RSS

Arsip Bulanan: Juni 2011

Berekonomi dengan JIwa Iklas, PUas dan Adil yang bukan hanya Untung dan RUgi

Sebenar-benarnya dalam bisnis maka hal terpenting adalah bagaimana semua menjadi puas, Patner bisnis adalah saudara atau kawan yang bisa diajak kerjasama dengan unsur kepercayaan dan menjadi sangat puas adalah hal mutlak dalam bisnis yang baik….Namun dalam menjalani itu rasa iklas dalam mendasari sebagai bagian dari sifat mengalah untuk menjadikan salah satu pemenang yang mendapatkan untung adalah hal yang BAIK utnuk dilakukan.. Hal ini akan menambah perbendaharanaan pertemanan serta persahabatan yang jauh lebih bermanfaat dari sekedar UNTUNG DAN RUGI…

 

Dan Yang terakhir adalah jika hal itu tercipta maka ada baiknya serta juga sangat mutlak keadilan dari sisi berbagai pihak dalam soal rasa yang berarti juga kepuasan akan membuat semua menjadi sempurna…Maka ini lah yang sebenarnya mendaasari dari filosofi PANCASSILA dalam berbisnis…

 

Untuk masalah untung rugi itu hnay tergantung dari pembeli barang-barnang atau pengguna jasa..Maka itu beisa sangat diterapkan namun juga agar sesuai dengan target daroi bisnis itu sendiri…Dalam hal Ini praktek Iklas, Puas dan Adil inilah yang mempengaruhi dari sifat kepartneran dlam berbisnis itu sdeniri…

 

terima kasilh wasassalaa,m…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Juni 2011 in pancasila

 

Tag: , ,

Alit (nista) madya Utama adalah jawaban atas segala permasalahan upacara..

Permasalahan utama di jaman sekarang di Bali adalah dalam hal upacara , dimana terkadang secara materi, umat hindu merasa bahwa terkadang upacara menjadi sesuatu yang berat untuk dilakukan…Bahkan secara ekstrim itu dipakai sebagai alasan untuk meninggalkan Kehinduannya….hal itu sangat disayangkan karena pada dasarnya para leluhur dahulu telah menetapkan upacara itu bisa dilakukan sesuai dengan keuangan dari sang pelaksana upacara itu…

Tiga tingkatan itu adalah alit Madya Utama….Hal hal itu berhubungan dengan keiklasan dan ketepatan dari seorang umat untuk melkasankan yadnya nya..Karena pada dasarnya Tuhan menghendaki umatnya untuk iklas dalam melaksanakan yadnyanya sebagai umat…

Alit adalah kata lain dari nista (namun karena nista kurang bagus rasanya maka dibuatlah kata alit)..itu untuk orang yang memiliki keuangan aga menengah ke bawah…

madya adalah tengah tengah…

utama adalah besar ….

Analoginya adalah hal itu harus juga sesuai dengan apa2 yang benar-benar ada di masyarakat berdasarkan Tri hita karana palemahan pawongan dan parahyangan…orang yang kaya jika menggunakan upacara alit maka akan dipandang pelit dari masyarakat…dan orang alit menggunakan upacara utama sampai pinjem ke bank dengan alasan bahwa itu untuk prestise juga salah di mata orang-orang….

Keiklasan adalah hal penting dalam Yadnya…itu yang dipandang oleh Beliau sang Acintya dalam memandang amal baktinya kepada umat…

Untuk tentang bagaimana teknis dari upacara itu, maka peran seorang sulinggihlah yang bisa menjadi solusi dari pertanyaan umat itu….jangan sampai ada umat merasakan berat dalam melaksanakan yadnya…dan sulinggih haruslah kompeten karena Beliau adalah sulinggih….untuk tingkat keyakninan maka saya pernah baca di kitab tapi saya lupa apa sarasamuscaya atau manawa dharma sastra tapi intinya adalah…bahwa sulinggih harus mempertanggung jawabkan jawaban atas solusinya terhadap pertanyaan umat pada Tuhan Yang Kuasa…karena jika salah maka neraka adalah jawabannya….

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Juni 2011 in agama, filosofi

 

Tag: , , , ,

Catur Paramitha dan Catur Aiswarya sebagai penerapan Tat twam Asi..

Tat twam Asi seperti yang telah diketahui adalah suatu hal yang benar-benar filosofi yang mulia, dalam penerapannya pun mengandung suatu kebijaksanaan tinggi untuk mengakrabkan manusia yang satu dengan yang lain dan sebagai pula menerapkan prinsip pawongan pada suatu masyarakat atau bangsa….

Catur paramitha sebagai artian dari empat sifat yang mulia yang benar-benar menjadi petunjuk hidup yang hakiki….

CATUR PARAMITHA

Catur Paramitha adalah empat bentuk budi luhur, yaitu Maitri, Karuna, Mudita, dan Upeksa.

  1. Maitri artinya lemah lembut, yang merupakan bagian budi luhur untuk kebahagiaan segala makhluk.
  2. Karuna adalah belas kasihan atau kasih sayang, yang merupakan bagian dari budi luhur, yang menghendaki terhapusnya penderitaan segala makhluk.
  3. Mudita artinya sifat dan sikap menyenangkan orang lain.
  4. Upeksa artinya sifat dan sikap suka menghargai orang lain.

Catur Paramita ini adalah tuntunan susila yang membawa manusia ke arah kemuliaan.

CATUR AISWARYA

Catur Aiswarya adalah suatu ajaran kerohanian yang memberikan kebahagiaan hidup lahir bathin terhadap makhluk. Catur Aiswarya terdiri dari Dharma, Jnana, Wairagya, dan Aiswarya.

  1. Dharma adalah segala perbuatan yang selalu berdasarkan atas kebenaran.
  2. Jnana artinya pengetahuan atau kebijaksanaan lahir bathin yang berguna demi kehidupan seluruh umat manusia.
  3. Wairagya artinya tidak ingin terhadap kemegahan duniawi misalnya tidak berharap-harap menjadi pemimpin, jadi hartawan, gila hormat dan sebagainya.
  4. Aiswarya artinya kebahagiaan dan kesejahteraan yang didapat dengan cara (jalan) yang baik atau halal sesuai dengan hukum atau ketentuan agama serta hukum yang berlaku di dalam masyarakat dan negara.

dan jika diterapkan secara pasti dan kontinu, maka pada dsaarnya anda telah menjadi sesuatu yang bijak dan suci serta membuat damai dalam hidup…hal itu mengarahkan anda menuju kebahagiaan sejati dalam hidup…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Juni 2011 in agama, filosofi

 

Tag: , , ,

Agama mengajarkan manusia menjadi bijaksana daripada Fanatik…

Semua orang tau agama, dan banyak pula orang yang belajar agama sampai ia bsa menjadi sesuatu yang tahu tentang agamanya secara mendalam….Namun jangan dipungkiri , belajar agama itu mengandung kelicinan sendiri dalam hidup….

Sebenar-benarnya dalam mempelajari agama, manusia dihadapkan pada bagaimana ia hidup di hutan yang penuh binatang buas dan mencari jalan keluar hutan yang membuat ia bisa mencapai tujuan agama itu sendiri, yaitu kebebasan dan serta surga dan neraka….

Kelicinan dari pembelajaran agama adalah bagaimana kesombongan religius yang bisa membuat manusia yang mempelajari agama itu sendiri menjadi manusia yang fanatik dan melupakan apa-apa arti menghormati kebebasan orang lain…Dalam Islam disebutkan agamamu agamaku dan dalam Hindu disebutkan bahwa bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa….

Hal ini sangat penting disimak, dimana sebenarnya manusia akan lebih dianggap lebih baik untuk menjadi orang yang BIJAKSANA daripada mengubah dirinya menjadi orang yang FANATIK tentang agamanya…Manusia yang terhormat adalah manusia yang mampu menempatkan dirinya untuk bisa menjadi orang yang bijak dalam berpikir, bertindak, dan berbuat…kayika wacika manacika….Untuk itulah agama itu ada sebagai pengemban moral yang bisa buat kita-kita yang mempelajari agama secara mendalam menjadi orang yang Terhormat dan dapat menjadi seorang yang BIJAKSANA…..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Juni 2011 in agama, filosofi

 

Tag: , , , ,

Hindu bertemu dengan Islam dalam Tingkat Kesufian…

Sufi yaitu ilmu Islam tingkat tinggi adalah ilmu tentang jiwa , ilmu tentang cinta kepada Dzat ALlath, ilmu tentang bagaimana kesatuan dengan Yang Kuasa..Ilmu pasrah terhadap bagaimana ALlah itu menjadi sesuatu yang nikmat dalam menjalani kesehariannya…itu adalah hal yang sungguh nikmat dalam menapaki kehidupan mnusia dimana diri berserah sepenuhnya pada apa-apa yang menjadi hakikat dalam KemaHa kuasaan ALlah ta;ala….

Dalam hIndu atma atau jiwa sangat dipuja sebagai sinaran suci brahman dimana brahman menyatu bersama manusia di dalam kehidupannya sebagai sesuatu yang menyinari setiap insan-insan dalam sisi yang menjadikan ia bersatu dengan SAng Acintya dan pasrah terhadap apa-apa yang menjadikan Ia bermakna….”Tat twam asi”, menyatu bersama “Brahman Atman Aikyam”…untuk itu sufi adalah bagaiamna manusia menjadi suatu zat kuasa dan menyatu bersamanya…

 

OH sang Hyang Acintnya oh cahaya yang Tercerahkan…

Aku bergumul dalam setiap jeritan takdir-takdirmu yang mengangkasa bersama diri…

diri ini hanyalah Alat BagiMu sebagai bagaimana aku menjadi AbdiMu…

Oh Allah, aku menjadikan diriku sebagai pesuruhMu.sebagai sang Khalifah yang menjunjung tinggi budhiMu..

Menuju suatu kejayaan ABadi kjayaan CINTA terhadap segala hakikat-hakikat jiwa yang menyatu BersamaMu…

Oh Gusti ALlah gusti Acintya…Gusti Brhman…Aku memujaMu sepenuh Jiwaku dalam menapaki segala kenikmatan dunia yang benar-benar nikmat dalam segala ujian-ujianMu…

 

Basmallah Jaya DImahi…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Juni 2011 in agama, filosofi

 

Tag: , , , ,

Tingkatan tingkatan sufi dalam islam..

Mungkin untuk membagi pemikiran ideologi (madzhab) sufiyah ekstrim kepada tiga 3 kategori, yaitu: (1) kategori pertama: Pengikut sekolah isyroqi filosofi. Mereka adalah orang yang memberikan perhatian terbesar tehadap gagasan filosof melebihi dari yang lainnya bersamaan dengan sikap menjauhi kehidupan dunia. Yang dimaksud dengan Isyroqi (penerangan) adalah penerangan jiwa yang diterangi dengan cahaya, dan merupakan hasil dari latihan jiwa, pelatihan ruh dan menghukum badan untuk membersihkan dan menyucikan jiwa. Ini mungkin merupakan ciri semua orang sufi. Namun orang sufi kategori (pertama) ini berhenti pada batasan ini saja, dan tidak terjatuh pada pendapat yang menyatakan Alloh bersemayam didalam ciptaan-Nya (al-hulul), atau yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu adalah Alloh (wihdatul wujud). Namun jalan mereka ini bertentangan dengan ajaran Islam dan diambil dari agama-agama yang menyimpang seperti ajaran budha dan semisalnya.

 

(2) ideologi kedua adalah ideologi orang yang meyakini hulul, yang mengatakan bahwa Alloh bersemayam dan merupakan perwujudan ingkarnasi dari kejadian manusia, Maha tinggi Alloh dari yang mereka sifatkan. Seruan ini dinyatakan secara terang-terangan oleh Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj yang dicap kafir oleh ulama. Mereka para ulama memerintahkan untuk mengeksekusi dan menyalibnya pada tahun 309 H. Al-Hallaj berkata: “Maha suci Allah yang nasuut-Nya telah menampakkan rahasia cahaya laahuut (ilahiyah)-Nya, Kemudian Dia menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam wujud orang yang makan dan minum, Sehingga ciptaan-Nya bisa melihat-Nya secara jelas seperti pandangan mata dengan pandangan mata” (Ath Thawaasin hal. 129) Dia juga berkata: “Saya adalah seorang yang mencintai dan seseorang yang dicintai adalah aku, kami adalah dua jiwa yang mendiami pada badan tunggal. Maka ketika kamu melihatku, kamu melihat Dia, dan ketika kamu melihat Dia, kamu melihat kami berdua.” Al-Hallaj ini adalah penganut pemahaman hulul. Dia mempercayai tentang dualisme alam ketuhanan (ilahiyah), dan bahwa Ilah (tuhan) itu mempunyai alam ketuhanan (lahuut) dan alam manusia (nasuut). Ketuhanan bersemayam di dalam manusia, sehingga jiwa manusia adalah hakekat alam ketuhanan, sedang badannya adalah bentuk alam manusianya (nasuutnya). Meskipun dia dibunuh karena kezindiqannya (kemurtadan munafik) dan beberapa kalangan sufi menyatakan diri mereka terbebas dari dia, namun masih ada kalangan orang sufi yang menganggapnya sebagai seorang sufi, membenarkan keyakinannya, dan mengambil pendapatnya. Diantara mereka adalah Abdul-’Abbas bin ‘Ata Al-Baghdadiy, Muhammad bin Khafif Ash-Shirazi dan Ibrahim An-Nasrabadzi, sebagaimana dinukilkan Al-Khatib Al-Baghdadiy.

 

(3) ideologi ketiga adalah wihdatul wujud, yaitu bahwa semua wujud adalah hakekat tunggal, dan bahwa segala sesuatu yang kami lihat hanyalah sisi keberadaan Alloh. Pentolan yang menyatakan keyakinan ini adalah Ibnu ‘Arobi Al-Hatimi At-Thoi, yang dikubur di Damaskus, mati tahun 638 H. Dia sendiri mengatakan keyakinannya ini di Kitabnya Al-Futuhat Al-Makkiyyah: Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba Duhai siapa yang dibebani (ibadah)? Jika saya katakan saya adalah hamba itu betul. Dan jika saya katakan saya adalah Tuhan, maka bagaimana akan dibebani? Dia juga berkata di Al-Futuhat: “Orang-orang yang mengibadahi anak sapi, mereka ini tidak mengibadahi kecuali Alloh.” Ibn ‘Arabi ini disebut sebagai Al-‘Arif billaah (orang yang mempunyai ma’rifat tentang Alloh) oleh Orang-orang sufi. Dia juga disebut Al-Qutub Al-Akbar’ (poros terbesar), Al-Misk Al-Azhfar (Misik terharum), Al-Kibrit Al-Ahmar (belerang merah), padahal dia menyerukan wihdatul wujud dan perkataan celaka yang lain. Dia memuji Fir’aun dan menyatakan bahwa Fir’aun meninggal di atas keimanan! Dia juga mencela Nabi Harun yang mengingkari kaumnya ketika mereka menyembah patung anak sapi, yang ini jelas menyelisihi nas Al-Qur’an. Dia juga berpendapat hanya kaum nasrani (Kristen) saja yang kafir, karena mereka mengkhususkan uluhiyah (pengibahan) hanya kepada Nabi Isa, namun jika mereka menjadikannya umum (mengibadahi semua makhluk) mereka tidak kafir. Meskipun sangat jelas kesesatan Ibnu ‘Arobi dan pernyataan para ulama bahwa dia kafir, namun orang-orang sufi senantiasa mensucikannya. Ibnu ‘Arabi, tokoh sufi tadi, juga berkata : “Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah !” (Fushushul Hikam). Betapa kufurnya kata-kata ini …, tidakkah orang-orang sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini ?! Ibnu ‘Arabi juga berkata: “Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya, dan Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya.” (Al Futuhat Al Makkiyyah). Padahal Allah Ta’ala telah berfirman : “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat : 56). “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.” (Maryam: 93). Jalaluddin Ar Rumi, seorang tokoh sufi yang kondang berkata: “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zorodoaster, bagiku tempat ibadah sama … masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala. Padahal Allah Ta’ala berfirman : “Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran : 85)

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Juni 2011 in agama, filosofi

 

Tag: ,

Kesombongan Religi, dan Kesombongan Spiritualitas…

hal Inilah yang benar-benar sangat diharapkan sebagai suatu pembelajaran penting bagi saya pribadi atau sebagai manusia yang masih perlu banyak belajar…Salah satu musuh manusia adalah kesombongan religi dan kesombongan spiritualitas akan membuat anda seperti sesuatu yang benar-benar jatuh dari puncak tertinggi kehidupan…

Sebenar-benarnya Tuhan adalah Sang Acintya, yaitu suatu yang merupakan tiada terpikirkan…sangat licin jalan kita ini untuk menuju Beliau..Hal itu jangan sampai membuat kita menjadi orang yang sombong dalam bidang spirit atau religi…agama adalah candu, agama adalah racun jika tidak dipergunakan dengan benar…apa-apa yang terjadi sekarang adalah kesombngan itu merasa sudah tahu semua merasa sudah sadar semua tentang Tuhan membuat anda lupa daratan dan menganggap diri paling hebat..itu adalah jalan licin agama dalam menilai apa-apa yang telah menjadi suatu landasan dalam kehidupan….

Tahu bukan anda harus mengatakan semua, yang diperlukan adalah sikap bijaksana dalam menjadi seseorang yang mau menjadi abdi Tuhan yang mumpuni…kesombongan adalah dosa manusia yang paling dekat dengan diri anda dan dengan iblis pula…jadi mudah2an kita sebagai manusia pencari Tuhan terhindar dari segala kelicinan jalan kesombongan itu tetapi jangan pula membuat anda takut untuk mencari siapa Tuhan anda serta membijaksanai diri anda sendiri…..

 

om santi santi santi om…

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 8 Juni 2011 in agama, filosofi

 

Tag: ,

 
%d blogger menyukai ini: