sifat tri purusha, panca rsi, sapta rsi, dewarsi, dewa yang memberikan bekal kekuatan daiwa sampat dalam kehidupan. Kemudian pada sifat yang netral manusia memiliki rajasika yang terdiri dari widyadara, gandharwa, daitya, danawa, atau raksasa. Ini sebaiknya perlu ditarik ke arah sattwika guna tadi agar dominasinya menciptakan pahala baik.
Lalu terdapat pula sifati bhuta yang memperlihatkan bagaimana manusia dalam dirinya terjebak pada godaan-godaan hidup. Sifat tersebut dalam tattwa jnana dikatakan bernuansa bhuta yaksa, dengen, kala, paisaca. Terkadang kekuatan tamasika bisa menjadi kuat dan lebih dominan. Hal itu menyebabkan jiwa manusia itu turun kualitasnya menuju kehancuran kehidupan.
Konsepsi Psikologi Manusia pada Sifati “Dewa ye, Manusa Ye, Bhuta Ye” dalam Jnana Tattwa
Pola karakteristik ini sebetulnya bisa dipahami oleh kesadaran diri. Tersadarkan oleh sesuatu yang akhirnya menyentuh ruang kebijaksanaan yaitu sang wijnana maya kosha. Atau kebersadaran itu bisa diketahui kombinasi awalnya dari sifat-sifat yang ditulis di kelahiran. Pewacakan watek wariga yang terintegrasi dengan karakter tattwa jnana mampu memberikan gambaran tersebut.
Kemudian selanjutnya yang terpenting adalah bagaimana pradabda kryamana dapat memberikan kebermanfaatan pada hidup. Ruang aktualisasi diri (maslow) yang diungkap oleh struktur kepribadian, dapat dianalisa dengan baik demi menciptakan strategi berkehidupan dalam ruang sang dharmika. Pencapaian dalam kehidupan duniawi ini adalah seperti mantra berikut :
Om Ayu Werdi Yasa Werdi, Werdi Pradnyan Suka Sriam, Dharma Santana Werdisyat, Santute Sapta Werdayah. Om Dirgayuastu tatastu astu, Om Awignamastu tatastu astu.”
Artinya secara tersirat adalah permohonan terhadap kesehatan dan umur panjang, keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupan, kebijaksanaan serta kecerdasan, kebahagiaan, keberkahan, kewibawaan, dan kemakmuran lahir batin. Keturunan yang baik akan budi pekerti serta prilaku yang terus berkembang ke arah kebaikan.
Permohonan ini adalah sebagai cahaya yang patut sebagai hasil buah karma pada kehidupan sekarang (pradabda karmapala). Dapat dikatakan kondisi ini adalah swarga ning bhur loka, keadaan surgawi di ruang dunia. Ini sejalan dengan penerapan pada whraspati tattwa, yang menunjukkan ketika rajasika dikendalikan oleh sattwika maka akan bertemu swarga loka. Walau tujuan akhir adalah kelepasan, namun kesadaran akan berproses melewati ini, karena tanpa pemahaman yang mana tamasika, atau sattwika tiada mungkin bertemu yang bernama kondisi kelepasan (samipya, salokya, sarupya, sayujya).
Galungan adalah momentum untuk mengingat bahwa suatu kebenaran (dharma) menang melawan ketidakbenaran. Kemenangan sang dharma dapat dipandang melalui perspektif apa saja, tidak terbatas. Dengan sumber tattwa sebagai kekuatannya, susila sebagai pengaplikasiannya dalam kehidupan manusia. Serta diperingati pada puja, mantra, yantra (bebantenan), pada upacara.
Arketipe-arketipe diri pun menjadi kebersadaran sendiri untuk memahami karakteristik jiwa. Pearson (Awakening the Heroes Within) menyebutkan tentang perlunya memahami bahwa ada karakter pahlawan dalam diri yang perlu diungkap kemudian diimplementasikan pada keseharian. Dua belas arketipe itu sejatinya bisa terungkap secara awal dari pola kelahiran yang ada. Tersirat pada sancita karma kehidupan.
Similaritas Konsepsi Pewatekan Wewaran dengan 12 Arketipe Psikoanalisa
Jiwa-jiwa yang ketika dicoba untuk dikenal, akan membuka citraNya secara bertahap. Sampai kelak ‘tersentuhNya’ wahana Sang Wijnana Kosha. Asumsi yang dapat disingkap dari setiap episode pengingat kemenangan Dharma melawan Adharma adalah bahwa setiap manusia tidak ada yang tidak memiliki sattwika guna pada kehidupan. Dan tidak ada pula manusia yang tidak memiliki sifati tamasika bhutadi dalam hidupnya. Itu adalah hakikat kelahiran manusia pada ruang ‘surga terbawah’ bhur loka.
Tugas manusia bukan saja cuma untuk mengingat, akan tetapi menjadikan dunia sebagai tempat untuk membagikan, mengoperasionalkan, mensyiarkan, sang kebenaran Divinitas Dharma. Menjadi cerminan The Supreme One.
Selamat Galungan
Buda Kliwon Dungulan- Sasih Kasa- Saka 1948



Tinggalkan komentar