RSS

Arsip Tag: hindu

Sad Ripu dalam Bhagawadgita dan Hubungannya pada Maya..

Om saba ta a i na ma siwaya..

Om tryambakam ya jamahe.sugandhim pusti wardhanam.Uvarikmwa Bandanhat Mrtyormuksiyah mamrtat..

Semua ujian ini, Hanya padaMu Aku brsujud untuk diberi kekuatan menyingkapNYA…

trimurti4

Sad ripu, adalah enam golongan atau sifati dari diri yang menjadi musuh utama dan selalu menjadi bagian kehidupan sampai itu menuju kematian itu sendiri..Hal ini sangat sekali berhubungan dengan bagaimana Maya dari IA Sang Penguasa tiga Alam, sattwika rajasika tamasika, menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan, kecuali menyadari Nya dan memilah mana yang akan menuju jalan kebijaksanaan dan kebahagiaan yang sejati.

Mengenali diri dan mengenal Sang Pencipta adalah jalan yang sungguh pun semakin menyadari bahwa musuh-musuh utama itu adalah sangat mengikat dan menjadi halangan dan rintangan untuk menapaki tahapan tangga untuk ke tujuan.Atma widya serta Brahma widya akan semakin mempurifikasi ahamkara menuju buddhi yang jnana dan menyatukan atman serta brahman..

Ketika atman sebagai ananda maya kosa yang suci atau antakarana sarira badan bahagia, maka terlingkupi IA sebagai suksma sarira badan halus yang terdiri dari Vijnana Maya Kosa badan kecerdasan (citta buddhi), Mano maya kosa badan mental sebagai buddhi manas ahamkar, Prana maya kosa badan etheris yang berhubungan dengan dunia luar tri guna serta ahamkara ego yg terjebak tri guna, yang terakhir adalah badan kasar stula sarira annamayakosa..

Sebagai bagian itu maka skemanya sbagai berikut- Panca Maya Kosa dan selubung Atman

(Brahman)Atman(Aikyam)–> Antakarana Sarira / Ananda maya kosa..

*Suksma Sarira*

Citta (Buddhi yg cerah), Intuisi,–> Vijnana Maya Kosa (badan intelek cerdas, memahami Wiweka secara benar baik.

Buddhi (awal) terpengaruhi tri guna + Ahamkara yg Sattwika-> Manomaya Kosa, Badan Mental,Akal pikiran mulai mengenal keterikatan diri atas Maya dunia… 

Ahamkara Ego (rajasik tamasik->pengaruh acetana (ketidaksadaran) –> Prana Maya Kosa, Badan etheris bruhubungan langsung dengan kegiatan kekuatan hidup,..berhubungan dengan indera pada dunia

*Stula Sarira –>Annamaya Kosa ..terdiri dari Panca Buddhindriya Panca Karmendrya 5 indera pengenal dunia, serta indera melakukan kerja karma di dunia..

Dan ketika pemahaman itu sudah menjadi lebih dimengerti, maka kesadaran akan musuh diri yang terliputi Maya dunia dan menjadi energi yang menjauhkan diri yg “Sadar”.maka Sad ripu adalah bagaimana manusia kalah oleh pengendalian Diri akan keterikatan duniawi..Hanya pengetahuan SuciNYA yang membebaskan dari keterikatan itu untuk menuju pada AnAnda Maya Kosa badan yang berbahagia..

Sad Ripu adalah enam yang perlu disadari dan dikontrol sehingga mampu menjadi energi yang lebih baik.. Kama, Mada, Moha, Lobha, Matsarya, Krodha adalah yang dipengaruhi oleh MAYA yang bersifat Rajasikam penuh nafsu dan tamasikam yang bodoh tidak mengenal pengetahuan yang suci..Ketika Satttikam hadir di rajasikam, maka itu menjadi keoptimisan dan ambisi yg terkontrol, namun ktika tanpa kebaikan kebijaksaan kebenaran (sattwika), maka itu hanya menuju tamasikam, maka rajasikam akan dipngruhi oleh kegelapan(tamasik bodoh)..

–Kama-– adalah hawa nafsu, itu juga termasuk dalam catur purusa artha, maka kama yang bisa diterapkan sebagai kebaikan adalah mereka yang mendasariNYa dengan Dharma. Kama sendiri hendaknya dikatakan sebagai suatu bahan bakar untuk menuju pada tujuan Manusia itu sendiri,Keterikatan akan objek-objek dari dunia (maya) hanya akan tidak menuju kepada kebahagiaan itu sendiri, ananda maya kosa..tubuh yang berbahagia karena telah kembali menuju kesejatian, ya brahman atman aikyam..

-Krodha– adalah kemarahan, maka ketika marah menjadi tidak terkotrol, hancur ia nanti pada penyesalan.. Karena kesabaran akan menuju pada mereka yang benar2 tidak terikat oleh dunia itu sendiri..

**Bhagawadgita sloka 2.62**

dhyayato visayan pumsah, sangas tesupajayate, 

sangat sanjayate kamah,kamat krodho bhijayate..

Artinya : Selama seseorang merenungkan objek2 indria indria, ikatan terhadap objek indria itu berkembang. Dari ikatan seperti itulah berkembangnya hawa nafsu, dari hawa nafsu timbullan amarah..

Dari sloka diatas dikatakan, mengetahui subjek panca buddhindrya dan karmendrya, maka dunia adalah sebuah objek-objek itu sendiri.. Secara berlebih ketika mereka tidak menggunakan indria sebagaimana mestinya,maka terikat dan ketika tidak mendapatkan sebuah kepuasan karmendriya atau buddhindrya maka Krodha menjadi itu, dan akan membawa hawa nafsu menjadi jawaban atas pesona objek tersebut..

–Moha—.. adalah sebuah kebingungan, kebingungan terjadi karena pada tahap pengurangan ego ahamkar, terlalu banyak mengambil pengetahuan berdasarkan kebenaran atau pembenaran.. Hal ini  terjadi kembali pada badan mental atau Mano Maya Kasa yang berisikan jnana buddhi yang mulai mengenal wiweka namun belum mampu memisahkannya.. Dewa iya Bhuta Iya..Memang rwa bhineda akan selalu ada sebagai isi bumi, namun jalan dharma raksaka adalah seorang yang lengkap tunduk sebagai abdi dharma, dan telah memahami bibit-bibit adharma di dalam diri..Saat itu IA menjadi kan dirinya seorang bijak bajik dan tidak menyerah pada kuantitas dharma yg selalu lebih sediikit di jaman kali yuga ini..Tetapi sebuah evolusi mental yg menggenapi diri sebagai manusa yang tidak bingung karena kekuatan jnana atas panca sraddha, bgitu pula mantap dalam bhakti kepada panca yadnya itu sendiri..

**Bhagawadgita Sloka 2.63**

Krodah bhavati sammohah, sammohat smrti-vibhramah, smrti-bhramsad buddhi-naso, buddhi-nasat pranasyati..

Artinya : Dari Amarah timbullah khayalan yang lengkap, dari khayalan memnyebabkan ingatan bingung. Bila ingatan bingung, kecerdasan hilang, bila kecerdasan lenyap seeorang jatuh kembali ke dalam lautan material..

Maka awal utamanya adalah kemarahan atas kendali hawa nafsu, ketika marah merajalela maka moha atau kebingungan atas yang SEHarusnya terjadi, membuat khyalan-khayalan itu membuat kecerdasan akan menurun menyusut, Kecerdasan adalah bagian dari VIjanan maya Kosa atau ciitta yang mencakup buddhi yang telah menenal wiweka kebaikan dan ketidak baiikan..Kesadaran akan itu, maka buddhi memiliki dua pilihan.

Sattiwka ning buddhi Dharma Citta, akan membawa kecerdasan itu sebagai guru yg memiliki idep yang mantap yang mengetahui dharma, baik yang bijak atau bajik, baik yang siap sebagai maha guru atau pun murid dari semesta..Yang tahu bahwa nanti ketika pengetahuan tentang kebebasan diungkap, akan menyucikan lainnya..Dalam tapa semadi dan sadhana(diam)

Sattwika Rajasikam Citta Buddhi Dharma Rakhsaka..Adalah saat pilihan kedua bagi mereka yang mengetahui Kebaikan Kebenaran (Dharma), dan berjiwa sebagai pembela dharma, maka mereka adalah bagian-bagian dari pasukan penyebar dharma..Apakah sebagai seorang jnana dharma yang mampu menghilangkan adharma di diri serta membuat mereka (musuh) dharma takluk. Mereka adalah kalangan nastika, yang menyepelekan dan merendahkan weda serta keagungan dharma.. Mereka adalah diibaratkan sebagai padi tanpa isi.. Artinya mereka bodoh dan kurang cerdas akan pengetahuan agama baik agamanya mereka sendiri, atau kebenaran kebaikan universal itu..

–Matsarya-– Matsarya adalah rasa iri dengki kepada sesuatu yang dimiliki oleh orang lain..Secara kasar maka itu bisa terjadi karena iri akan harta yang telah dimiliki, iri kepada kebahagiaannya, atau iri pada pemahamannya.. Iri adalah ketidakmampuan diri menandingi siapa yang di dengkikan..Sebuah makna yang suci adalah, tamasika guna ini akan menghancurkan diri sendiri untuk menuju “pulang”. Apalagi jika iri ini menutup hati atau panca maya kosa yang menambah bahan bakar ahamkar sehingga buddhi citta akan terbungkus egoisme rajasikam tamasikam untuk mencapai Brahman Atman Aikyam.. Buddhi sebagai wiweka kecerdasan yg terhubung dengan Citta akan semakin jauh..Dan apalagi tidak melakukan yadnya panca yang telah diturunkan leluhur..Karena Maya yg massif dan menjadi belenggu setiap mahluk, akn tidak membawa kedamaian itu sendiri.. Lekat dengan duniawi seperti hedonisitas atau carwaka, adalah sangat lekat dengan nastika itu sendiri.. Membuat harta tahta dan berlindung di tamasika,hanya akan membuat akhir perjalanan hidup hanya kehancuran..Sesuai dngan wrspatti tattwa, satwik lekat dengan moksah, rajasik satwik lekat dengan surga, rajasik dan tamasik saja lekat dengan neraka dan reinkarnasi yang buruk..

–Lobha– Adalah kerakusan atau ketidakpernahpuasan atas apa yang dimilikinya. Menginginkan lebih lebih dan lebih.. Yang lekat pada keterikatan materi dunia. Mereka seperti dipermainkan oleh dunia, tetapi mereka sadar atau tak sadar.. Ketika sadar maka mereka tidak mampu lepas, karena pegangan mereka untuk itu tidak ada..Maka kebebasan itu adalah ada pada mereka yang baik bijak dan senang akan pengetahuan rohani yang suci serta kebebasan kebahagiaan yang suci.. Mereka yang tidak sadar, maka bagaimana mungkin mereka akan lepas dari kerja yang selalu mengharapkan hasil lebih, lebih, dan memompa amarah ketika hasil yang tidak sesuai..Ambisi dari ahamkar yang rajasikam, akan baik bila dipengaruhi sattwikam sebagai dasar dharma..Namun ketika mereka menggunakan cara kurang baik, adhaarma, dan melenyapkan pengetahuan suci itu sendiri, Mereka hanya akan hidup dan seperti gila oleh kemabukan harta tahta dan nafsu duniawi..Ketika mereka menyangkal mereka terikat dan tidak sadar akan keagungan Dharma yg membebaskan, maka mereka hanya akan masuk ke dalam jurang reinkarnasi, kepada kerja yang harus menghasilkan dan terikat akan hasil itu.. Maka yadnya apakah yang bisa menyadarkan? kecuali mereka giat berpunia, namun tetap kesadaran itu hanya ada pada mereka yang tahu akan MAYA(KU)

**Bhagawadgita 3-31**

Ye me matam idam nityam anustishanti manavah, sraddhavanto nasuyanto mucyante te pi karmabhih

Artinya: Orang orang yang melakukan tugas tugas kewajibannya menurut perintah-perintah KU(Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa) dan mengikuti ajaran ini dengan setia, bebas dari rasa iri, dibebaskan dari ikatan perbuatanyang dimaksudkan untuk membuahkan hasil..

***Bhagawadgita 3,52**

Ye tv etad abhyasuyanto nanutishante me matam, sarva-jnana-vimudhams tan viddhi nastan acesatah..

Artinya :Tetapi orang yang tidak mengikuti ajaran ini secara teratur karena rasa iri dianggap kehilangan pengetahuan, dijadikan bodoh dan dihancurkan usahanya mencari kesempurnaan..

Dari dua sloka di atas maka disebutkan bahwa, kebebasan dari rasa iri,akan membawa diri menjadi terlepas dari MAYA itu sendri, artinya adalah bahwa Maya yang merupakan kekuatan prkrti Brahman, akan memberikan balasan pahala atas iklas itu sebagai suatu hadiah pahala pada mereka yang mengabdi secara tulus dan iklas serta insaf.. Semakin terikat maya, terutama atas pencarian artha kesejahteraan dengan cara yang kurang baik, maka IA atau mereka hanyalah akan mendapatkan dosa, dan jauh dari pengetahuan suciNYA tuhan brahman dalam ketidakbrsyukuran, kelobhaan serta berasal dari rasa iri yang tidak pernah puas..Maka mereka akan selalu terikat dari hasil dan pahala, kecuali keiklasan akan membawa Tuhan turun ke ranah pahala di dunia..Ketika mereka melakukan yadnya, maka saat itu sebenarnya Diri yang berpribadikan Atman yg suci menuju pada sebuah kesempurnaan itu sendiri.. Bagi mereka yang paham akan mendapatkan hasil dari yadnya, yang mereka sadari sebagai keiklasan atas yadnya panca itu sendiri…

Sloka 3-27

Prkerteh kriyamanani gunaih karmani sarvasah, ahankara-vimudhatma kartaham iti manyati..

Sang Roh yang dibingunkan oleh pengaruh Keakuan Palsu menganggap dirinya pelaku kegiatan yang sebenarnya diakukan oleh tiga sifat (tri guna) alam material..

–MADA- Kemabukan, yang membuat manusia lupa diri, manusia yang terbelenggu oleh kenikmatan dari keterikatan materi dunia, yang juga tanpa sattwika,akan berasal dari loba kerakusan yang dimabukkan oleh belenggu rasa iri, tentu saja dari kroda yang membuat hayalan serta kebingungan tetapi tidak merasa bingung.. Artinya mereka mabuk akan keterpengaruhan alam tiga sifati itu.. Maya itu melupakan diri, memabukkan IA pada kebahagiaan semu, apalagi jika mereka menikmati kemenangan mereka dari kemarahan, iri, kerakusan yang menyenangkan yang membuat bingung itu sendiri..

Keakuan palsu adalah mereka yang berada pada kendali tri guna, namun mereka mnyatakan ia adalah pelaku kegiatan, bukan dari tri guna. Namun kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda bahwa mereka mencari keuntungan karena diri mereka yang pintar, mereka mengungkapkan kebenaran karena diri mereka yang tahu segalanya, atau bahwa karena keakuan palsu itulah yang menyebabkan kebahagiaan (keakuan semu) yg mereka sadari.. Mereka mabuk bahwa hanya mereka yang mendapatkan semua berkat ini, namun sabda Tuhan, pun mereka ketahui dengan amarah, dan kerakusan akan pembenaran.. Pada hal Sabda Tuhan yang paling perlu diingat selain panca sraddha yang sattwika dan rajasika atau tentang filsafat etika upacara, adalah memahami mereka hanya sebagai abdi dari kekuatan Tri MayaGuna itu sendiri..

Maka kepribadian Tuhan menyatakan Aku mencipta kebaikan keburukan sattwika rajasika tamasikam, namun Aku tidak berada pada “itu” dan “itu” tidak berada pada AKU…

Hare kalkya Kalkya Hare Hare

Asatoma sad gamaya, tamasoma jyotir  gamaya, Mrtoyrma AMrtam gamaya

Om santi rahayu raharja Om

salam gwar

lihat juga..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/01/29/mengendalikan-sad-ripu-dengan-sarasamuscaya/

sumber :bhgwadgita, wraspatti tattwa, meditasi sathya baba

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Mei 2014 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Sekilas tentang Atman yang Lekat pada Kemoksaan…

LotusYogaWomanArtYinYan

Om sadasiwa, siwa narayanam, om namasiwaya.. Semoga “ini” hanya sembah kepadaMu oh hyang kuasa..

….Atman….
Mendengar sederet kata atman, artinya adalah bahwa pemahaman tentang itu (atman) adalah menuju sebuah sraddha yang lekat pada 5 dasar keyakinan hindu. Hikayat atau hakikat tentang atman, pada dasarnya adalah sebuah cerita tentang kekekalan dari brahman (tuhan) sebagai sumber dari atman..

Membicarakan atman itu juga lekat dengan bagaimana tuhan sebagai nirguna serta sekaligus saguna brahman. Dalam wrspatti tattwa disebutkan bahwa nirguna brahman atau parama siwa adalah saat kekosongan kehampaan dari Tuhan itu sendiri dan tidak terlekat pada tiga sifat dasar yaitu sattwam rajas dan tamas triguna.

Tuhan dalam kehampaan ini sebagai acintya, IA yg tidak terpikirkan.Dikatakan Sifat dari Parama siwa tattwa adalah sebagai berikut :
Apremaya (tidak terbayangkan),
Ananta(tidak terbatas),
Anidesya (tidak dapat diberikan batasan),
Anaupamya (tidak dapat dibandingkan),
Anamaya (tidak dapat kena penyakit, suci),
Suksma(tidak dapat dilihat),
Sarwagita (memenuhi segalanya),
Dhruwa (kokoh tidak bergerak stabil),
Avyaya (utuh tidak pernah berkurang),
Iswara (guru yg mengatur segalanya).
Dan selanjutnya IA memberikan maujud pada diriNya sendiri, dengan memberikan pengaruh tri guna itu kepadaNYA. Pada saat dipengaruhi oleh guna, IA menjadi saguna brahman yang bersifat yang MAUJUd.

IA dikatakan saguna brhman atau sadasiwa adlah saat Tuhan sebagai Cetana melebur bersama acetana( ketidaksadaran) Ketika IA dalam wujud Saguna brahman, maka memiliki 4 sakti atau sifat, yaitu Cadu Sakti. Maka dengan ini Beliau memiliki :
1. Wibhu Sakti : Maha ada.
2. Prabhu Sakti : Maha Kuasa
3. Jnana Sakti : Maha tahu.
4. Kriya Sakti : Maha Karya
Dengan KemahaKaryaAnNya timbul pula mahluk hidup (manusia) yang berpikir, manusia yang terliputi tri guna dan terpengaruh, namun juga menciptakan tri guna itu sendiri. Timbullah alam pikiran yang menjadi dasar untuk berprilaku dan menjadi tolak ukur akan kemana nanti manusia setelah menjalani kehidupan yang sekejap ini. Atman yang berasal dari langsung cetana akan lupa asalnya dan terpengaruh oleh ketidak sadaran.

Atman sebagai tempat terdalam dan tersembunyi dilapisi beberapa lapisan, yaitu budhhitattwa, ahangkara tattwa… Buddhitattwa adalah bagian yang berada sebagai hasil dari tri guna..buddhi itu dibagi menjadi empat dengan pahalanya:
1.Dharma buddi adalah perbuatan mulya, tapa, yadnya, dana punia, yoga, meninggalkan keluarga hidup dari sedekah. Pahala dari dharma buddhi adalah ketika dharma lahir dari budhi maka orang mencapai surga dan bersenang-senang disana, IA menjadi dewa dan mendapatkan kekuatan lainnya.
2. Jnana Buddhi adalah pengindraan langsung, menarik kesimpulan, ajaran-ajaran agama dari orang yg telah mempelajarinya. Pahala dari Jnana budhi adalah melalui pengetahuan yang benar orang akan mencapai empat kekuatan dan mencapai moksah.
3. Vairagya Buddhi adalah ketidak terikatan terhadap kesenangan, baik yang dilihat, didengar pada badan yang sehat. Pahala dari Vairagya buddhi adalah mereka akan mencapai prakertiloka (dunia material) dan mengalami kesenangan seperti orang tidur dan setelah lama akan lahir sebagai dewayoni.
4. Aiswarya Buddhi adalah keseimbangan dalam kesenangan bhoga (makanan) kesenangan kecil, upabhoga (kesenangan sandang), paribhoga (memiliki istri) dengan asiwarya orang menikmati kesenangan tanpa gangguan. Dengan anima dan kekuatan lain orang lahir menjadi dewa sebagai pahala aiswarya .

Ahamkara(ego) adalah yang sangat melekat dan berpengaruh terhadap buddhi, apalagi dengan keterpengaruhan dari tri guna tattwa.
Ahamkaralah yang berhubungan langsung dengan indra dan memiliki serta membentuk keinginan-keinginan yang sesuai guna yg ada.
Ahamkara yang terliputi sattwa dominan akan memiliki keinginan untuk menjadi lebih bijak dan memikirkan dharma secara mendalam, ketika itu diliputi oleh keinginan rajasikam,maka apa yang diinginkannya menjadi sebuah perilaku atau perbuatan.
Ahamkara tamasikam, arttinya keinginan jahat dan kemalasan, gelap, ketika ditambahkan dengan rajasikam, maka ambisi untuk berbuat jahat dan culas akan terlaksana. Jadi dapat dipastikan bahwa pengaruh dari tri guna sangatlah tinggi untuk memperoleh hasil dari tujuan agama itu sendiri.

Atman yang lupa akan keberadaanNya sebagai bagian dari Paraatman, setidaknya akan memiliki buddhi dan lapisan ahamkara. Dijelaskan pula alam pikiiran yang terpengaruhi sattwam rajas tamas akan membawa atman menuju alam yang selayaknya ketika lepas dari badan wadag.

Sattwam yang mendominasi pikiran artinya dengan tekun melaksanakan dan memiliki jnana buddhi , maka akan mencapai wilayah kemoksaan dan bersatu dengan Parama siwa atau Kesadaran Siwa.

Sattwam yang dibarengi rajasika akan mencapai wilayah surga yang disesuaikan dengan Dharma buddhi, Vairagya buddi, Aiswarya buddhi. Selain itu maka tamas berpengaruh dibarengi dengan rajasika, artinya akan mencapai wilayah neraka dan reinkarnasi sebagai bukan manusia.

Maret awal 2014
salam Gwar

sumber :wrasppati tattwa

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Februari 2014 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Mahrifat, Wahdatul Wujud, dan Kamoksan

transendence

     Mendengar istilah Mahrifat,  mungkin dikatakan suatu yang asing, namun pada dasarnya adalah sesuatu yang menarik jika didekatkan pada sebuah agama monotheism (islam) sebagai pemilik kata tersebut. Sebuah konsep unik pula tentang arti Manunggaling Kawulo Gusti sebagai sebuah kalimat yang berasal dari istilah “kejawen”. Sebuah kemanunggalan dengan “Gusti”. Tentunya dalam arti unik dan secara privasi dalam hubungannya ke pada “Yang Penguasa” alam ini.

Dalam hubungannya dengan suatu tingkatan ilmu pemahaman dan pengabdian kepada Sang Ilah, sesungguhnya mencapai suatu kata mahrifat dikatakan sebagai suatu ketersulitan tersendiri. Dalam hal ini Ia setidaknya menapaki pada tingkatan-tingkatannya. Sebelum mencapai suatu kata Mahrifat, maka paling tidakumat islam harus menjalani syariat, mengenal tarikat,mendapatkan hakikat, kemudian menuju suatu kemahrifatan. Tingkat syariat adalah pada suatu laku lahir termasuk pula pada tarikat. Syariat adalah laku dalam ritualnya serta larangan dan suruhanNya, kemudian tarikat menuju suatu pemahaman tersendiri dan melakukan paham syariat dalam kehidupan,termasuk juga wirid, zikir, dsb.

Suatu pemahaman yang terkadang kontradiktif jika mempertemukan seorang yang syariat, yang kemudian bertemu seorang penekun mahrifat. Dan seringnya malah hal itu memberikan sebuah konflik tersendiri. Seperti pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir yang memberikan pemahaman tersendiri dimana syariat bertemu Mahrifat. Dan pula bagaimana Syeh jenar dalam pemahamannya sendiri tidak dipahami oleh awam termasuk pula para wali songo yang notabene sudah paham sekali tentang ajaran Islam. Tergambar pula bagaimana Al Hallaj menyebutkan Anna Al-Haqq, yang berarti “Akulah Kebenaran” yang menuju pada suatu yang tidak diberikan oleh pemahaman awam. Dalam artian bahwa paham Mahrifat atau yang dekat dengan sufistik serta yang dikatakan Manunggal menjadi sesuatu yang tidak diberikan secara gamblang kepada khalayak ramai.

Bagaimana mungkin Allah menjadi diri manusia, bagaimana mungkin Allah mau turun kepada diri manusia,atau bahkan mampukah kau mencipta seperti layaknya Allah,itu yang mungkin diberikan sangkaan yang tiada boleh Allah diganggu gugat sedemikian rupa. Islam dalam hal ini tidak memberikan celah untuk menjadikan Allah sekutuNya kepada siapa pun. Jadi memang dalam kenyataan, bahwa paham itu dirahasiakan bagi pemiliknya sendiri.Aliran-aliran yang dekat dengan ini, adalah paham sufisme, yang bahkan beberapa berkata Sufi adalah islam yang berbaju weda.

Dalam hal ini,Hindu sendiri adalah sebagai agama yang kaya akan pemahaman “Hyang Agung”. Dalam sabdanya di Bhagawadgita menyebutkan,jalan manapun yang kau jalani untuk menyembahKu, maka Aku akan terima. Di hindu tersendiri menetapkan ada empat jalan yang memiliki konsep tersendiri. Bhakta, Karmin, Jnanin, Raja Marga. Terlepas dari cara-cara itu, maka disadari atau tidak perjalanan memujaNya sebagai sebuat “way of life”.  Kata-kata “Aham Brahman Asmi”, atau “Tat twam Asi”, adalah kata-kata yang terbiasa di telinga serta di “rasa” seorang Hindu. Karena memang dalam prinsip Monisme atau Pantheism bahwa Brahman ada dimana-mana, serta dimana-mana adalah brahman, menjadi suatu paham yang memberikan rasa takjub dan termasuk mencintai kehidupan(alam semesta) itu sendiri. Dan tidak ada ketidakberbolehan untuk mewujudkan Brahman itu sendiri, sebagai manifestasi Sang Acintya. Dapat dikatakan sebuah kebebasan mewujudkan adalah tanda akan kedekatanNya kepada pemelukNya itu sendiri. Tidak akan Ia marah atau merasa direndahkan karena mewujudkanNya. Malah itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri jika bisa mewujudkanNya dan sekaligus memujaNya.Satu hal yang pasti adalah, tidak ada WujudNya yang tidak dikenal atau bukan manifestasinya, maksudnya adalah tidak ada dewa kerbau, jika pada perjalanan suatu evolusi agama tidak ada namanya dewa berwujud kerbau. Shiva atau Ganesha menjadi suatu manifest/bentukNya yang telah ada di sejarah itu sendiri

Hal ini tergambar pula pada kebijaksanaan pada penyebutanNya, yang tergambar pada “Ekam sat wiprah Bahuda Wadanti”.Seorang bijak akan menyebutNya dengan berbagai nama, karena keluasan dan kemahakuasaanNya itu. Seperti jika diterjemahkan secara fungsi, Dewa Siwa dikatakan sebagai pelebur, penghukum, atau DewaYama sebagai Yang Maha Adil, atau Wisnu sebagai pemelihara semesta. Kalau di Islam yang tidak diperkenankan mewujudkanNya, sebenarnya telah memiliki 99 nama Allah (asma ul Husna) yang terdapat Al-Adl sebagai Allah yang Maha Adil, Al Muaimin sebagai pemelihara, atau pula Al-Khalik yang merupakan nama Allah sebagai Pencipta semesta. Memang tidak ada wujud dalam bentuk rupa, namun dalam simbol-simbol huruf atau lukisan kaligrafi dapat diperlihatkan sebagai bentuk estetika akan keagungan namaNya.

Dalam wilayah seni,maka seorang sufistik menemukan jalan yang dekat dengan berolah puisi sebagai tunjuk atas kedekatanNya kepada Ilahiah. Sebagai contoh puisi berikut

Sabda Rasul Allah Nabi kamu

Lima’a Allahi sekali waktu

Hamba dan Tuhan menjadi Satu

Inilah ‘arif bernama tahu

Kata Bayazid terlalu ‘ali

Subhani ma a’zama sya’ni

Inilah ilmu sempurna fani

Jadi senama dengan Hayyu al-Baqi

Kata Mansur penghulu ‘Asyiq

Ia itu juga empunya natiq

Kata siapa ia la’iq

Mengatakan diri akulah khaliq

Dengarkan olehmu hai orang yang kamil

Jangan menunut ilmu yang batil

Tiada bermanfaat kata yang jahil

Ana al-Haq Manshur itulah washil

Hamzah Fansuri terlalu karam

Ke dalam laut yang maha dalam

Berhenti angin ombaknya padam

Menjadi sultan pada kedua alam:

(http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html)

Dalam hal ini pun dalam islam masih terjadi suatu perdebatan tersendiri akan kesesatan dari jalan sufism, tassawuf. Namun sebuah puisi dengan keindahan serta estetikanya itu sendiri, memiliki nilai mistik jika menghayatinya secara mendalam. Mungkin pula dalam “way of life-nya” bahwa seorang sufi menunjukkan takjub serta sujudnya kepada kekuatan Agung yang “benar” adalah dengan puisi itu sendiri. Agar itu sebagai keindahanNya dapat diterima oleh awam.

Jika dilihat pada Wadahtul wujud, maka mempunyai pengertian secara awam yaitu; bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya. Hal ini dikatakan jugasebagai Wahdatul Syuhud yang berarti kita dan semua bagian dari dzat Tuhan /Allah. Hal ini sangat riskan jika didekatkan pada suatu pemahaman awam tentang Tuhan itu sendiri. Pada suatu paham Ke”Hindu”an itu bisa dikatakan sejalan dengan Atma tattwa, bahwa memang dalam setiap mahluk, manusia, bahkan semesta merupakan Ia semata. Sang Brahman. Dan kita hanyalah dan sebagai percikan dari Hyang Kuasa itu sendiri. Riskan dalam hal ini, pada manusia yang menganggap awam, hanya akan menimbulkan suatu emosi dan dikatakan akan merendahkan kekuatan Agung itu sendiri. Padahal untuk mengenal IA maka diperlukan sedikit ruang yang hanya Ia yang “mampu” dalam mengalahkan musuh diri. Musuh dalam diri sendiri yang terlalu berprasangka dan bahkan memenjarakan IA.

Memang dunia adalah sebuah dunia rwa bhineda, sebuah yin dan yang. Dan bagaimana seorang bijak dapat memberikan dirinya sendiri suatu kemoksaan sebagai tujuan akhir di dunia atau di alam nanti, adalah terlepasnya ia dari nafsu, lobha, keserakahan, dan tunduk pada sifatNya yang sempurna untuk tidak mengidolakan keduniawian yang “maya”. Sebuah kebahagiaan dan kesejahteraan batin yang akan muncul dan menjadikan keesokan hari sebuah karma baik untuk dengan nyaman dijalani sebagai suatu kemenangan akan hidup itu sendiri.

 

 

 

Daftar pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Wahdatul_Wujud

http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Sufism

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2013 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Ego manusia yang memberi takdir kepada manusia lainnya…

Apa teriakan bermakna??

Di saat menyata pada emosi…

Yang lebih besar dari takdir manusia itu sendiri..

Takdir sebagai mahluk budi dharma ???

——————————————————————-

Apa kau bisa membuat mereka yang telah tiada??

Apa kah akan kau katakan, ..ini air mani , mana telurnya??

Lalu siapa itu yang kau takdirkan, Mati??

Siapa yang menjamin engkau menjadi malaikat maut yang benar??…

Lalu apa yakinmu jika itu menjadi pahala burukmu,

kemana kau mendapat tempat mengadu??

Mati itu tiada akan guna sesal….

Kembalkan mati itu saja?? bisa kah??

——————————————————-

Emosi yang memBABI buta…

Dan “punggung” itu masih ada di dirimu..

Bawa saja beban itu??

Toh kau sudah tahu sudah mendapat tempat di alam sana…

abadikah??

—————————————————————————-

Ya sudah lah,

terjadi terjadi ya begitulah….

terkadang tersenyum miris, melihat merasa…

bahwa kengerian di alamNya…terngiang-ngiang-ngiang-ngiang-ngiang-ngiang…

———————————————————————

gwar…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Oktober 2012 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Agama Damai di Masa Depan

Agama yang Damai di Masa Depan

            Agama sebagai suatu kata yang dapat berarti pedoman seseorang untuk berperilaku, terutama dengan hubungannya kepada Tuhan sebagai pemilik semesta. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama berasal dari kata sansekerta yaitu sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan  dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Agama disebut juga religi  yang berasal dari bahasa latin, religio dan berakar  pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Artinya adalah seseorang mengikatkan dirinya kepada Tuhan.

Dalam hindu sendiri disebutkan bahwa ajaran hindu sebagai suatu Sanatana Dharma yang mengandung arti kebenaran yang abadi. Hal ini mengatakan secara jelas bahwa sampai kapan pun dharma akan menjadi suatu kebenaran entah apa pun itu keadaan jamannya. Abadi juga berarti bahwa tidak akan pernah dharma itu hilang sampai kapan pun dunia ini ada. Namun sebagaimana kita lihat pada saat ini, apakah jaman modern ini mampu dilingkupi oleh agama? Atau modernitas yang melingkupi agama itu sendiri? Agama itu sendiri sebenarnya telah diterjemahkan oleh beberapa teori dari beberapa ahli. Teori-teori itu bisa menjadi titik awal bagaimana agama itu bisa dimengerti secara ilmu.

  1. Teori-teori tentang Agama.

E.B. Tylor (1832-1917) menyebutkan bahwa agama berarti adalah “keyakinan terhadap sesuatu yang spiritual”. Hal ini dikatakan sebagai suatu yang mirip dimiliki oleh seluruh agama, yaitu adanya keyakinan terhadap roh-roh berpikir, berprilaku, dan berperasaan seperti manusia. Esensi dari setiap agama adalah animisme (anima) yang berarti roh. Jadi pertanyaan oleh Tylor untuk menjelaskan agama yang pertama adalah “Bagaimana dan kenapa awal mulanya manusia mulai mempercayai keberadaan sesuatu sebagai sebuah roh?” Pernyataan ini diterjemahkan oleh E.B. Tylor dengan menyebutkan “filosof liar” pada saat jaman primitif yang bisa mengklasifikasikan manusia itu hidup atau mati, serta memiliki jiwa dan roh sebagai bayang-bayang jiwa sehingga berhasil mendapatkan konsep tentang Jiwa yang Memiliki Pribadi. Itu berkembang menjadi bentuk yang lebih besar di luar tubuh, seperti dewa-dewa yang ada di sekeliling manusia tersebut. Akhir dari Tylor menyimpulkan bahwa takdir agama sebenarnya adalah sekedar memperlambat kemajuan pemikiran manusia yang masih saja memegang teguh agama dari keuntungan mereka (hal 49; Daniel;2011).

J.G. Frazer (1854-1941)memberikan pemahaman tentang agama berhubungan dengan istilah magis dari jaman primitif. Di mana pada saat itu, yang memiliki predikat penguasa magis adalah dukun, tabib, atau tukang sihir yang dianggap mendapatkan kekuatan sosial dan bahkan menjadi penguasa karena kekuatannya tersebut. Magis adalah suatu kekuatan yang pada saat itu dapat menguasai alam. Seperti halnya mampu menurunkan hujan atau mendapatkan cahaya pada saat petani membutuhkan. Magis disebutkan sebagai sesuatu pengetahuan yang salah dan pada akhirnya digantikan oleh agama saat kemundurannya (magis) walaupun memiliki kemiripan tersendiri. Jadi antara E.B. Tylor dan Frazer menyebutkan asal usul agama dari pra sejarah serta evolusinya dalam perkembangannya sebagai penyelesaian masalah pada waktu itu. Dan E.B. Tylor serta Frazer tidak mencantumkan permasalahan agama yang turun dengan cara wahyu, namun kesimpulan yang terpenting adalah agama memang merupakan suatu evolusi pemikiran dari manusia yang pada akhirnya mengalami kemunduran akibat kedatangan suatu ilmu pengetahuan dan perannya akan tergantikan.

Sigmund Freud (1856-1939) merupakan ahli psikologi yang memberikan pemahaman akan psikoanalisa serta alam bawah sadar. Ketertarikannya akan pikiran manusia serta bagaimana hal tersebut bekerja membawanya pula pada pemahaman yang menyentuh bidang-bidang lainnya sebagaimana pula bidang agama. Dalam pemahaman alam bawah sadar menyebutkan bahwa kumpulan emosi dan angan-angan serta dorongan biologis paling dasar masuk dari alam sadar dan menjadi suatu gunung es. Masuknya emosi-emosi tersebut bisa terjadi dengan dua cara, yaitu masuk secara diam-diam sebagai transkrip masa lalu, serta masuk dengan cara dipaksa akibat sesuatu kejadian yang kompleks. Untuk yang kedua itulah yang mengakibatkan ketertekanan yang bisa mengakibatkan pengaruh penyakit syaraf (neurosis) dan dapat disembuhkan oleh psikoanalisa. Ia menyebutkan manusia terdiri dari Id yang merupakan insting hewaniyah (makan, membunuh, seksualitas), super ego (kepribadian yang dimasukkan dari luar seperti keluarga, harapan masyarakat, negara) serta ego (sebagai penyeimbang keduanya). Pemahaman agama dari Freud berasal dari istilah Oedious Kompleks yang berasal dari cerita seorang raja yang baik dan bijaksana namun membunuh ayahnya serta menikahi ibunya sendiri. Karena menyesalnya ia membunuh ayahnya, akhirnya ia mencari cara bagaimana membunuh rasa sesalnya dengan memuja ayahnya tersebut. Hal ini berhubungan dengan pemujaan totemisme dimana binatang totem dianggap sebagai ayah mereka yang telah mati dan menahan hasrat seksual mereka, seperti pula ketabuan dalam menikahi seorang ibu sendiri (totem and taboo 1913). Agama disebutkan oleh Freud sebagai sebuah yang lahir dari emosi-emosi serta konflik-konflik yang lahir dan semenjak kanak-kanak dan terletak jauh di bawah kesadaran rasional, permukaan sadar dalam kepribadian dan dipandang sebagai gangguan neurotis.

Lain halnya dengan pandangan Emile Durkheim(1815-1917) yang menjelaskan tentang kesakralan masyarakat, di mana agama dan masyarakat tidak dapat dipisahkan, dan bahkan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Terdapat dua bagian dari suatu masyarakat, yaitu “Yang Sakral” serta “Yang Profan”. Hal yang sakral selalu diartikan sebagai sesuatu yang superior, berkuasa, dan dalam kondisi normal ia tidak tersentuh dan selalu dihormati. Sebaliknya pula yang profan berarti sesuatu yang biasa-biasa dan menjadi keseharian masyarakat. Seperti pada totem-totem yang memiliki kesakralan, di mana binatang selain yang ditotemkan bersifat biasa dan dapat dibunuh atau dimakan yang berbeda dengan binatang “sakral” pada totem tersebut. Durkheim berpendapat sebelum masyarakat mendapatkan keyakinan terhadap tuhan, terdapat sesuatu yang impersonal maha kuasa (prinsip-prinsip totem) yang menjadi fokus utama dalam keyakinan tersebut. Dari Durkheim dapat disimpulkan agama adalah bagian yang paling berharga dalam kehidupan sosial. Dia menyediakan ide, ritual dan perasaan-perasaan yang menuntun seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai suatu masyarakat yang eksis, maka segala ide-ide, ritual-ritual upacara akan selalu ada, hal tersebutlah yang menyebabkan agama tetap ada.

Karl Marx (1818-1883) berpandangan agama itu adalah sebagai bentuk alienasi. Marx memunculkan  dua titik tolak pemikiran, yaitu bahwa ekonomi sebagai hal yang mempengaruhi perilaku manusia serta yang kedua adalah dalam sejarahnya manusia memiliki konflik pertentangan kelas yang terjadi secara terus-menerus antara yang memiliki barang dan yang harus bekerja membanting tulang agar tetap bertahan hidup. Seperti pula bahwa kebutuhan hidup manusia adalah sandang, papan, dan pangan yang setelah mampu didapatkan akan menuju keinginan lainnya, seperti seks misalnya. Manusia membutuhkan hal dasar tersebut terlebih dahulu, hal itu dilakukan dengan kegiatan ekonomi yang notebene di satu sisi dimiliki oleh pihak pemegang kapital (modal). Pada masa modern yang mengarah pada industrialisme, para pekerja (proletar) mau tidak mau bekerja pada pemilik modal industrial. Itu pun semakin membuat pertentangan kelas antara proletar serta kapital. Dan hanya dengan jalan revolusi atau kekerasan nekad menghancurkan sistem ekonomi yang ada serta membentuk pemerintahan proletar yang membawa pada perubahan kedamaian serta kebebasan yang tidak terdapat pertentangan kelas. Alienasi menurut Marx adalah suatu keterasingan dari manusia itu sendiri, hal tersebut terjadi karena perbuatan manusia itulah yang menyebabkan terjadinya alienasi. Dan tentu saja alienasi ada yang “dilekatkan” secara sengaja kepada manusia termasuk ide-idenya sendiri padahal manusia adalah yang pemilik sebenarnya. Itulah alienasi yang paling riil dan menjadi penyebab kesengsaraan manusia. Namun kritik mengatakan bahwa pemahaman Marx terhadap agama sebagai candu masyarakat dan tempat pelarian masyarakat miskin dari kesengsaraan dan penindasan, sebenarnya dalam benaknya adalah menjelaskan tentang agama kristen. Hal itu akan berbeda jika menjelaskan kebahagiaan hidup setelah mati dan reinkarnasi agama hindu atau kesabaran hidup dalam agama buddha.

Mircea Elliade (1907-1986) yang juga memiliki pengalaman mempelajari yoga di wilayah india selama beberapa waktu, mempergunakan istilah Yang sakral dan Yang Profan seperti yang dipergunakan Durkheim, namun istilah ini lebih mengarah kepada spritualitas atau supernatural dibandingkan mengarah kepada sosial. Yang sakral oleh Elliade digambarkan sebagai suatu perjumpaan dengan sesuatu yang menyentuh satu realitas yang belum pernah dikenal sebelumnya, sesuatu yang nir-duniawi sebagai sebuah dimensi yang maha kuat, sangat berbeda dan merupakan realitas abadi yang tiada tandingannya. Hal ini terdapat pada semua agama, baik pada agama arkhais atau pula pada yahudi dan kristen yang mendasarkan dirinya pada nabi-nabi serta wahyu-wahyu yang ada. Disebutkan bahwa pada akhirnya mereka (yahudi,kristen) menginginkan suatu turunnya manusia tuhan (mesias) yang memberikan suatu dunia dambaan pada akhirnya. Hal tersebut sejalan kembali sesuai pemikiran arkhais yang menerima sejarah sebagaimana itu ada dan akhirnya akan hancur kembali menuju dunia yang sempurna.

Dari beberapa pemikiran di atas yang paling mencengangkan adalah Frederich Nietzsche bahwa “Tuhan telah mati”. Hal ini tidak diartikan secara harfiah, namun merupakan gagasan dari Nietzsche yang menyatakan bahwa Tuhan tidak lagi mampu berperan sebagai sumber moral atau teologi. Gagasan ini pada akhirnya akan membawa kepada Nihilisme di mana terjadi suatu ketidakpengakuan lagi pada tatanan kosmis termasuk pula penolakan keyakinan akan suatu hukum moral yang objektif dan universal, yang mengarah pada evaluasi kembali dasar-dasar dari nilai manusia.

Ini adalah beberapa pemahaman tentang agama itu sendiri, di samping pula beberapa teori lainnya dari beberapa ahli lain. Asal-usul dari agama tersebut paling tidak bisa menggambarkan bagaimana agama itu terbentuk serta bagaimana bentuk agama ke depannya.

2.  Era modernitas tempat agama saat ini.

Pada era modernitas ini, maka agama yang ada akan berpacu pada suatu kondisi keduniaan itu sendiri. Era modern terbentuk dari suatu era industrial yang mengarah pada berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai suatu pengambil keputusan serta alat untuk mengenal dunia itu sendiri via penelitian empiris. Ini yang membedakan modern dari era pra modern yang menyatakan bahwa sesuatu pengetahuan didapat dari alasan (reason) dan pengetahuan bawaan (innate knowledge). Pra modern juga berarti pemahaman yang didapat dengan kepercayaan mitos serta keyakinan akan sesuatu yang lebih “tinggi”.

Era modernitas juga berarti sesuatunya tidak terlepas dari science dan teknologi, media massa yang berperan cukup tinggi, gerakan sosial yang berkembang, demokrasi, individualitas, industrisasi, dan urbanisasi. Modernitas juga sangat berhubungan dengan berkembangnya paham kapitalisme yang sangat erat dengan revolusi industri. Kemunculan ekonomi yang berarti sebagai ilmu untuk memuaskan kebutuhan manusia yang tidak terbatas, juga sebagai salah satu yang muncul di era modern.

Hal tersebut memunculkan pertanyaan, apa yang dicari manusia pada saat ini? Apakah manusia menjadi objek yang mengikuti perkembangan jaman modern tersebut? Menjadi manusia yang harus tetap setia dalam memunculkan kehidupan sesuai dengan teknologi yang ada? Bagaimanakah menjadi manusia yang sejahtera? Secara ekonomi kah atau kebahagiaan batin atau apa? Lalu agama berada di posisi mana dalam hal ini, seperti juga disebutkan agama sebagai produk dari era pra modern dengan berbagai mitos serta keyakinannya.

Era modern serta segala yang menjadikan seluruh dunia saat ini, di samping pula ilmu pengetahuan, sebenarnya telah sangat banyak memberikan kenikmatan serta kebahagiaan dan kesejahteraan yang memberikan bantuan manusia untuk kehidupan. Peradaban yang selalu berkembang serta informasi yang sangat bebas beredar, memberikan banyak sisi positif di samping pula sisi negatif dari kehidupan era modern tersebut. Seperti pula yang dikritik oleh para ahli di atas Karl Marx contohnya yang mengangkat sisi pertentangan kelas yang juga penuh konflik. Di sisi lain Tuhan sepertinya telah kehilangan daya atau pengaruhnya untuk membentuk moralitas serta kemanusiaan sehingga Nietzsche menceritakan tentang kematian Tuhan itu sendiri. Seperti pula munculnya paham hedonistis yang mirip dengan Carwaka di mana kepuasan pribadi adalah hal yang paling utama. Hal itu memberikan suatu sikap individualitas dan mengurangi keinginan untuk menanamkan sikap yang peduli pada sekitarnya.

Ilmu pengetahuan pun selalu berkembang dengan peran filsafat ilmu bagian aksiologi untuk menjawab bahwa ilmu yang baik berisikan suatu etika dan moralitas. Ini yang bisa menjawab bagaimana suatu pengetahuan pada nantinya akan menjadi suatu ilmu yang memiliki tanggung jawab moralitas serta tanggung jawab etika kepada sosial serta dunia itu sendiri.  Agama dalam hal ini sebagai sesuatu yang memberikan pemahaman etika serta moralitas menjadi sesuatu yang mutlak diperlukan, sebagaimana Durkheim juga berkata bahwa agama menjadi identitas suatu masyarakat dan dengan mengetahui identitas tersebut suatu permasalahan dapat diselesaikan jika terjadi gesekan di masyarakat tersebut. Eksisnya suatu masyarakat adalah berasal dari agamanya yang terbentuk dari ide, filsafat, serta ritual yang ada. Agama sebagai sesuatu yang membentuk psikologi seseorang, dikatakan sebagai suatu kesakitan oleh Freud sendiri. Namun ia pun tidak bisa menjawab kenapa orang masih beragama dan bersifat kolektif. Tylor pada kesimpulannya, agama dikatakan akan mengalami kemunduran akibat kemajuan ilmu pengetahuan. Tetapi ilmu pengetahuan pun pada akhirnya dibatasi oleh segi kemanusiaan, moralitas, serta etika yang notabene berasal dari sumsum agama itu sendiri.

Terlepas dari beberapa hal di atas, dunia sekarang pun masih memiliki titik-titik sejarah kelam dari agama itu sendiri. Di mana agama dalam penyebarannya atau pun dari suatu pembelaannya memiliki sifat keras tersendiri dengan darah atau pun kehancuran suatu peradaban. Seperti pula terorisme, pembunuhan etnis, brainwash, perang tanpa akhir di suatu wilayah, penghancuran tempat suci, atau mungkin konflik kecil antar umat beragama sendiri. Apakah agama yang salah dalam hal ini? Ataukah pemahaman dan penafsirannya?  Seperti juga John Lennon menyanyikan sebuah lagu “Imagine”  di mana dikatakan “bagaimana dunia tanpa agama, tidak ada yang terbunuh dan mati karenanya”. Namun di akhir ia berkata, yang diinginkan adalah “peace” yaitu suatu kedamaian. Jadi agama yang bagaimana diperlukan di masa depan?

3. Agama yang Damai, Agama yang Pluralis.

Sebelum beranjak pada agama di masa depan, maka semua sepakat bahwa kata damai menjadi suatu yang didambakan oleh siapa pun. Konflik memang pasti terjadi karena manusia memiliki kepala sendiri-sendiri, namun jika itu terjadi pasti ada langkah bijaksana untuk menjadikan sesuatu lebih punya nilai yang baik. Jaman ini masih terjadi suatu agama memberikan pemahaman dengan jalan kekerasan serta mengambil ayat-ayat secara setengah-setengah, serta menganggap kebenaran itu ada padanya sendiri.

Ilmu pengetahuan memiliki peran tersendiri di sini untuk memberikan suatu pandangan yang berbeda terhadap konflik-konflik berdasarkan agama. Humanisme menjadi suatu kaca mata sendiri terhadap kekerasan tersebut. Ilmu pengetahuan hendaknya menjadi hal yang tidak dianggap sebagai penghambat agama, baiknya dianggap sebagai hal yang memajukan manusia itu sendiri.  Karena ada beberapa penganut (bukan agamanya) yang alergi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan ini. Tetapi masih menggunakan hasil pengetahuan itu.

Kedamaian hanya bisa hadir jika paham keeklusifan suatu agama bisa ditiadakan dengan memberikan suatu pemberian kebebasan atas keyakinan lain itu ada. Manusia itu lahir dengan perbedaan, bukan suatu kesamaan dari kelahirannya. Seperti juga pelangi yang berwarna-warni dan bukan pelangi jika hanya berwarna hitam atau biru saja. Kedamaian itu hadir dengan menelaah kembali ayat-ayat pada kitab suci masing-masing dan dipergunakan sebagaimana mestinya. Seperti misalkan ada ayat tentang “memotong kepala umat lain”, apakah ditafsirkan dengan memotong kepalanya? Mungkin saja bisa ditafsirkan dengan memotong ego sebagai isi kepala darinya.

Dalam Hindu sendiri, dikatakan memiliki kitab sruti dan kitab smerti. Kitab sruti adalah kebenaran sejati, di mana smreti dimaksudkan untuk berubah dan diaplikasikan seperti kasus hukum dengan perhatian besar terhadap setiap konteks untuk menetapkan aplikabilitas serta adaptasi yang diminta (hal 157, Morales,2006). Jadi disesuaikan dengan jaman serta kebutuhan yang ada. Dharma yang abadi (Sanatana Dharma) dari Hindu tersendiri, merupakan suatu yang memang menjadi tuntunan dan kewajiban bagi dunia sampai akhir jaman atau abadi.

Agama masa depan adalah agama yang memandang pluralitas sebagai sesuatu takdir, keharusan atau sesuatu yang dimaklumi. Agama yang mampu memberikan rumah bagi yang tertekan pada suatu kehidupan ini. Agama sebagai tempat pulang dari umat-umat yang memeluknya. Karena agama sebagai wilayah rumah Tuhan yang diyakini merupakan akhir dari perjalanan manusia, memberikan suatu kedamaian batiniah dari sisi negatif keinginan tidak terbatas manusia.

Kedamaian secara realita akan dicapai dengan memberikan pluralitas itu sebagai junjungan dalam beragama, sehingga paling tidak kekerasan dari suatu agama bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan. Jika kekerasan telah lenyap, maka suatu kesejahteraan akan lebih bisa terfokuskan. Katakanlah idealisme dari Marx tentang agama sebagai candu masyarakat dan masyarakat tanpa kelas, akan lenyap dengan kesejahteraan yang merata. Agama yang damai serta plural adalah jawaban bagi agama yang bermakna di masa depan. Seperti pula Hindu di Bali mengucapkan salam terakhir “Om santi, santi, santi, Om”.

 

 

Daftar Pustaka

Daniel L.Pals. 2011. Seven Theories of Religion. Penerbit IRCiSoD Jogjakarta cetakan pertama.  

Lyrics 007 .___ . John Lennon Lyrics, di website http://www.lyrics007.com/

Morales, Frank G dkk. 2007. Semua Agama Tidak Sama. Penerbit Media Hindu cetakan kedua. Editor Ngakan Made Mandrasuta

Wikipedia .__. Hedonism. di website http://en.wikipedia.org/wiki/Hedonism

Wikipedia. ___. Modern History.di website http://en.wikipedia.org/wiki/Modern_history

Wikipedia,___, Tuhan sudah Mati, di website http://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan_sudah_mati

Wikipedia,___, Axiology, di website http://en.wikipedia.org/wiki/Axiology

Wikipedia, ___, Agama, di website http://id.wikipedia.org/wiki/Agama

Wikipedia,___, Alienasi, di website http://id.wikipedia.org/wiki/Alienasi

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 14 September 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Pengelolaan serta Pemanfaatan Sampah (Upacara)

Pengelolaan serta Pemanfaatan Sampah Upacara

 A.Pola Pikir tentang Sampah (upacara)

Saat kita dihadapkan dengan kata sampah, maka yang ada dalam pikiran adalah kata “jijik” dan “kotor”. Hal itulah sebenarnya yang menyebabkan ketidakpedulian terhadap sampah itu sendiri menjadi meningkat. Padahal sampah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri, sebagai sesuatu hasil dari pekerjaan tertentu yang tidak bernilai atau ampas-ampas yang tidak digunakan lagi.  Sampah adalah keseharian hidup manusia, bahkan sampah adalah tidak terpisahkan pula pada hubungan dengan kekuasaan Ilahi itu sendiri. Seperti pula bagaimana Tri Hita Karana, yaitu Parahyangan, Pawongan, Palemahan.

Dalam hubungan yang selaras dengan lingkungan (alam) atau Palemahan, maka hendaknya disadari bahwa untuk menjaga suatu lingkungan agar tetap bersih dan senantiasa asri yang mencakup sebagai suatu kebersihan diri itu sendiri. Dalam mitos-mitos tentang Betara Kala, disebutkan bahwa saat itu Dewa Kumara dikejar-kejar dan lolos karena bersembunyi di dalam gundukan sampah. Maka Betara Kala pun mengutuk orang-orang yang membuang sampah sembarangan agar mendapatkan penyakit menular (www.balipost.co.id). Hal itu secara logika bisa dikatakan onggokan sampah adalah sumber penyakit yang membahayakan manusia sekitarnya. Di samping itu menurut pemahaman Tri Guna (Sattwam, Rajas, Tamas), maka manusia yang berlebihan dalam tabiat tamasnya, akan bersifat atau berkepribadian awut-awutan, tidak terurus, dan malas (http://www.hukumhindu.or.id/susila-dalam-agama-hindu/), hal ini sangat berhubungan dengan tingkat kepedulian kebersihan akan lingkungan itu sendiri.

Jika dilihat pada Tiga Kerangka Agama Hindu, maka Tattwa serta Susila diangkat atau dijalankan melalui Upacara. Upacara yang ada adalah sebagai bagian dari pembayaran tiga utang (Tri Rna) yaitu kepada Dewa, kepada Pitara, serta kepada Rsi. Dan kewajiban yang ada dalam pembayaran hutang itu, dijalankan dengan Panca Yadnya, yaitu Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Maka Panca Yadnya ini jika dilaksanakan memerlukan berbagai sarana-sarana, dalam hal ini adalah bebantenan itu sendiri.  Dan pada akhir dari upacara, maka lungsuran atau prasadam sisa upacara akan dinikmati oleh yang menghaturkan yadnya tersebut.  Hal ini seperti juga dikatakan pada Bhagawadgita sloka III-13 yaitu,

 

Bhagawadgita III-13

“yajna-sistasinah santo mucyante sarwa-kilbisaih,

Bhunjate te tw agham papa ye pacanty atma-karanat”

Artinya : Orang-orang baik yang makan sisa persembahan kurban akan terlepas dari segala dosa, tetapi orang-orang jahat yang mempersiapkan makanan hanya bagi dirinya sendiri, sesungguhnya mereka itu makan dosa”

Jadi pada intinya adalah bahwa sisa-sisa persembahan dari kurban jika dimanfaatkan sebenarnya akan terlepas dari segala dosa. Maka hasil dari upacara pun sebenarnya adalah akan menjadi suatu manfaat tertentu jika dengan sadar kita pahami bahwa tidak ada satu apa pun yang tidak bernilai, walaupun itu adalah dalam bentuk sampah.

Dalam Manawa Dharmasastra IV.56 juga disebutkan bagaimana hendaknya agar tidak membuang sampah sembarangan yang dijelaskan sebagai berikut :

Manawa Dharmasastra IV.56

Napsu mutram purisam wa sthiwanam wa samutrsjet, amedhya lipya     menyadwa lohitam wa wisaniwa”.

Artinya : Hendaknya ia jangan kencing atau berak dalam air sungai, danau, dan laut, tidak pula meludah, juga tidak boleh berkata-kata kotor, tidak pula melemparkan sampah, darah, atau sesuatu yang berbisa atau beracun.

Sloka ini juga menyarankan bagaimana baiknya untuk tetap menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah.

  1. Sampah Upacara serta Nilai yang Terkandung di dalamnya.

Dalam pelaksanaan upacara Yadnya, terdapat sindiran dari umat lain yang menyatakan bahwa cara persembahyangan umat hindu hanya menghasilkan sampah yang menggunung. Hal itu sebenarnya tidak dapat disanggah jika melihat berapa jumlah volume sampah sisa dari hasil upacara itu sendiri. Sebagai contoh pada berita di salah satu stasiun TV  menyebutkan bahwa sampah yang dihasilkan pada hari raya galungan adalah sebanyak 5000 meter kubik atau setara dengan 714 sampah yang diangkut oleh truk. Coba diperkirakan bagaimana pertambahan jumlah sampah pada hari raya yang lain. Memang dalam hal ini sudah dilakukan pembuangan sampah menuju TPA-TPA yang ada. Namun mari kita lihat bagaimanakah sampah-sampah yang ada di pantai misalnya, semakin tidak terlihat manis di mata.

Sebagai gambaran data biro pusat statistik yang menyebutkan bahwa di kawasan perkotaan baru 11,25 % sampah yang dihasilkan diangkut oleh petugas pemerintah, sisanya 63,35 % sampah ditimbun/dibakar, 6,35 % sampah dibuat kompos, dan 19,05% sampah dibuang ke kali secara sembarangan. Sementara itu, di kawasan pedesaan, sebanyak 19 % sampah diangkut petugas, 54 % ditimbun atau dibakar, 7% dibuat kompos, dan 20 % dibuang di kali sembarangan. Dari statistik di atas menggambarkan bahwa pengelolaan sampah secara salah sekitar 20% masih dilakukan, yang artinya sebagai cikal bakal penyakit (kutukan Bhatara Kala) serta sifat ketamasan. Namun jika diletakkan suatu pikiran bahwa sampah, dalam hal ini sampah upacara sebagai juga suatu yang dapat dimanfaatkan atau sebagai lungsuran(prasadham), maka sebenarnya sudah terdapat 7 % yang secara sadar menyebutkan sampah bisa bernilai guna sebagai pupuk kompos untuk melestarikan kehidupan serta lingkungan itu sendiri.

Sampah upacara pada dasarnya dapat dimasukkan sebagai sampah organik dan sedikit pula terdiri dari sampah yang anorganik. Sampah organik adalah sampah yang bisa terurai dan mudah membusuk, yang diantaranya sisa makanan, sayur, daun-daun kering, bunga, dan sebagainya. Pada upacara maka sampah organik adalah bunga, janur, buah, dupa, serta bagian yang bisa membusuk lainnya. Lain pula dengan sampah unorganik yang tidak dapat terurai. Sebagai contohnya adalah plastik, kertas, plastik mainan, kaleng, dan sebagainya (wikipedia). Pada intinya yang diperlukan untuk mendapatkan suatu nilai tambah dari suatu sampah adalah dengan melakukan pemisahan terdahulu antara sampah organik dan sampah unorganik tersebut.

Pemanfaatan sampah organik yang diubah menjadi pupuk yang juga bernilai tambah, adalah hal yang bisa dilakukan. Karena pada dasarnya penggunaan pupuk dari organik lebih bermanfaat dan mengurangi sifat-sifat kimiawi yang membahayakan daripada menggunakan pupuk kimia itu sendiri. Dan permintaan yang cukup tinggi di pasar, menyebabkan harga dari pupuk ini per kilonya mencapai Rp.10.000,00. Dan dalam jumlah banyak (sekitar 1 ton) harganya juga menyesuaikan menjadi Rp.5.000,00.  Pupuk juga bisa digunakan sendiri untuk perkebunan atau taman. Jadi nilai tambah dari sampah yang diyakini adalah nol, menjadi lebih bermakna secara ekonomis, serta bernilai pula dari sisi kebersihan dan menuju Bali go-green 2013 sesuai dengan program pemerintah.

Untuk awalnya, maka pemanfaatan sampah ini bisa dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut (Susetya) :

  1. Pengumpulan sampah organik : Semua sampah organik berbentuk dedaunan, sampah sayur, buah dikumpulkan. Untuk sampah yang berukuran besar, dipotong-potong terlebih dahulu agar bisa masuk ke dalam kantong plastik.
  2. Pemasukan sampah ke dalam kantong : Setelah selesai dipotong, secara bertahap masukkan sampah ke dalam kantong. Selanjutnya siramkan larutan promi secara merata. Masukkan kembali selapis sampah 10 cm, siramkan kembali larutan promi. Ulangi langkah sampai kantong plastik penuh.
  3. Inkubasi : Proses inkubasi dengan menutup rapat kantong plastik dengan tali plastik. Biarkan kurang lebih 3-6 minggu hingga kompos matang.
  4. Panen kompos : Setelah matang, bisa langsung digunakan. Namun untuk hasil lebih berkualitas, sebaiknya kompos matang dikeringkan, dicacah, dan diayak. Sehingga pupuk yang dihasilkan tidak berbau dan layak jual.

Jadi penggunaan atau pemanfaatan menjadi kompos adalah suatu yang termasuk dalam wilayah melestarikan palemahan (lingkungan), sebagaimana pula jika dilakukan secara profesional, maka akan menambah atau membantu perekonomian selain pula membantu pemerintah dalam mewujudkan lingkungan yang asri.

  1. Manfaat dari Budaya Pengelolaan Sampah

Sampah sebenarnya adalah suatu yang memiliki nilai jika bisa dilakukan pengolahannya menjadi sesuatu yang berguna. Dalam hal ini di daerah denpasar sendiri sudah berdiri bank sampah di jalan Noja. Sebagamana telah berjalan dua tahun (2010) dan menjadi tempat pengubahan sampah menjadi suatu yang bernilai ekonomis. Selain itu pula seperti namanya yaitu “bank”, ada sebagai tempat menabung sampah secara berkala, dan diuangkan sehingga bernilai ekonomis baik bagi yang menyetorkan sampah serta bagi yang manajemen yang mengelolanya.

Lain pula bagaimana pengembangan pengelolaan sampah di temesi. Di samping pula sebagai tempat yang memproduksi pupuk kompos serta biodiesel, Temesi juga mengambil bagian sebagai pusat pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang lebih indah baik itu di daerah Gianyar, atau keseluruhan Bali pada umumnya. Dan kompos yang dihasilkan di Temesi ini juga diperjualbelikan untuk memenuhi kebutuhan para petani secara keseluruhan.

Profesionalitas pengelolaan itu pun, bisa dicontoh dari sekeliling wilayah masyarakat, apakah itu banjar, desa, atau bisa dalam pengorganisasian tempat persembahyangan suatu daerah di Bali. Selain pula dibantu dari swasta, pemerintah untuk menunjang kebersihan serta keasrian seperti pula pemberdayaan desa adat itu sendiri.

Dalam suatu pola pikir masyarakat, maka sampah adalah dianggap sebagai suatu yang terpinggirkan dan menjadi posisi tersudut atau marginal. Padahal sampah dalam hal ini bisa jadi merupakan suatu anugerah pula bagi masyarakat itu sendiri. Baik itu seperti sampah sebagai akibat hasil dari upacara yang dilakukan oleh umat dalam melaksanakan prosesi panca yadnya-nya. Sekehendaknya adalah posisi marginal itu diberikan ruang pemikiran untuk menjadi suatu yang berguna di kedepannya. Manfaat untuk lingkungan dalam hal ini Bali itu sendiri adalah menjadi tujuannya.Di samping pula menyongsong Bali untuk menjadi Bali yang selalu bersih, aman, lestari, dan indah.

 

 

Daftar Pustaka

Arifin, Togar Silaban. 2008. Memaknai Nilai Ekonomis Sampah. Pada website http://togarsilaban.wordpress.com

Gede Dharma Putra. 2010. Upaya Mengatasi Pencemaran Lingkungan yang Berasal dari sampah, . Pada website http://kgdharmaputra.blogspot.com/

Handayani Trisakti. 2010. Dekonstruksi dalam Penelitian Cultural Studies. Pada website trisakti.staff.umm.ac.id/files/2010/03/Dekonstruksi1.pps

Kadjeng, I Nyoman, dkk. 1997. Sarasamuscaya (dalam teks Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna). Penerbit Paramita Surabaya.

Maswinara, I Wayan (penyadur). 1997. Bhagawadgita (dalam Bahasa Inggris dan Indonesia). Penerbit Paramita Surabaya.

Pudja G.,M.A. , Rai Sudharta, Tjokorda, M.A. 1996. Manawa Dharmacastra (Weda Smreti Compendium Hindu). Penerbit Hanuman Sakti Jakarta.

Putrawan. 2010. Permasalahan Sampah Sisa Upacara. Pada Website http://majalahhinduraditya.blogspot.com/

 

Susetya Darma,S.P. ____. Panduan Lengkap Membuat Pupuk Organik (untuk tanaman Pertanian Perkebunan). Penerbit Pustaka Baru Press.

Sumada Ketut. 2012. Pemanfaatan Limbah “Canang” (Bunga) di Pura. Pada Website http://ketutsumada.blogspot.com/

Syahyuti. 2011. Teori Dekontruksi Derrida. Pada website  http://kuliahsosiologi.blogspot.com/

___________. 2012.  Volume Sampah Galungan Setara dengan 714 Truk, www.balipost.co.id

___________.____. Susila dalam Agama Hindu. Pada website http://www.hukumhindu.or.id/

___________.____.  About Our Compost. Pada website http://www.temesirecycling.org/

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Agustus 2012 in agama, budaya

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Bersyukur bagaimana menjadi manusia…

Bagaimanakah makna bersyukur dalam kehidupan yang kita jalani ini?..di saat apa-apa yang dimiliki tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, di kala masalah menghadang tanpa tau jalan keluar..hmmmm..sebenarnya kita perlu melihat ke dalam diri ..bahwa apa-apa yang telah digariskan adalah sesuai dengan apa-apa yang telah kita lakukan (karma)….

Yaps karma….tapi apakah kita tahu bahwa sangat susah menjadi manusia..dengan itu kita hendaknya mengucapkan kata SYUKUR yang dalam ke hadapan-Nya…seperti disebutkan dalam beberapa sloka…

Sarasamuscaya 2…

Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumayaken ikang subhasubhakarma, kuneng panentasakena ring subhakarma juga ikangsubhakarma phalaning dadi wwang.

Di antara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk; leburlah ke dalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia.

Seperti juga pada :

Sarasasmuscaya 4.

Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasadhanang subhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika.

Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Dengan itu, cobalah untuk tetap bersyukur dalam menjalani segala kehidupan ini. Kenyataannya dengan selalu berbuat baik bagaimana pun kita. Secara otomatis maka dunia alam serta sang Mutlak akan memberikan karma yang baik ke depannya.

seperti pula yang saya dapat dari sebuah buku….bersyukur akan membuka pintu yang bernama sebuah keiklasan, dimana pintu itu menuju suatu jalan ke pada titik Kuasa Ilahi…dengan pintu syukur maka berpeganglah dan membiarkan nasib kita pada suatu sifat KEMUTLAKAN yang KUASA di alam ini…

Seperti yang terdapat dalam Sarasmuscaya 15…

Ikang kayatnan ri kagawayaning kama, artha mwang moksa, dadi ika tan paphala, kunang ikang kayatnan ring dharmasadhana, niyata maphala ika, yadyapin angena-ngenan juga, maphala atika.

Usaha tekun pada kerja mencari kama, artha, dan moksa, dapat terjadi kalanya tidak berhasil, akan tetapi usaha tekun pada pelaksanaan dharma, tak tersangsikan lagi, pasti berhasil sekalipun baru hanya dalam angan-angan saja.

Jadi setiap masalah apa pun itu sesungguhnya akan bisa diselesaikan jika suatu sikap syukur dalam menuju suatu perbuatan dharma(kebaikan) kelak dikemudian hari.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 4 Maret 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , ,

 
%d blogger menyukai ini: