RSS

Arsip Bulanan: November 2012

Neti-neti..bahwa Definisi-Nya tidak dapat dibingkai

Tuhan…Tuhan yang memiliki semesta serta merupakan poros perputaran Sthiti, Utpetti, dan Pralina adalah yang segalanya.Artinya adalah Ia saking besar serta maha luasnya, tidak dapat terbingkai oleh satu definisi mutlak akan diriNya. Dan bahwa Ia yang penguasa, tidak dapat dibingkai oleh sederet kata-kata yang pas.

Neti-Neti, bahwa Brahman, Sang Hyang Widhi wasa dikatakan bukan ini bukan itu, artinya adalah saat suatu penggambaran atau definisi melibatkan IA,maka Ia adalah bukan yang didefinisikan,dan Ia juga bukan yang tidak didefinisikan. Seperti seorang    yang mencari “pikiran” secara material dan berbentuk. Jelaslah mustahil memperlihatkan atau memandang pikiran sebagai benda. Merupakan sebuah metafisis atau abstrak. Saat kita berpikir, dan mungkin materi pikiran akan dapat diduga dan diberi “nilai” saat dilisankan atau dituliskan atau didiskusikan. Namun bentuk yang ada masih abstrak yang tidak bisa dinilai secara sangat tepat.

Seperti itu pikiran, seperti itu lebihNya yang kuasa, dimana tidak bisa dilingkupi suatu yang disebut penyebutan. Sehingga Acintya (tak terpikirkan) menjadi suatu yang pasti dan dibatasi oleh Neti-neti. Tuhan apakah berada di sebuah batu?Lalu dengan itu kita definiskan keberhalaan??maka “nilai” sebuah batu menjadi lenyap. Karena kembali bukan batu. Namun apakah Ia berada di atas di langit ke tujuh? Maka bisa saja, namun neti neti, IA kembali dikatakan dekat sedekat urat lehermu.

Sebagai sebuah kekuatan Nirguna, tidak memiliki suatu sifat tertentu, maka saat kesifatan dileburkan ke Ia, menjadi Ia Saguna Brahman, yang sesuai dengan keinginan PenyembahNya yang memang merindukan dan mencintaiNya sebagai pengabdi. Sifat Sarwagatah ada dimana-mana. Jika terungkapkan Ia, maka “penilaian” akan Ia kembali lenyap, dan transenden ke Kuasa diriNya. Ia Paraatman, tempat kembalinya atman-atman. Ia tidak berhak diberikan “nilai”, karena kemutlakannya itu lebur bersama Ia yang Ia mau, namun tetap Ia adalah Ia brahman yang Agung yang tetap suci dan tetap (sanatana) dan Nitya(abadi).

Dan bagaimana dengan falsafah Aham Braman Asmi, atau pula moksartham jagadihta,serta mungkin manunggaling Kawulo Gusti? Dimana menyatakan aku adalah tuhan (brahman), serta persatuan antara Kawula(abdi) dengan Gusti (para atman). Ekstasi itu yang terjadi, seperti pada saat melakukan semadhi atau tapa brata, adalah pengalaman paling pribadi,pengalaman yang memiliki makna tersendiri dan subjektif, yang tidak bisa disamaratakan kepada setiap subjek atau kepala. Jadi kenikmatan yang tiada terkatakan, dan membuat kebahagiaan (ananda) tertinggi tercapai. Kegilaan pada suatu kekuatan agung, namun kesubjektifannya atau pengalaman (prtyaksa pramana) itu menjadikan itu tidak berlaku secara universal, mengingat bahwa Ia pun tidak dapat digambarkan sama oleh hati seseorang. Tetapi tetap Ialah Ia, yang menaungi jagat raya Sang Paraatman.

Lalu maka Ia yang agung memberikan dasar-dasar tertentu untuk dipahami lewat jalan Dharma, jalan kebenaran hakiki dan jalan yang Agung. Dengan pengetahuan akan dharma, maka jalan yang terbuka dan bahagia akan terbentang dalam menapaki kebenaranNya yang hakiki. Etika dan susila adalah jalan yang patut dilalui dan seiringnya memberi pemahaman dunia akan keagungan dharma.Seperti pada : Sarasamuscaya 18 dharmah sada hitah pumsam dharmascaicasrayah satam, dharmallokastrayastata pravttah sacaracarah,  Dan keutamaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan bagi yang melaksanakannya, lagi pula dharma itu merupakan perlindungan orang yang berilmu; tegasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa triloka atau jagad tiga itu.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 November 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Orang Beragama adalah orang Gila (Freud)

Memang benarkah seperti itu? atau apakah berbeda dengan apa-apa yang terjadi di kenyataan?

Yaps benarlah bahwa memang orang beragama dikatakan sebagai orang yang neurosis seperti yang dikatakan oleh sigmund freud ahli psikologis penemu psikoanalais. Ada beberapa dasar mengapa orang beragama dikatakan sebagai seorang neurosis :

1. Bahwa orang beragama dikatakan memiliki sifat kekanakan yang berhubungan dengan hubungan ayah(bapa) dan anak. Dimaksudkan bahwa Tuhan sebagai suatu faktor yang berkuasa, dan memiliki pengetahuan Maha Tahu akan menjadi seseorang yang melindungi dan memberi kekuatan perlindungan atas ketakutan dan  ketidakberdayaan anak dengan kasih sayang dan menentramkan. Maka itulah yang menciptakan suasana nyaman (surga) dari anak(manusia) itu. Maka sikap tentram itu menjadikan halusinasi surga akan pemahaman tuhan sebagai anak.

2.Menurutnya satu-satunya cara untuk meninggalkan kekanak-kanakan bahwa dengan memahami dan mempelajari sains dan teknologi.

3. Agama adalah tempat untuk berlindung dari jaman, apakah ia manyatakan bahwa beragama seperti”katak dalam tempurung”?.

4.Dan ia juga menyatakan bahwa orang-orang kekanakan akan pergi mengadu kepada Bapa (Tuhan), jika terkena berbagai kesulitan-kesulitan yang ada di dunia. Seperti anak kecil yang mengadu kepada ayahnya sebagai mental defense.

 

 

 

 

 

Yaps seperti itulah, bahkan penelitian anehnya membuktikan bahwa nyatanya orang yang berpengetahuan lebih, tidak mementingkan keagamaan itu sendiri. Hal ini dapat disimpulkan bahwa hanya orang bodoh yang perlu agama…hmmmmm…

Jika dalam hindu sendiri, maka pengetahuan itu lahir dan diberikan sendiri yaitu,hari raya saraswati. Dan Ganesha sebagai suatu simbol pengetahuan, sangat jelas terpampang di banyak institusi pendidikan.

Sebenarnya dalam berbagai kehidupan yang diceritakan oleh kitab suci adalah semakin terbelenggu dengan keduniawian, maka semakin jauh pula dari kelepasan (Moksa). Atau bahkan mungkin persatuan dengan ilahi manunggaling kawulo gusti, aham brahman asmi. Hal itu terkadang seperti sebuah ekstasi yang benar-benar membuat lupa diri atau tidak menapak dunia dan terbang tinggi. Ini mungkin resiko yang perlu diwaspadai bagi mereka yang telah masuk dalam lingkaran semesta yang juga memabukkan. Namun untungnya dalam Hindu, ada berbagai pakem-pakem keseimbangan yang disarankan dijalankan. Yaitu Tri hita karana (palemahan, pawongan, parahyangan), dan pula catur asrama (brahmacari,grehasta,wanaprasta,sanyasin).Di mana dalam wilayah grehasta yg terpenting adalah melaksankan kewajiban keluarga, dan nantinya jika sudah pantas melepas duniawi,maka masuk ke tahap selanjutnya.

Untuk bahasan pengetahuan, maka ada Catur marga, dan kecocokan jalan itu dekat dengan jnana marga.Sbagai wilayah yg mmbahas jalan pengetahuan tentang dharma yang membebaskan.

Dari keyakinan serta pengetahuan akan jaman-jaman yang ada,maka jaman ini termasuk jaman Kaliyuga. Jaman dimana yang berpegang teguh pada dharma hanya tersisa 25 persen. Yang lainnya adalah wilayah adharma yang terbelenggu sad ripu, sad atatayi, atau tidak berpegang pada satya dan sbagainya.Jadi dapat dikatakan adalah ketidakwarasan manusia lebih banyak. Tapi saya belum dapat mengecek berapa jumlah pasien psikiater, atau malah mereka merasa waras.

Kegilaan itu sebenarnya tidak terlepas dari slogan tiga gila, yaitu gila kekuasaan, gila harta, dan gila wanita. Bahkan itu secara tidak sadar dimiliki oleh mereka. Ketidak sadaran pada belenggu-belenggu duniawi dan material serta kemoralitasan yang berlaku umum. Ini menciptakan ketidakberadaban, dan mungkin pula energi-energi negatif yang terkumpul,akan menghasilkan bola energi penghancuran dunia,seperti yang dipahami energi menuju semesta sesuai dengan pola energi kebanyakan manusia di dunia. Apakah itu menciptakan pralaya???Ah.berpikir terlalu abstrak,pepohonan saja semakin berkurang, dengan banyaknya perang-perang yang ada sudah cukup memberi bukti nyata. Dan anehnya adalah karena dendam-dendam masa lalu yang meng-ego dan mengeras menjadi batu, entah perebutan wilayah atau bahkan perang urat syaraf Agama,SUku dan Ras, benar membawa ke jaman yang kurang berkenan dan penuh biadab. Yah sejarah terkadang membekas sangat dalam, namun pula ayat-ayat ketetapan yang teryakini dari sumber suci agama, kiranya perlu dipertimbangkan tentang penafsirannya.

Dalam masa ini,ilmu diharapkan memberi suatu kemanfaatan tersendiri dan mengandung nilai norma serta moralitas, srehingga kegunaan ilmu memang betul-betul menyentuh dan memperbaiki dunia itu sendiri. Aksiologi dari pemahaman dalam  ilsafat ilmu itu tentunya memberi harapan akan sisi kemanusiaan ilmu itu sendiri.

Kembali pada kata gila, maka Sri Khrisna pernah bersabda,ketika ditanya mengapa kau seperti orang gila atas segala yang kau katakan? Maka Sri Khrisna berkata ” Kalian Aku Mereka semuanya adalah orang gila, Tapi bedanya kalian gila kekuasaan, dan Mereka gila Harta dan gila wanita,Dan aku juga Gila,tetapi gila kepada Tuhan.”

dari berbagai sumber..

gwar 18-11-2012..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 November 2012 in agama, budaya, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Pasang Badan untuk Kebenaran..

Berteriak lantang, bahwa…

Aku membawa kebenaran…

Berteriak sorak-sorai membekap jemari..

Menerawang tinggi akan bejatnya sang lawan..

———————————————-

Berteriak suara-suara berang…

Akulah yang mengebiri mereka…

Mereka yang tersesat pada pikiran mereka…

Mereka yang tidak tahu akan apa…

Tidak tahu “apa”..camkan itu…

————————————————

Dan tetap berteriak lantang akan kebenaran…

Pasang Badan Ia pun melawan pada kebenaran lainnya…

Badan lain pun apakah memaksakan??…

Lalu tertumpahkah??..

Darah,dan cucuran air mata??..

Lalu api kah menjadi jalan menuju laut diiringi tanah dengan “ruang” menuju itu?….

Dan sembari kembali menerawang…

Apakah benar itu??.

————————————————–

Dan salahkah jika berkesimpulan…

“Kebenaran” pasti Beradab..

hhhmmmm…

 

salam gwar 5 nop 2012..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 November 2012 in doa, filosofi

 

Tag: , , , , ,

Ketika Tuhan ditawan…

Sembari barisan-barisan ayat dan makna yang berkumandang…

Sembari pula terhunuskan pedang yang (disangka) keadilan..

Sembari sebuah kata-kata sakti yang terngiangkan..

Sembari sujud kekerasan hadir di dalam pemusnahan…

———————————————————————————

Dan pada akhirnya, kenerakaan pun menyata pada setiap peraihan..

Yang dikendalikan nafsu amarah keraksasaan dan kedangkalan…

Maka pada suatu kehadirat Bhatara Hyang Guru…

Mendapatkan titah yang nyata, bahwa…Tuhan mereka ditawan…

—————————————————————————————–

Ah ..tuhan ditawan??apa kah itu??

Sehingga barisan-barisan kata puja mereka..menjadi hambar…

Sehingga ketika barisan-barisan makna Syurga..menjadi Basi…

Sehingga ketika hanya kunci ini dalam taubatan, tiada bisa terhembuskan…

Maka kunci ada pada suatu takdir dan kilatan tanpa makna…

—————————————————————————————–

Ketika Tuhan telah ditawan….Oh dimana lagi, penghadapan ilahiah…

termakna terangkum pada syahdu tangis-tangis membahana…

Tangis yang telah telat pada dedemit penguasa laut selatan..

Yang buat mereka menerobos kehancuran bagi mereka….

——————————————————————————–

Ah ..dimana Tuhan di tawan??

Pada pembenaran yang menuju kenerakaan abadi….

Pada perbuatan yang jauh dari kehirarkian manusia sebagai “diri” kesempurnaan…

Pada kemaha-dukaan ke maha-sengsaraan yang mereka berikan pada dunia…

Dan dimana Ia ditahan??pada kami mereka ia semua, yang terjungkal perih…

———————————————————————-

Kemana tuhan ditahan??

Tuhan tidak ditahan, hanya nanti bertemu di keabadiaan..

.salam gwar..no 4 2012,,

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 November 2012 in doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: