RSS

Arsip Bulanan: Mei 2017

Pashupati (mematikan sifati hewan)  dalam Konsep Panca Maya Kosha

Om hyang parama kawi sinampura, ledang Ida hyang jnana saraswati,  nenten purun antuk kawikanan kawisesan Ida sang Maha Shakta.. Tinemu bagya shanti, sirna papa rogha lara lan salah pati.. Om.. 

Pashupati,  mengenai konsep yg dijelaskan pada divinitasNya,  maka sbagai bagian bahasa sanskrit adalah pashu dikatakan dimaknai sebagai kata hewan. Dan pati adalah bahasa yg dapat diartikan sebagai mati sirna lebur.. 

Maka dapat dikatakan bahwa pashupati adalah bagian untuk menyomia meleburkan sifat kehewanan yg ada pada maya rajasik tamasik dan membentuk sisi jaya sbagai manusia yg beridep itu sendiri.. 

Dalam hal lain pashupati adalah sbuah konsep dimana manusia (atau sesuatu anima) memiliki sifati maya triguna yg sejatinya adalah bagian yg terlepas sehrusnya dari sang purusha jihwa.. Purusha yg mrupakan bagian kesadaran akan Atman yg slalu aikyam dgn brhman,dan juga kesadaran tentang antahkarana sarira dan jalan ananda wibhuti.. Pencerahan.. 

Mengenai PancaMaya Kosa maka dikatakan bahwa manusia terdiri dari lima unsur,  anna prana mano vijnana dan ananda maya kosa.. Maka berturut adalah badan stula sarira fisik anna maya kosa, badan mental prana maya kosa,  badan pikiran keputusan manomaya kosa,  dan badan vijnana maya kosa badan kebijaksanaan.. Dalam hal ini makanan serta duniawi adalah anna maya kosa, etheris atau badan mental adalah prana maya kosa yg diisikan asupan makanan berupa tapa mantra serta kekuatan untuk menyelsaikan menyesuaikan diri jiwhatman dgn alam prakerti,  kmudian ada mano maya kosa yg diasupi makanan penyerahan iklas kepada Nya untuk menjaga kesucian bermanacika,  serta masuk vijnana maya kosa yg diasupi makanan jnana sidhi itu sendiri.. Yg trhubung dgn atman sbagai kesadaran mutlak tntang kebahagiaan kekal.. 

Tubuh hewan yg tak brisikan idep atau sbuah kebijaksanaan,  hanya trdiri dari anna prana mano maya kosa tanpa vijnana,  krna vijnana adalah ttg jnanaNya yg hanya bisa dibrikan sedikit pngthuan dri sang jnana saraswati ghanapatya brhmika itu sndiri kepada manusia,  maka manusialah yg menjadi penentu semesta.. Semua berada pada kehendak dari mahluk yg bernama manusia,  dan juga manusia saja yg mampu membentuk dunia seperti maunya,  yaitu sebagai replika surga atau malah neraka loka.. 

Dalam semesta terdapat semuanya Maya, sebagai panca maha butha,  baik itu dalam anima dinamisme pada wujud arca dan sebagainya,  tentunya adalah itu mnjdi bagian semesta yg tidak terdapat sesuatu yg “hidup”…Masih menjadi maujud tamasik..lembam diam tanpa makna,  atau jga rajasik yg digunakan sbagai hal2 yg profan,  tanpa sakralitas.. maka dari itu sifati itu akan di”pati”kan mnjdi sattwika yg sakral dan “hidup”..

Manusia adalah mahluk yg memiliki jnana inelektualitas citta buddhi yg dapat membuat manas pikiran terfokus untuk menyirnakan profanitas dri sesuatu itu.. Dalam hal ini dgn tujuan sattwika, maka sesuatu itu mnjdi sakral,  yg nantinya akan terjadi sbuah tugas tanggung jawab antara keduaNya kpada dewata ..Bertaksu dan menjdi keindahan yg sakral dan “pingit”..Rasa si pemasupathi akan berada di itu dmana vijnana maya kosa membuat sang rajas tamas mnjdi sattwika guna.. 

Untuk menjalani ini,  maka suatu pemaknaan atas kebercerahan sang pemasuphati sbagai abdiNya adalah memahami bahwa diriNya adalah manusia yg memiliki panca maya kosa yg berbeda.. Idep yg hadir dalam jnana vjnana maya kosa yg terbedakan dri mahluk lain,  yg hanya terdiri dari mano prana anna dan urip.. Dan dgn ini bhakta itu memiliki juga koneksi atas semesta dan tentunya pada jnana sidhi memerlukan proses yg panjang..Dan krna IA seorang yg telah mematikan pashu dalam diriNya berwisesa segara teja wayu akasa sujud hring pratiwi.. Nuju dharma laksana shantii rahayuu.. 

Om pasupatya puja ya namaha,  metu Iya saking pratiwi panca maha butha,  tinedun hring buddhi citta.. Sang dang hyang jagat parama wisesa sidhi,  ngamolihang katakson hring bhuana,  sarwa prani hitankarah.. Om
Gwar.. Mei akhir 2017

 
 

Sekilas Sembah-Hyang dan Pemanfaatan “surudan”..

Om jagathanatha swaha pujanatha.. Om ksma sahampurnah sahadja lokhanatha.. Om hyang saraswathanatha jnana japam.. Om jana lokhanatana soham.. 

Bersembah hyang,  makna yg secara sakral berarti menghubungkan batiniah dgn ilahiah dengan berbagai CitraNya,  sebagai hyang mahanatha sunyam, yg akan menyeluruh utuh sebagai samastha secara sekala dan juga niskala-natha.. 

Dalam konsep hindu hal tersebut merupakan kelekatan akan tri kona dan juga tri maya guna.. tri kona yaitu upeti sthtii pralina,  ang ung mang namah penciptaan pemeliharaan (proses)  dan peleburan… 

Dalam memaknai kata sembah-hyang adalah pada konsep bebantenan,  maka sejatinya adlah saat membuat banten,  nues nyait metanding,  itu sudah dalam bntuk sembah-hyang,  krna jnana sidhi ada disitu,  trmasuk jga pncarian pemikiran bahan2Nya.. 

Lalu pada saat menghaturkan ngantebang, maka proses itulah sedang dimulai yg artinya sembah-hyang dengan gerak berjalan naik tangga dan sebagaiNya,  yg akhirnya dihaturkan dgn dupa sbagai agnii upasaksi kpada mayaguna dewathanatha,  ini adalah proses pasupatya sesiapa itu dipersembahkan sbagaimana adaNya.. 

Dan itu bermakna sekali saat persembahan itu dilaksanakan,  kmudiab selanjutNya adalah nyurud dewa hyang merthaning jihwa.. Konsep pengelolaan iu yg penting sbagai nglungsur merta yg ada,  krna semua adalah merthanathaNya sahaja… 

Contoh:

Bunga2 surudan yg ada bisa dibakar dgn itu maka abunya bisa direkatkan di bntuk serta dibri wewangian mnjadi pengasapan,  mertha ning laksmi sedana ada disana jua.. Bekas 2 dupa katik2nya dapat dipryascita (krna sang citta adalah suci adaNya)  dan pada akhirnya bisa dipakai semat…

Lalu yg lain yg telah dilungsur maka ada sisa basi yg tidak sanggup disantap manusia bisa diberikan babi, dan babi menjadi mertha saat disemblih.. Dan jika punya kebun bunga,  hal itu bisa menjadi penyubur ketika ditanam sbagaimana adaNya.. Krna ibu bumi tak mngenal adaNya sampah.. Itu laksmini natha yg bergerak.. 

https://linggahindusblog.wordpress.com/2015/03/24/maya-yg-memasuki-di-sapta-serta-tri-dosha/
Dan bgitulah konsep sattwika guna pafa persembah-hyangan dalam pebantenan.. 

 
 

Korelasi sapta patala maha bali, susila hindu, Sapta loka dan Trisula Wedha.. Juga Awataram.. 

Korelasi sapta patala maha bali, susila hindu, Sapta loka dan Trisula Wedha.. Juga Awataram.. 

Om jagatham natha laksanam buddhi dharma charita.. Syahajanaka kawula tinunggal gusti mahajnanatantranika..Kashadram Kalkayi mahadevam tat sat Ang Ung Mang Namaha.. Pujam puji sang sadhu bhatani brahmina khalikamaya.. Om

Sapta patala adalah ibarat neraka loka dalam khasanah kehinduan itu sendiri, di mana tempat itu dihuni oleh para Ashurya yg siap menghukum para pelaknat Nya itu sendiri. Dalam hal ini berbeda pula ketika berbicara pada makna sapta loka. Dikatakan bahwa sapta loka adalah tujuh lapisan dari semesta sebagai cerminan ekspresi refleksi surga itu sendiri..

Berbicara tentang sapta patala,  maka tidak lepas dari wiracharita awatara2 Wisnu yg brhubungan dengan Maha Bali itu sendiri sbagai pnguasa sapta patala. Dikatakan Wisnu waisnawa devam menjelma sebagai wamana awataram untuk menguji Sang Maha Bali raja Asyurha,  yg mrupakan cucu Prahlada..Prhlada sendiri adalah seorang pemuja Waisnawa wisnu dewam dimana Ia hadir pada saar Narasingha Awataram muncul yg hendak dibunuh oleh ayaNya Hiaranyakasipu yg mndapat berkat Dewa Brahma.. Namun dpat dihncurkan oleh Hyang Waisnawa Narashimha Jayantam akibat kelalaian mnggunakan Kesaktiannya..

Cucu Prahlada sendiri adalah Raja MahaBali ashyura hyang Agung,  sangat perkasa dan adil,  dengan penasehat spiritualnya adalah SukraYacarya..Suatu waktu maka Sang Maha bali akan memberikan suatu hadiah kepada Para Brahmana,  dan saat itu wisnu ingin mengetesnya dalam hal mnyangkut sapta timiramNya guna dhana sura kasuran Nya.. Kesombongan mgkin mengada, namun Maha Bali akan siap dalam ujian Nya.. Maka Waisnawa mncul sebagai wamana Awataram datang dgn maujud pendeta cebol,  yg datang saat pembrian hadiah.. Kemudian bgitu mudahNya MahaBali mmbrikan hadiah kepada para pandita,  namun ktika Wamana Awataranikam hadir,  dan pada akhrinya dipertanyakan oleh Maha Bali tntang apa2 yg akan diminta,  tanah materi ternak makanan atau apa saja,  ktika Ia Maha Bali mampu mbrikanNya maka akan diberikan..

Pendeta Sukra-acaryam sbtulnya curiga ttg gerak gerik pandita itu,  kmudian menasehati agar waspada.. Maha bali. Pun bertnya ttg apa yg Ia Minta.. Lalu Sang Wamana Pandita mngtakan,  aku hanya meminta tiga tanah tiga langkah untuk mndapatkan tanah milikKu.. Sedikit tertawa kemudian Maha Bali sedia bersabda.. Baiklah pandita,  maaf sedikit menjumawakan diri Hamba, Hamba persilakan Brahmin yang Agung..

Kemudian sang Awataranikawamana melangkahkan kakiNya.. Satu langkah semesta Ia langkahi dgn alam bhur bwah swaha,  kmudian pratiwi bumi Ia dapati dan yg terakhir satu kaki lagi tak mampu Ia dapatkan jejak,  karena semua telah habis.. Karena takjub Sang Hyang Syhura MahaBali, maka diberikanlah kepalaNya untuk diinjak oleh Sang Brahmin awataranika,  hancur ktika lgi satu langkah itu Ia tak dapati.. Maka Wicaksana betul Sang Mahabali sbagai juga cucu Prhlada sang Pemuja Waisnawa KakekNya dahulu saat bertemu Narasimha..

Maka dihadiahkan lah oleh Sang Brahmin sapta patala lokha yg mengapresiasikan kewilayahan neraka loka itu sendiri pada Sang Maha Bali bserta keturunanNya.. (bandingkan kisah Brhmana Keling Dang Hyang Astapaka-topeng sidakarya)..

Sapta patala sendiri adalah tempat yg dibawahi dibagi mnjdi tujuh bagian,  yaitu :(sumber hindulukta blogspot)

1.  Atala.

Dimensi alam atala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri. Artinya dalam satu dimensi yang sama disana ada banyak alam. Dimensi alam atala ini adalah “tetangga” kita paling dekat. Penghuninya adalah para wong samar. Mereka secara fisik cukup mirip dengan manusia, dengan beberapa perbedaan, seperti salah satu misalnya tidak adanya cekukan di bawah hidung diatas mulut. Ada juga penghuninya yang berupa mahluk yang sama seperti manusia. Pada beberapa dunia disini, lingkungan mereka juga hampir mirip dengan kita, seperti ada perkampungan [desa, pemukiman], tempat-tempat suci, dsb-nya.

Hanya suasananya cenderung remang-remang, seperti sore hari menjelang malam atau pada saat mendung tebal. Pada dasarnya mereka bukan mahluk mahluk yang jahat, hanya saja tingkat tingkat kesadaran dan kebijaksanaannya lebih rendah dari manusia pada umumnya. Akan tetapi wong samar ini juga ada yang mengenal ajaran dharma, sehingga mereka tetap berusaha berkarma baik

untuk bisa keluar dari alam ini. Mereka yang masuk alam ini biasanya disaat kematian, karma buruknya lebih dominan dibandingkan dengan karma baiknya dan pikiran buruknya lebih dominan dibandingkan dengan pikiran luhurnya. Sehingga saat kematian tiba dia akan gagal menemukan jalan terang.

Sumber kesengsaraan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan rasa bersalah, rasa tersinggung [marah], rasa tidak terima, rasa sakit fisik, dsb-nya. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan kasih sayang dan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan.

Tmbahan…

Kesadaran rendah akan Budhi dharma akan masuk pada wilayah2 ini. Dharma masih ada namun itu belum cukup.. Semoga yadnya akan membawa mereka lepas dari “asuhan bumi” ini..

2. Sapta Petala dimensi kedua : Witala.

Alam witala ini memiliki banyak sekali dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama. Penghuni dimensi alam witala ini sangat beragam, yaitu berbagai macam mahluk-mahluk yang wujudnya ganjil dan aneh-aneh, seperti wujud dengan badan rusak atau tidak lengkap, kepala berkaki tanpa tubuh dan tangan, berwujud bola dengan lidah-lidah api, wujud yang menjijikkan, berwujud bola mata merah menyala, dsb-nya. Mereka yang masuk alam ini biasanya yang disaat kematian ada

memendam banyak kekecewaan, dendam atau sakit hati, selain juga tidak punya tabungan karma baik yang mencukupi. Juga mereka yang mati mendadak dalam kondisi sengsara atau salah pati seperti misalnya karena : kecelakaan, dibunuh, dsb-nya. Tanpa punya akumulasi karma baik yang mencukupi. Sehingga saat kematian tiba dia akan gagal menemukan jalan terang.

Termasuk mereka yang mati bunuh diri juga akan cenderung masuk alam ini. Pada dasarnya mereka bukan mahluk-mahluk yang jahat, hanya saja tingkat tingkat kesadaran dan kebijaksanaannya lebih rendah dari manusia pada umumnya, sehingga pikiran mereka penuh kekalutan. Selain itu, proyeksi energi negatif dan kondisi berat alam witala ini juga ikut mendorong mereka seperti itu. Sumber utama kesengsaraan di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan berbagai kekecewaan, ketidakpuasan dan keinginan-keinginan pikiran yang tidak terpenuhi. Juga berbagai dendam dan sakit hati yang menurut mereka harus dilampiaskan. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan cinta yang didambakan, keinginan yang terpenuhi, kemarahan

yang terlampiaskan, dsb-nya.

Tambahan: kekecewaan dalam ketidakiklasan menerima takdir sbagai manusia dpat mnumpulkan budhi.. Tentunya ini memngaruhi idep yg smakin jauh dri wicaksana manacikam..

Cek juga.. Ttg samsara menuju dwi eka pramana

https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/05/04/logika-tentang-reinkarnasi-atas-dwi-dan-eka-pramana/


3. Sapta Petala dimensi ketiga : Sutala.

Penghuni alam ini adalah para preta, mahluk berwujud manusia kurus, berwajah pucat dan suara melengking atau suara histeris. Ada juga mahluk yang wujudnya manusia kumal, dengan rambut kusut kotor. Selain itu ada juga mahluk-mahluk mirip seperti manusia di alam ini yang terus mengejar hasrat-hasrat duniawi palsu, tapi semuanya akan berujung kepada siksaan dan kesengsaraan. Kejadian ini, yaitu mengejar hasrat-hasrat duniawi palsu yang kemudian berujung kepada siksaan dan kesengsaraan, akan terus terjadi berulang-ulang dan berulang kembali di alam ini.

Alam sutala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama. Dinamika alam, pengalaman dan wujud para penghuninya juga ada beberapa perbedaan satu sama lain.

Mereka yang masuk alam ini biasanya yang dimasa kehidupan gemar sekali mengumbar hawa nafsu indriya [hedonis] dan serakah mengejar berbagai macam kenikmatan dan kepuasan-kepuasan lainnya. Selain juga tidak punya akumulasi karma baik yang mencukupi. Pada dasarnya mereka bukan mahluk-mahluk yang jahat, hanya saja tingkat kesadaran dan kebijaksanaannya lebih rendah dari manusia pada umumnya, sehingga mereka tidak mampu mengendalikan dirinya.

Dan proyeksi energi negatif dan kondisi berat alam sutala ini juga mempengaruhi dan membuat mereka seperti itu. Sumber kesengsaraan di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan berbagai keinginan-keinginan badan dan pikiran yang tidak terpenuhi, seperti nafsu seks yang dilampiaskan sepuas-puasnya sampai maksimal, makan enak yang dilampiaskan sepuas-puasnya sampai maksimal, dsb-nya. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan

[kenangan] akan keinginan-keinginan badan dan pikiran yang tidak pernahn terpuaskan.

Tambahan :

Artha tanpa dharma akan mnuju pada hedonisitias carwaka darshanam.. Biasanya mereka terjebak pada gelapnya dhana timiram lan guna timiram.. Dan akhirnya lobha matsaryam merasuki kehidupan mereka..

Cek juga..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2015/04/02/sapta-timira-tujuh-kegelapan-yang-berdasarkan-sarasamuscaya/

4. Sapta Petala dimensi ke-empat : Talatala.

Penghuni alam ini adalah para mahluk yang mudah berubah menjadi beragam wujud. Sering disebut para siluman. Dari wujud yang sangat buruk sampai wujud yang sangat indah. Kadang wujudnya seperti manusia, kadang wujudnya binatang, kadang wujudnya naga, kadang wujud lainnya. Kalau mereka hadir di dimensi halus alam marcapada [alam manusia]biasanya hadir dalam wujud binatang seperti ular, harimau, dsb-nya.

Alam talatala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama. Suasana alam dan wujud para penghuninya juga ada beberapa perbedaan satu sama lain. Mereka yang masuk alam ini biasanya semasih hidup punya akumulasi karma buruk yang bertumpuk-tumpuk. Yang punya ego dan sifat manipulatif yang kuat serta banyak melakukan kesalahan-kesalahan berbahaya bagi banyak orang.

Mungkin pernah dalam masa kehidupannya dia baik secara fisik maupun melalui perkataan dan pikiran [hinaan, fitnah, penipuan, manipulasi, ajaran spiritual palsu, hasutan, dsb-nya], menyebabkan seseorang atau sekelompok orang mengalami kesengsaraan atau kebingungan panjang dan mendalam. Misalnya saja [hanya contoh] : meracuni makanan atau obat-obatan [formalin, methanol, zat berbahaya, obat dengan dosis tidak sehat], memproduksi narkoba, melakukan korupsi dengan dampak besar, melakukan penipuan besar kepada sekelompok orang, mengeksploitasi tenaga kerja, berpura-pura menjadi guru spiritual padahal ajarannya tidak benar [misalnya ajarannya membuat orang menjadi fanatik, menjadi bertengkar, konsep ajaran yang rawan konflik] padahal tujuan sesungguhnya hanya untuk kepentingan pribadi, memuaskan ego dan keserakahan religiusnya, dsb-nya.

Sumber kesengsaraan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan berbagai pemuasan ego yang tidak terpenuhi. Serta proyeksi energi negatif dan kondisi berat alam ini yang semakin menekan. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan berbagai pemuasan ego yang terpenuhi.

Tambahan : ibarat mereka yg kehilangan BudhiNya rasaNya dan hanya bergerak brdasarkan sabda bayu tanpa idep.. Dalam bahwasanya hidup berdasarkan rajas tamasika guna tanpa satwika guna..

Krna jerat Maya ..

Cek..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2009/07/08/surga-dan-neraka-dalam-karma-serta-reinkarnasi/

5. Sapta Petala dimensi kelima : Mahatala.

Penghuni alam ini adalah para rakshasa, makhluk bertubuh tinggi-besar, berkulit hitam, berwajah sangar dan seram. Ini adalah lapisan alam gelap yang menjadi habitat bagi jiwa-jiwa yang hanya sedikit saja punya rasa welas asih dan dominan punya bathin gelap seperti : iri hati, kemarahan, ketidakpuasan, dendam dan kebencian.

Alam mahatala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama. Wujud para rakshasa ini juga berbeda-beda, misalnya kulitnya ada yang tidak berbulu, ada yang berbulu seperti rambut, ada yang berbulu duriduri tajam seperti jarum, dsb-nya. Mereka yang masuk alam ini biasanya semasih hidup punya akumulasi karma buruk yang bertumpuk-tumpuk. Yang jiwanya dominan dengan rasa iri hati, serakah, tidak puas, kemarahan, dendam dan kebencian. Sering melakukan kekerasan dan teror fisik maupun mental kepada orang lain. Lihatlah pada manusia-manusia yang pikirannya jarang welas asih, mementingkan diri sendiri, cenderung suka mengintimidasi dan menyebarkan jejak-jejak kemarahankebencian dimana-mana.

Termasuk mereka yang semasa hidupnya belajar ilmu hitam atau ilmu-ilmu kesaktian lainnya dan menggunakannya untuk menyakiti dan menyiksa orang lain. Kecenderungan bathin mereka selalu ingin lebih hebat [lebih sakti] dari yang lain, tidak punya toleransi kepada yang lebih lemah, penuh prasangka buruk, rasa curiga, iri hati, serakah, tidak puas, marah, dendam dan benci. Sumber kesengsaraan utama di alam ini adalah siksaan mental yang mendalam akibat dari siksaan mental yang ekstrim [iri hati, marah, benci, dendam, dsb-nya]. Serta proyeksi energi negatif dan kondisi berat alam ini yang semakin menekan. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan puasnya melampiaskan kebencian, ketidak-puasan, dendam dan amarah yang menyebabkan orang lain menderita.

Tambahan: hal ini terjadi karena gelap timiram dari Sura Kasuran Kulina Yowana Timiram..

Bisa dicek :

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/10/26/sandingan-konsep-seven-deadly-sins-konsep-sad-ripu-serta-sad-atatayi/

.

6. Sapta Petala dimensi ke-enam : Rasatala.

Penghuni alam ini adalah para mahluk yang tidak mewujud, hanya berwujud bayangan halus atau kabut yang lembut. Sering disebut para lelembut. Kehadiran mereka akan menghabiskan energi yang hidup bagi lingkungan sekitar maupun bagi mahluk lain [termasuk manusia]. Sesama makhluk-mahluk alam bawah pun juga tidak tahan berdekatan dengan mereka. Hanya mereka yang memiliki kemampuan supranatural tinggi yang bisa berhadapan dengan mereka tanpa terhisap energi hidupnya.

Mereka yang masuk alam ini biasanya semasih hidup punya akumulasi karma buruk yang bertumpuk-tumpuk. Yang jiwanya dominan dengan rasa iri hati, serakah, tidak puas, kemarahan dendam dan kebencian. Umumnya yang masuk alam ini adalah mereka yang aktif menyebarkan propaganda yang memecah-belah manusia. Terutama mereka yang pernah melakukan kesalahan-kesalahan berbahaya bagi banyak orang seperti menghasut, mengatur, memanipulasi atau mengorganisir kebencian pada orang lain [melalui orasi, ideologi, ajaran spiritual, dsb-nya] yang sampai pada terjadinya aksi kekerasan fisik kepada sekelompok orang atau bahkan memicu peperangan antar wilayah. Lihatlah pada manusia-manusia yang haus darah, senang dengan

kekacauan, serta puas melihat ketakutan, kepedihan, dan penderitaan. Alam rasatala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama.

Sumber kesengsaraan utama di alam ini adalah akan merasakan kesengsaraan mental yang sangat berat, akibat proyeksi energi negatif dan kondisi alam berat yang tidak terhingga di alam ini. Hampir tidak ada kebahagiaan di alam ini. Termasuk tersiksa akibat perbudakan mental dan manipulasi dari jiwajiwa gelap yang menjadi raja atau penguasa di alam ini, serta sang jiwa merasa demikian putus asa akibat kecilnya peluang untuk bisa keluar atau bebas dari alam ini. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah setitik harapan kecil bahwa suatu hari akan ada mahluk suci yang menolong keluar dari kesengsaraan panjang dan mendalam ini.

Tambahan:

Org yg guna timiram dan melakukan sad atatayi akan hadir di wilayah ini.. Trutama yg mmbuat kekacauan

Raja pisuna agnida.. Membakar rumah apalagi tmpat ibadah,  memfitnah juga..

7. Sapta Petala dimensi ketujuh atau paling negatif dan gelap : Patala.

Ini adalah dimensi alam bawah yang paling mengerikan. Sulit untuk diceritakan. Mereka yang masuk alam ini biasanya semasih hidup punya akumulasi karma buruk yang bertumpuk-tumpuk dan melakukan kesalahankesalahan fatal. Dimensi alam ini adalah apa yang disebut sebagai Naraka Loka [neraka]. Di alam ini berlaku hukum rimba, dimana yang kuat yang berkuasa. Alam patala atau Naraka Loka ini memiliki banyak sekali dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama.

Sumber kesengsaraan di alam ini adalah akan merasakan kesengsaraan mental yang sangat berat, akibat proyeksi energi negatif yang ekstrim dan kondisi alam berat ektrim yang tidak terhingga di alam ini. Termasuk tersiksa akibat penyiksaan, konflik, persaingan dan peperangan abadi antar sesama mereka. Tidak ada kebahagiaan sedikitpun di alam ini. Sangat sulit untuk keluar dari alam ini.

Kemudian masuk pada wilayah sapta loka yg juga disebut sbagai alam bhur bwah swah jana tapa maha sunia lokam..

Dmana di jaman ini bhur bwah swah adalah sekala niskala dan bisa sahanirahkala jugya… Dengan kesadaran..

Kemudian ada selanjutnya tapa maha jana loka..yg dikuasai oleh  Sang Hyang Murti Maya Mudhra..dalam ini maka Jana loka adalah Brahmika Iswaraham Rajasika Murti Mayaka.. Dmana Jnana adalah jalan menujuNya..

Lalu ada Tapa loka sang Hyang Murti ShidantaShiva tamasa Murti Mayaka yg jalan menujuNya adalah Raja Marga..

Kemudian ada juga Maha lokha dmana jalan menujuNya adalah Mahadevaka waisnawatha Satwikah juga jalan Karma MargaNya..

Dan Sunia Loka tmpat Hyang Embang Sunia Acintya lokham samastham.. Tmpa kamoksan para awataram yang akan lagi Turun ke dunia dmana ke depan ada bernama Sang Hyang Kakia Awataram..

Itu trisula wedha dalam wujud seluruhnya sbagai bhakti marga..

Sekedar wibhuti marga

Gwr manis waisak..

Mei 2017

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 12 Mei 2017 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , ,

Tri murti dalam sang AstaBratha.. (Bhgawnta wrspatti pada Laksmana Nusantara raya) 

Tri murti dalam sang AstaBratha.. (Bhgawnta wrspatti pada Laksmana Nusantara raya) 

Om jagatha pujam natha laksana.. Sang Wibhu sadhuti Maha Krya jihwan mukta.. Jnanisidha murthanambhawasya nusantaram mantruma jayalaksanam.. Om sadhu sahanti rahayu shanta.. Sang Bhagawnta Wraspatti inucap jnani nuju Sang Nusantara Laksamana (kepada sang Nusantara Laksamana sbagai panglima bahwasanya ini diberikan oleh bhagawanta wrspatti) 

Tri murti juga adalah konsep sifati yang sangat luas mencakup semuaNya semesta loka dalam wujud dewata illahiah apa pun itu.. Karena dasar utama untuk menjugakan bahasa dalam keseharian, akan selalu menuju pada suatu citta yang sesungguhNya acintyam,  namun menuju pada makna mengadabkan kebudayaan sebagai sang mahantra nusantara samastha raya.. Tri Murti sendiri adalah bagian yg sangat-sangat menjadi tidak terpisahkan dari keberadan Hyang Esa itu sendiri..Yang mencakup satu pemaknaan hidup,  proses, dan akhir itu sendiri.. Dan tiada pun yg bisa terhindar dari pemaknaan itu ketika bicara tentang sang hyang Esa (Eling-Sujud-Asa).. Ketika eling maka bersujud kemudian kembalikan pada AsaNya… 

Kembali pada Yang Esa dan juga pada makna fungsiNya sbagai Tri Murti,  maka masuk Pada fungsi Penciptaan, Pemeliharaan,  dan Peleburan itu sendiri.. Penciptaan adalah Oleh (A) brahma, kemudian Waisnawa (wisnu), dan Shiva (Is(a)wara)..dalam konsep Huruf suciNya yaitu AUM,  ang ung mang.. Utpeti sthiti pralina.. Pencipta penelihara pelebur.. 

Kemudian dalam pemaknaan lainNya maka muncul konsep GOD.. Yg berarti pada Generate,  Operating,  and Destruction.. dalam hal ini dapat diartikan sebagai membentuk-memulai-mencipta, Pemrosesan-pemeliharaan,  Peleburan-keadaan penghancuran- prngakhiran.. Tentunya ini adalah sebuah keberpahaman yg mudah namun sungguh mendalam dan mmbuat kemahardikaan bagi yg mau memahami itu.. 

Selain itu dalam konsep bahasa lainnya(baca:agama berbeda)  yg juga mengejawantahkan Tuhan, maka dalam agama samawi dapat dikatakan sebagai Yahweh Allah atau maujud NabiNya serta rasulNya.. Tentu yang dapat disimak adalah tentang konsep AsmaNya yg tersebar menjadi 99 nama Indah. Bagi sya pribadi ini sungguh mnyenangkan (seperti juga memahami agama lainNya)  ketika menelaah satu2 tentang semestaNya.. Pada kecakupan nama2 itu sendiri.. Untuk pemaknaan dari Allah itu sendiri,  maka dapat disimak Al Khalik-Al Muaimin-Al Akhir.. Dan ketika juga disimak pada kata SAW yg bermakna Sal allah aWaalhi Wassalam.. dalam bahasa pribadi saya mnyatakn Sal allah-Bermula dari Allah, Walahii (Disampaikan para Wali) dan Wassalam menuju pada AkhirNya.. Dalam hal ini berharap ke depan mnjadi sebuah kedamaian jua,  bahwa ada kabar baik buat semuanya dari keluarga rasul,  itu mgkin makna scra nyata yg ada..  Tentunya ini juga sesuai pada pembendaharan kata AUM,  GOD, SAW dan menuju pada KeESAan itu sendiri.. Eling-Sujud-ke Asa Nya.. 

Dalam eling itu maka terbersit perbendaharaan IA sang sadhu Satria Piningit atau Ratu Adil yg memiliki sikap sifati dari ramayanam tentang konsep Astabratha.. Astabratha sendiri adalah sifati Dewa pada Manusia itu sendiri, dalam hal ini Agni(api),Baruna(samudra),Chandra (Bulan), Indra (Hujan berkah),  Kubera (kesejahteraan), Surya(matahari), Wayu (Angin), Yamadipati (Adil-Penghukum)..

Silakan cek disini untuk lebih detail.. 

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/12/06/dewa-yang-memanusiakan-dirinya-konsep-astabrata/
Untuk memahami dimana mereka konsep sifati AUM GOD SAW..  Maka bisa dipahami sebagai berikut adalah bahwa Ang Generate – AwalnyA dari Allah adalah Penciptaan yg berisikan pemaknaan Agni Surya… Lalu kemudian Ung-Operate-Wali sbagai pemelihara pemaknaanNya adalah sebagai sang baruna, indera, kubera.. Dan Juga sebagai Sang Mang pelebur-Destructif-Wassalam (mengakhiri dgn kemenangan)  adalah Wayu serta Yamadipati.. maka betul tentunya merupakan kebahagiaan ketika dimengerti.. 

salam nusantara jaya Raya.. 

Gwar.. 

 

Tag: , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: